Jumat, 10 November 2017

[Resensi: Telembuk - Kedung Darma Romansha] Menelusuri Jejak Pahit Kehidupan Sang Telembuk

Judul buku: Telembuk
Sub judul: Dangdut dan Kisah Cinta yang Keparat
Penulis: Kedung Darma Romansha
Penyunting: Dian Dwi Anisa
Pemeriksa aksara: Maria Puspitasari
Cover: Nugroho Daru Cahyono
Penata letak: Azka Maula
Penerbit: Indie Book Corner
Tahun terbit: Mei 2017
Tebal buku: 414 halaman
ISBN: 978-602-3092-65-9



BLURB

Roman ini menunjukkan keseriusan menjelajahi secara kritis pengalaman penulisnya di tanah tumpah darahnya sendiri. Memeriksa timbunan pengetahuan lokal dan mengartikulasikannya dengan bahasa etnografis pengalaman keagamaan dan godaan seksualitas sebuah hiburan. Yang suci dan profan, yang sakral dan banal bercampur membentuk cerita yang memikat.
Muhidin M. Dahlan

Novel Kedung Darma Romansha ini bercerita tentang dunia prostitusi, panggung dangdut, pergaulan para pemabuk dan tukang kelahi. Adegan seks dan kata-kata kasar bertaburan. Namun uniknya, novel ini tidak terkesan vulgar. Mengapa demikian? Saya rasa hal itu terkait dengan nada penulisan dan posisi narator. Narator berada pada posisi netral: dia tidak memberi penilaian moral apapun, baik dalam arti menghakimi perilaku tertentu, maupun sebaliknya, yaitu merayakan atau membela perilaku yang berada di luar standar moralitas yang menjadi pegangan mayoritas orang Indonesia. Di samping itu, penulis menaruh perhatian pada detail-detail penggambaran suasana, juga bahasa dan gaya pergaulan lokal, yang terkesan cukup realistis dan berbasis pada riset lapangan. Dengan demikian, lingkungan dan perilaku manusia yang diceritakan sekadar hadir sebagai sesuatu yang memang eksis, dan menarik sekali-sekali dilirik, serta dimasuki lewat dunia khayal sebuah novel. Mau dihakimi, dinikmati, atau sekadar diamati, itu terserah pembaca.
Katrin Bandel, kritikus sastra


RESENSI

Aan merupakan remaja belia yang telah empat tahun meninggalkan desanya untuk mesantren di Jogja. Namun ia selalu pulang ke Imdramayu setiap libur caturwulan tiba untuk melepas rindu kepada suasana desa dan teman-teman masa kecilnya yang nakal. Jika liburan tiba, ia akan pergi bersama teman-temannya untuk menonton dangdut dan tarling. Saat itulah Aan melihat Diva Fiesta sang bintang dangdut. Perhatian Aan begitu tersedot pada gadis itu, ia merasa mengenali sosok yang goyangannya mampu membuat hati para lelaki berdesir itu. Merasa penasaran ia pun mngajak Govar dan Kriting untuk membuntuti Diva dan memastikan kecurigaannya.
Dari sinilah kisah ini kemudian bergulir, rahasia-rahasia Diva dan kaitannya dengan menghilangnya Safitri perlahan mulai terungkap. Perjalan hidup Diva, kisah pilu Safitri, cinta Govar yang lama terpendam, kenangan Aan akan gadis yang pernah dipujanya, Mukimin dan cintanya pada Safitri yang timbul tenggelam, perasaan-perasaan yang muncul di benak mereka masing-masing, semua berkelindan dan membentuk jalinan cerita yang kian kelam, kian suram.
Akankah rahasia besar itu terungkap, akankah ada kebahagiaan bagi orang-orang yang telah mencicipi getirnya hidup ini?

------------------------------------------

Didorong oleh rasa penasaran saya akan nasib Safitri yang raib di akhir Kelir Slindet, saya pun mengejarnya hingga ke novel Telembuk. Konon kabarnya, segala jawaban dan penyelesaian akan nasib Safitri ada di dalam buku ini. Saya pun kemudian berharap kegelisahan dan kekepoan saya bisa terpuaskan melalui Telembuk.
Bagi kalian yang masih blank tentang apa sih telembuk dan slindet itu, seperti pertanyaan yang dilontarkan beberapa kawan saya saat mereka tahu saya membaca novel ini, akan saya sampaikan secara singkat saja. Telembuk adalah istilah lokal untuk pekerja seks komersial, sedangkan slindet adalah telembuk yang masih belia, dengan kisaran usia belasan. Nah... nah... jangan dulu buru-buru mengerenyit atau menuding karena mungkin siapa tahu jalan hiduplah yang membuat mereka begitu, seperti yang terjadi pada Safitri....

"Tidak apa-apa, Diva. Biar kamu tahu, bahwa hidup kadang dipaksa untuk melakukan dosa." ~ Mak Dayem (hlm. 71)

Ini adalah babak baru dari kehidupan Safitri. Bagaimana ia berusaha bangkit setelah dituding dan dijatuhkan oleh asumsi dan opini masyarakat. Ia kabur dari desanya, saat usianya masih 15 tahun, karena tak tahan dengan gunjingan, tekanan dan cibiran, serta orang-orang yang meninggalkannya sendirian. Tak ada penopang, tak ada pengayom. Bahkan orang tuanya sendiri sibuk berkubang dalam rasa malu. Bisakah dibayangkan ke mana anak gadis seusia itu pergi sendirian tanpa tujuan?

Dengan mulut kalian, kalian bisa mengubah nasib seseorang jauh lebih buruk. Itulah mulut. Kalian boleh tertawa. Menertawakan diri sendiri. Karena kesenangan kalian belum tentu menjadi kesenangan orang lain. ~ Safitri (hlm. 193)

Walau tahun beranjak, walau rezim berganti, nasib masyarakat Cikedung nggak ada perubahan. Pola kehidupan mereka masih sama seperti sebelumnya. Anak-anak gadis yang dianggap tak perlu sekolah tinggi, pernikahan dini, gaya hidup kaum lelakinya yang mendorong kaum wanita untuk menjadi TKW ke luar negeri, dan kebanyakan rata-rata akhirnya berujung pada perceraian. Perceraian di usia muda inilah yang mendorong para wanita yang nggak punya bekal pendidikan atau keahlian akhirnya memilih menjadi telembuk. Terpola. Terus menerus seperti itu sehingga lama-lama profesi telembuk dianggap wajar.

Meskipun novel ini merupakan lanjutan dari novel Kelir Slindet, tapi pembaca nggak perlu khawatir jika belum pernah membaca Kelir Slindet, karena di awal kisah Telembuk, ada ringkasan kisah awal Safitri dan Mukimin seperti yang dikisahkan dalam Kelir Slindet. Bahkan di dalam Telembuk diungkapkan juga beberapa adegan yang ternyata disensor dalam Kelir Slindet.
Yang menarik dan sejujurnya lumayan bikin saya mengerutkan kening adalah gaya narasinya yang berbeda dengan Kelir Slindet. Dalam Telembuk saya dilempar dari satu narator ke narator lainnya. Rasanya persis seolah saya sedang menelusuri jejak Safitri dan mendengarkan cerita orang-orang yang kemungkinan mengerti bagaimana nasib Safitri. Baru saya sadari bahwa, ya, saya dibuat seolah sedang memburu kisah Safitri dari satu orang ke orang yang lainnya. Sehingga kisah Safitri yang saya dapat bukanlah sebuah dongeng belaka dari seseorang yang serba tahu, tapi dari orang-orang yang telah, sedang dan pernah berinteraksi dengan Safitri.
Walau tetap saja saya merasa "intermeso" bagaimana para tokoh tiba-tiba muncul dan menggugat sang narator sedikit menggelikan, karena saya jadi sedikit meragukan kebenaran fakta yang telah diungkapkan oleh narator. Narator dalam Telembuk ini di mata saya nggak lagi seperti narator-narator di novel lain yang bisa sangat terpercaya kebenarannya, tapi menjadi orang biasa yang jika saya dengarkan ceritanya, saya masih meragukan benar nggak sih ceritanya???? Kirik!

Namun walau cerita tentang Safitri membuat saya ragu, lain halnya dengan latar yang disajikan dalam novel ini. Kedung Darma Romansha masih memberikan nuansa kedaerahan yang kental, masih menunjukkan dengan gamblang latar sosial masyarakat Indramayu dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Kultur yang mengemuka dalam novel ini terasa kuat dan membuatnya tampak sangat nyata. Ya, sekali lagi saya yakin ini bukan dongeng.

Pasti kalian ingin tahu siapa yang menghamiliku. Kenapa kalian harus tahu? Sepenting itukah aku bagi kalian? Lalu ketika kalian tahu siapa yang menghamiliku, kalian akan merasa puas? (hlm. 192)

Eng...ing...eng... coba bagaimana rasanya disinisin oleh tokoh utama cerita yang sedang kalian baca? >.< 
Di titik inilah saya merasa mulai malu pada Safitri, saya merasa telah melanggar privasinya karena telah mengintip kehidupannya, menelanjangi kisah asmaranya, dan terus menduga-duga siapa yang menghamilinya. Lalu... apa bedanya saya dengan masyarakat yang dengan lidah mereka telah menghakimi Safitri?
Saya bukan siapa-siapa yang bisa masuk ke dalam cerita dan menuntut keadilan bagi Safitri, kan?

Membaca novel ini pada akhirnya bukanlah untuk menghakimi Safitri, Mukimin, Carta, Mang Alex, Mak Dayem, Govar, Sini, Saritem, Sondak atau siapa pun juga. Membaca novel ini adalah masuk ke kisah panjang perjalanan seorang telembuk yang dikemas Kedung Darma Romansha dengan begitu naturalnya. Masuk berarti memahami, masuk berarti menjadikan rahasia dan liku kehidupan Safitri sebagai bagian dalam ingatan saya. Pilihannya adalah, menyimpannya untuk diri sendiri atau menyebarkan cerita ini kepada orang lain. Nah, jadi apakah kalian ingin mendengarkan kisah ini? 😏



Minggu, 29 Oktober 2017

[Resensi] Kelir Slindet - Kedung Darma Romansha

Judul buku: Kelir Slindet
Penulis: Kedung Darma Romansha
Setter: Ayu Lestari
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Maret 2014
Tebal buku: 256 halaman
ISBN: 9786020303567



BLURB

Kelir Slindet adalah sebuah potret kelam masyarakat desa yang terjebak dalam budaya dan mentalitas kemiskinan struktural: budaya dan mentalitas "pasangan Saritem dan Sukirman" yang telah melanggengkan kemiskinan, kejumudan, kemaksiatan, dan kemudaratan yang berkelindan dari generasi ke generasi. Keberhasilan Kedung Darma Romansha merekonstruksi "realita" kelam tersebut hanya bisa dicapai oleh penulis yang (pernah) menjadi bagian dari dan merasakan secara langsung ritme kehidupan mereka; di samping tentu saja yang memiliki kualitas emosional yang begitu terjaga dalam proses kreatifnya. Saya merasakan Romansha sebagai penulis muda yang sangat potensial dan dapat memberikan warnanya pada peta sastra Indonesia — Herry M. Saripudin Kepala Pusat Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Kawasan (P3K2) Asia Pasifik dan Afrika (Aspasaf), Kemlu, dan penikmat sastra.

Tidak banyak penulis novel sekaligus penyair, namun juga pemain teater yang tumbuh pasca generasi 80. Oleh karena itu, membaca karya Kedung Darma ini akan mendapatkan personalitas berceritanya yang tidak lepas dari latar belakangnya. Sebuah karya yang patut dibaca. — Garin Nugroho Sineas

Sebuah karya yang lahir dari perjalanan mata yang tidak hanya melihat. Rasa yang dalam, muncul dari tiap lembar kehidupan di sebuah kota kecil, yang penuh dengan kegetiran. Kita seolah dibawa ke sebuah dunia yang KITA sendiri, pembaca, yang mengalaminya. — Teuku Rifnu Wikana Aktor Film

Kedung Darma Romasha memang liar dan tengah menderita dendam. Dendam seorang santri pada tanah kelahirannya yang sangat ia cintai. Ia kerasukan, dan novel Kelir Slindet inilah yang menjadi saksinya. — Joni Ariadinata Sastrawan, Redaktur majalah sastra Horison dan ketua umum Jurnal Cerpen Indonesia

RESENSI

Safitri adalah gadis usia 14 tahun yang menjadi santri sekaligus artis kasidah pimpinan Musthafa di mushola milik Haji Nasir. Setiap kali Safitri berlatih kasidah, Mukimin, anak bungsu Haji Nasir, tak pernah melewatkan kesempatan untuk mengintip dari jendela samping mushola. Mukimin tergila-gila pada Safitri, teman sebayanya itu. Mukimin sendiri adalah pemuda urakan yang lebih sering bolos dan iseng luar biasa, tapi selalu saja jadi tolol kalau sudah berhadapan dengan Safitri.
Tak disangka, rupanya Safitri pun menyukai Mukimin. Mereka sering terlihat duduk berdua di dekat sungai walau tetap saja Mukimin kesulitan menyatakan cinta. Hingga Musthafa yang rupanya juga menaruh hati pada Safitri datang melamar Safitri. Takut kalah dari kakaknya, Mukimin pun akhirnya menyatakan cinta.
Sayang perjalanan kasih mereka harus terbentur status sosial. Ayah Mukimin melarang mereka berpacaran karena Safitri adalah anak seorang telembuk, seorang PSK. Ibu Safitri pun nguntap dan melabrak Haji Nasir. Sejak itu mereka dilarang bertemu. Hubungan mereka terputus. Safitri pun mengurung diri di kamarnya, dan Mukimin kabur entah ke mana.
Hingga suatu hari, Cikedung dikagetkan aksi Safitri yang naik ke panggung dan berjoget dangdut dengan hebohnya. Banyak yang menganggap Safitri stres lantaran ditolak Haji Nasir. Banyak yang mengatakan buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Tapi Safitri tak menggubris, ia makin gila-gilaan di atas panggung tarling dan dangdut.
Beberapa ustad datang untuk melamarnya, untuk membawanya kembali ke jalan yang benar, tapi Safitri menolak. Namun rupanya gadis itu menyimpan satu rahasia. Alasan mengapa ia berubah. Sesuatu yang kemudian membuat Cikedung gempar.

-------------------------------

Apa salahnya menjadi anak telembuk?
Apa salahnya jika anak telembuk jatuh cinta pada anak seorang kaji, yang sekaligus juga seorang kuwu?
Atau sebaliknya, apakah salah jika anak seorang kaji jatuh cinta pada anak telembuk?


Pertanyaan ini terus bergelung di benak saya sejak mulai membaca novel Kelir Slindet hingga menutup lembar terakhirnya. Banyak kerisauan dan penyesalan yang saya rasakan selama membaca novel ini. Beneran. Saya marah. Saya kesal. Saya sedih dan menyesal untuk Safitri. Betapa kejamnya masyarakat menjatuhkan vonis kepada seseorang, terutama jika seseorang itu adalah perempuan. Betapa orang-orang selalu berasumsi sendiri dan memandang hanya dari satu sisi; sisi yang berupa kepentingannya sendiri. Kan kirik.

Dalam novel ini, Safitri dan Mukimin adalah remaja usia 14 tahun yang tinggal di Cikedung, salah satu daerah di Indramayu. Peristiwa yang mereka alami terjadi di tahun 1997. Penggambaran settingnya benar-benar mendetail, bukan hanya dari yang tampak di mata, tapi juga yang berkaitan dengan indera pendengaran, penciuman dan yang terasa di pori-pori kulit. Narasi deskripsinya terasa sangat nyata. Bisa dibilang lokalitas dalam novel ini begitu kuat.

Saya sempat iri dengan Safitri dan Mukimin ketika mereka menjalin kasih hanya dengan duduk diam bersisian di tepi parit, dekat sebuah sungai dan persawahan. Mukimin yang urakan itu bisa juga jadi tolol di hadapan gadis pujaannya. Sementara Safitri yang lugu, malu-malu tapi dalam hatinya geregetan juga terhadap ketololan Mukimin. Sepasang muda-mudi yang cintanya harus terhalang status sosial.

Malang nian jadi Safitri dalam Kelir Slindet ini. Safitri terlahir dari rahim seorang telembuk, dan memiliki ayah yang pemabuk, penjudi juga doyan telembuk. Orang-orang dengan mudah melabelinya sebagai "anak telembuk"... nggak ada yang menyebutnya sebagai penyanyi khasidah padahal dialah vokalis utamanya.  Seolah nilai-nilai kebaikan nggak ada harganya di mata orang-orang. Semua orang lebih suka melihat sisi buruk seseorang dan menyebarkannya. Entah dengan tujuan apa, mungkin rasa iri, mungkin agar dirinya sendiri terlihat lebih baik, atau bisa juga karena kebodohan sehingga menelan semuanya mentah-mentah. Dari sini saya menganggap, Kedung Darma Romansha memotret dengan baik isu sosial yang sungguh benar adanya.
Ada orang sukses dianggap memakai pesugihan, ada orang cantik dan jadi idola diisukan memiliki susuk, ada satu keributan lantas beredar gosip yang macam-macam versinya. Capek nggak sih hidup di tengah masyarakat yang seperti itu wkwkwkk~

Tapi itulah Cikedung dalam novel ini, itulah yang harus dihadapi Safitri dan Mukimin.


Di antara semua tokoh yang sebenarnya sulit bagi saya untuk mencerna siapa saja mereka—karena sungguh banyak banget tokoh yang bermunculan dan saling berkaitan tapi saya susah mengingatnya—tokoh yang paling saya benci adalah Saritem. Ibu Safitri. Sebagai mantan telembuk wajar jika ia menginginkan kehidupan yang lebih bahagia bagi anaknya. Wajar jika ia berharap Safitri berjodoh dengan salah satu putra Haji Nasir. Tapi ketika harapan itu gagal, ketika Haji Nasir menolak Safitri karena Safitri adalah anak telembuk, bukannya sadar ia malah terus marah-marah dan menimpakan semuanya pada Safitri. Kenapa Safitri yang dimaki anak sial, anak tak tau diuntung, kenapa bukan pada dirinya sendiri ia memaki. Sekali lagi, sungguh sial banget jadi Safitri. Bukannya didukung ibunya sendiri saat seluruh masyarakat mencelanya, tapi si ibu malah sibuk sendiri karena merasa dipermalukan.
Maka jauh di dalam hati saya bersorak saat Safitri nekat. Saat Safitri akhirnya memilih jalannya. Menentukan apa yang diinginkannya. Walau perih dan memilukan. Sosok Safitri yang baru, yang terlahir dari nyinyiran mulut orang-orang usil, jika ia berdosa maka berdosalah juga orang-orang sok suci yang nggak berbuat apa-apa dan malah menyiramkan minyak ke dalam api.


Membaca Kelir Slindet ini terasa banget ada bagian-bagian yang hilang. Bagian-bagian misterius yang kemudian menimbulkan pertanyaan. Terutama siapa pelaku yang menghamili Safitri. Tentunya untuk menjawab segala pertanyaan itu, saya harus membaca Telembuk: Dangdut dan Kisah Cinta yang Keparat, yang konon merupakan novel lanjutan yang akan memberi pencerahan 😉

Jumat, 20 Oktober 2017

[Resensi] Si Bengis Mr. Danvers - Vivienne Lorret | Kala Si Bengis Luluh Menjadi Manis

Judul buku: Si Bengis Mr. Danvers
Judul asli: The Devilish Mr. Danvers
Serial: The Rakes of Fallow Hall #2
Penulis: Vivienne Lorret
Alih Bahasa: Debbie Hendrawan
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tahun Terbit: Juni 2017
Tebal buku: 336 halaman
ISBN: 9786020427768



BLURB

Untuk pertama kali dalam hidupnya, Hedley Sinclair dapat menentukan masa depannya sendiri. Dia mewarisi Greyson Park yang bobrok tapi kehancuran bangunan itu tidak menghalanginya. Tak akan ada yang mengurungnya lagi atau mencoba untuk mengambil benda miliknya. Tidak seorang pun kecuali Rafe Danvers—pria menawan dan seperti iblis dari Fallow Hall. Pria itu bertekad untuk menuntut Greyson Park, namun jika Hedley tidak berhati-hati, pria itu juga akan menuntut hatinya. 

Rafe sepenuhnya berniat untuk membebaskan Greyson Park dari cengkeraman tangan keluarga Sinclair untuk selamanya. Hal terakhir yang dia harapkan adalah bertemu dengan Hedley yang memperdaya—adik dari mantan tunangannya—menghalangi niatnya. Dengan tuntutan drastis, dia berencana untuk membuat gadis itu menikah agar bisa memegang kendali atas rumah itu. Satu-satunya masalah adalah, dia sepertinya tidak bisa berhenti untuk menggoda gadis itu. Bahkan yang lebih buruk lagi, dia mulai jatuh cinta….


RESENSI

Rasanya sudah cukup lama saya nggak membaca novel sampai berurai air mata lebih dari sekali. Iya sih saya gampang terenyuh, gampang mewek saat membaca adegan yang kena di hati, tapi saya nggak menyangka novel historical romance yang asal comot di Scoop ini bisa bikin saya termehek-mehek. Seorang teman penulis memang pernah bilang kalau novel ini bagusnya kebangetan, jadi saya selain karena tertarik dengan sinopsisnya akhirnya merasa penasaran juga untuk melahapnya.

Bisa dibilang ini adalah pengalaman pertama saya mencicipi karya Vivienne Lorret. Tadinya saya hanya berniat mengintip dulu pembuka ceritanya, tapi ternyata saya langsung dibuat terhanyut hingga sampai akhir kisah. Bagaimana tidak... sedari awal saya sudah dipertemukan dengan heroine yang menderita lahir dan batin karena telah dikurung bertahun-tahun di loteng oleh keluarganya, disembunyikan karena dianggap sebagai aib dan dengan tabah menerima perlakuan kejam ibu dan kakak perempuannya. Hmm... mungkin terdengar sedikit mirip cinderella ya? Tapi nggak kok, nggak ada pangeran tampan dan pesta dansa di kisah ini.
Justru sang hero adalah mantan tunangan kakaknya yang ditinggalkan begitu saja di altar. Bukan seorang pangeran tapi seorang seniman yang keluarganya juga dikucilkan oleh kalangan ton beberapa tahun terakhir.
Jadi mereka sama-sama orang tangguh yang dengan tegak menghadapi tuduhan sosial yang diarahkan pada mereka masing-masing.

Adegan pertemuan keduanya sungguh luar biasa bagi saya. Bagaimana Hedley Sinclair masih mengingat dengan jelas siapa pria di depannya, membawa ingatannya pada kenangan indah yang pernah diberikan Rafe Danvers, meski Rafe tak menyadarinya. Ya. Rafe nggak menyadari siapa Hedley pada awalnya.
Pertentangan batin Rafe merupakan hal yang paling menarik bagi saya. Sedari awal ia telah dibuat bingung antara harus memilih nalar atau perasaannya. Kebenciannya pada keluarga Sinclair toh tetap luruh karena kepolosan Hedley. Beberapa kali ia berusaha kembali pada kecurigaan, walau pada akhirnya ia menyerah dan mengakui Hedley tidaklah sama dengan kakaknya.

Apalah arti sebuah historical romance tanpa kebajinganan (wait... diksi apa ini? 😂). Well, maksud saya, semakin bajingan si tokoh pria, saya biasanya semakin suka. Jadi ketika Rafe punya rencana yang sedikit busuk saya bersorak dalam hati. Rafe ingin menang dalam taruhannya dan ia ingin menyingkirkan Hedley dari propertinya, maka ia membuat rencana perjodohan untuk Hedley. Daaan.... bisa ditebak dong, kalau rencana itu bakal jadi senjata makan tuan. Semua orang bisa menebak kok, termasuk saya, kecuali Rafe sendiri, bahwa dia bakalan kebakaran pantat karena cemburu melihat intimnya Hedley dan Montwood.
Oh iya, selain chemistry Hedley dan Rafe yang penuh percikan-percikan gairah, asmara, hasrat, dan apalah-apalah yang sejenisnya, chemistry Hedley dan Montwood juga terasa pas deh. Saya menangkap mereka berdua seolah memiliki frekuensi kesenduan dan kekelaman yang sama.

Bicara tentang karakter, saya langsung jatuh cinta pada Hedley. Gadis ini bukan tipe gadis keras kepala yang menyebalkan, juga bukan gadis yang malu-malu tapi nemplok juga. Hedley cerdik, pengamat yang jeli, jujur, polos dan dia tahu apa yang dia mau. Hedley nggak malu-malu untuk mengungkapkan apa yang dirasakannya serta apa yang diinginkannya. Mungkin dia sagitarius sama kayak saya #halaaah
Rafe juga nggak menyebalkan banget. Yang pasti dia penyayang dan sweet dengan caranya sendiri. Bikin saya meleleh dengan tindakan-tindakan spontannya terhadap Hedley, dan bikin saya pengen getok kepalanya tiap kali mulai membentengi diri dan kekeuh kembali ke rencana semula.

Banyaaaak banget adegan super manis di novel ini. Salah satunya yang paling saya suka adalah ketika Calliope, yang baru saja bertemu dan berkenalan dengan Hedley, membela Hedley yang disakiti kakaknya. Aih... aih... ini adegan yang bikin saya mbrebes mili karena akhirnya Hedley merasakan apa artinya memiliki 'keluarga' walau itu terwujud dari seorang teman yang tetap berdiri mendukungnya.
Saya juga suka bagaimana Rafe membantu Hedley mengatasi trauma dan ketakutannya terhadap kuda dan kereta kuda. Bagaimana Rafe selalu ada di sana saat Hedley berada dalam situasi paling rapuh.

Sayangnya ending novel ini terasa terlalu cepat diselesaikan. Padahal mengikuti naik turunnya konflik antara Hedley-Rafe dan terutama Hedley-Ursa, saya pengin sesuatu yang lebih memuaskan hati. Setidaknya misalnya Ursa ketimpa reruntuhan Greyson Park atau apalah. Oke... um.. itu sadis sih, tapi setidaknya saya ingin sesuatu pembalasan yang setimpal bagi Ursa dong. Wkwkwk~~
Well, secara keseluruhan novel ini bikin saya puas bacanya. Sukaaakkk banget nget. Buat kalian yang suka novel dengan tema-tema semacam kita-musuh-tapi-saling-tergila-gila-tapi-itu-nggak-mungkin-tapi-aku-nggak-mau-kehilangan-tapi-ya-gimana-dong, saya rasa novel ini akan cocok buat kalian.

Rabu, 11 Oktober 2017

[Resensi] Kabut di Bulan Madu - Zainul DK

Judul buku: Kabut di Bulan Madu
Penulis: Zainul DK
Penyunting: Nisaul Lauziah Safitri & Zainul DK
Pendesain Sampul: Hanung Norenza Putra
Penerbit: Ellunar Publisher
Tahun terbit: Agustus 2016
Tebal buku: 249 halaman
ISBN: 978-602-0805-73-3



BLURB

Tersangka kasus penembakan di sebuah kafe yang menewaskan seorang preman adalah Roby. Ia melakukan penembakan itu karena tak terima kekasihnya, Linda, diganggu. Ia pun berhasil ditangkap oleh Inspektur Ariel untuk menjalani hukuman penjara. Tidak sanggup melihat sang kekasih bersedih mengetahui dirinya dijebloskan ke penjara, Roby menyuruh Linda untuk berlibur menaiki kapal pesiar mewah.

Di sisi lain, ada pasangan yang baru menikah hendak berbulan madu : seorang penyiar berita bahasa Jepang, Helena Lizzana, dan pria keturunan Jepang-Timur Tengah, Ihdina Shirota. Mereka berencana menikmati momen indah itu dengan naik kapal pesiar.

Pasangan muda tersebut berada dalam satu kapal pesiar yang sama dengan Linda. Tak disangka terjadi musibah : kapal pesiar itu menabrak karang dan karam. Dari hasil evakuasi, dinyatakan bahwa hanya ada satu korban jiwa meninggal, yaitu LINDA!

Memperoleh berita nahas ini, Roby tentu saja tidak terima. Menurutnya, ada keanehan yang menyebabkan kekasihnya saja yang menjadi korban. Ia percaya seseorang sengaja membunuh Linda. Ia pun menyusun rencana untuk kabur dari penjara, dan mencari tahu siapa pembunuh sang kekasih. Inspektur Ariel mesti mati-matian mencegahnya!


RESENSI

Awalnya saya tertarik dengan novel ini karena judulnya yang serasa jadul-jadul gimanaaa gitu. Jelas saja, di tengah maraknya judul novel yang menggunakan frase atau kata yang berenglish-english ria, judul novel ini yang Indonesia banget tentunya menarik minat saya. Harus diakui kan, novel-novel pop masa kini tentunya lebih memilih menggunakan kata honeymoon dibanding bulan madu sebagai judul. Mungkin agar lebih terdengar manis, atau biar terkesan romantis, padahal ya sama aja *putar bola mata* Ini bukan nyinyir tapi yaa... wkwkwk~~
Yaaa pokoknya gitu deh, saya tertarik karena judul dalam bahasa Indonesianya.

Selain itu penulisnya sendiri menjanjikan bahwa novel ini bukan novel roman biasa. Bukan cuma mehek-mehek cintrong-cintrongan, tapi juga berbalut thriller. Wah...Wah... Serius?? Saya yang di kala itu sedang dalam titik jenuh membaca novel roman akhirnya mengiyakan dengan harapan mood baca saya membaik.
Then... benarkah sesuai harapan? Mari saya tumpahkan. *tarik nafas panjang*

Saya mengawali membaca Kabut di Bulan Madu ini beberapa pekan yang lalu, dengan harapan yang cukup tinggi. Sayangnya baru beberapa bab saya baca, putra sulung saya mengalami musibah kecelakaan kecil, begitu urusan jahitan dan drama kaki benyek selesai, giliran putra bungsu saya yang sakit. Satu sembuh, yang satu nyusul sakit... begitu terus hampir selama satu bulan lebih. Capek jiwa raga membuat saya menyingkirkan dulu novel ini. Setelah penyakit jauh-jauh, eladalah sekolah kok ya udah masuk masa PTS, jadilah dua pekan saya pontang-panting memanage jadwal ngajar yang penuh sesak, dan lagi-lagi saya pasrah nggak bisa menyentuh bacaan.
Tapi alhamdulillah yaa... walau berjeda lumayan lama, kok ya saya masih ingat jalinan cerita pembuka novel Kabut di Bulan Madu. Bisa jadi ini karena premisnya lumayan sedap bagi saya, walau tetap saja terasa kurang matang. Kayak telur setengah matang yang berenang di ind*mie kuah begitulah.

Novel ini menggunakan latar fiktif yakni sebuah kota bernama Jeyakarta, yang tetap saja gambaran serta nuansanya terasa persis dengan ibukota negara Indonesia. Namun tentunya ada yang menjadi pembeda dong, alkisah diceritakan dalam novel ini bahwa salah satu stasiun televisi di kota tersebut memiliki program acara berita berbahasa Jepang. Wow keren yak. Entah apa alasannya stasiun televisi ini kok dirasa perlu membuat tayangan news berbahasa Jepang, saya nggak mendapat kejelasan juga. Namun rupa-rupanya program acara ini konon sangat populer karena ternyata orang-orang banyak yang mengenali sang penyiar beritanya, di manapun ia berada. Dari supir taksi hingga mbak-mbak pegawai kapal pesiar semua bisa mengenali. Mungkin bisa dibilang sepopuler Najwa Shihab gitu kalik ya. Yang jelas sepanjang cerita saya perlu berkali-kali dijelaskan kalau Helena ini adalah jurnalis. Ya mungkin saja jaga-jaga siapa tahu ditengah cerita saya amnesia. Yha.



Saya lumayan terusik dengan gaya narasi dalam novel ini. Saya mengamati bahwa verbanya ditulis tanpa imbuhan dan hampir nggak ada bedanya dengan dialog yang diucapkan para tokoh. Saya memang lebih menyukai narasi yang dipaparkan dalam bahasa baku, tapi saya juga oke oke saja dengan narasi yang kasual asalkan kalimatnya jelas susunannya, jelas mana induk kalimat dan anak kalimatnya.

Sang komandan berinisiatif interogasi wanita yang diketahui bernama Linda, pacar pelaku, di tengah ruang tamu. (hlm. 9)

Pada kalimat tersebut, jelas kita tahu kata "interogasi" merupakan sebuah nomina, untuk membentuknya menjadi verba tentunya diperlukan sebuah afiks. Bukankah "menginterogasi wanita" terdengar lebih tepat sebagai sebuah kalimat? Banyak sekali kalimat dengan kata tanpa prefiks semacam ini yang saya temui, membuat penyampaian plot dan aksinya terasa kurang nyaman untuk dibaca. Bisa dibilang saya serasa sedang membaca sinetweet yang biasa menyunat afiks karena keterbatasan karakter.

Pengkarakterannya sendiri masih mengambang. Tokoh-tokohnya masih memiliki "suara" yang sama dengan gestur yang masih mirip satu sama lain. Mestinya satu-dua tokoh saja yang konyol atau yang suka bercanda garing. Satu-dua tokoh saja yang bakat menggombalnya masih versi jadul. Satu-dua tokoh saja yang narsisnya nggak ketulungan. Satu tokoh saja yang gemar bikin puisi melow. Sehingga pengkarakterannya bisa unik berciri khas masing-masing, stabil juga konsisten hingga akhir cerita.

Dialog dalam novel ini masih kurang hidup karena gaya bicara tiap tokohnya masih seragam. Shirota memang menggunakan bahasa campur aduk Indonesia, Jepang dan Arab demikian juga dengan Helena yang sering pamer bahasa Jepang entah yang diajak bicara paham atau enggak, tapi toh gaya suaranya tetap sama. Terlebih penggunaan kata-kata indah dan puitis dalam dialog yang mereka ucapkan juga seolah salah tempat. Hal ini juga pastinya mempegaruhi chemistry antar tokohnya yang terasa hambar, meski saya berusaha diyakinkan setengah mati melalui narasi bahwa mereka pasangan romantis.
Ini dikarenakan gaya narasi aksinya yang lebih menekankan tell yang terasa hiperbolis. Ratusan kali saya dicekoki bahwa pasangan-pasangan ini romantis. Seolah tindakan saja belum cukup, penulis sepertinya merasa masih perlu menambahkan kata romantis di setiap penjelasan aksinya.

Alur ceritanya sendiri mulai lambat dan cukup membosankan di tengah cerita. Tindakan Helena diceritakan terlalu detail padahal akan lebih baik jika pembaca dibuat penasaran dan bertanya-tanya, cukup berikan saja satu dua informasi sekadarnya. Beberapa dialog antara Roby dan pengacaranya, juga dialog antara Helena dan Shirota terasa bertele-tele dan berputar-putar. Terasa dipanjang-panjangkan dan basi. Justru detail yang berkaitan dengan hukum yang mestinya bisa menumbuhkan minat pembaca atau menambah misteri malah diskip dengan narasi.
Namun menuju ke akhir, kisah ini mulai enak dinikmati ketegangannya. Cukup seru lah.

Bisa dibilang lebih banyak kekonyolan yang ditampilkan oleh novel ini. Ketegangan aksi dan thrillernya hanya secuil. Sangat disayangkan padahal menurut saya ide ceritanya sangat menarik dan akan menegangkan jika dieksekusi dengan lebih baik. Well.... akhir kata, membaca novel ini merupakan sebuah pengalaman yang bikin saya cengar-cengir geje karena menghadirkan twist yang unpredictable di endingnya. Wkwkwkk~~

Selasa, 26 September 2017

[Resensi: Skandal Sang Governess - Courtney Milan] Adu Tekad Serigala dan Governess

Judul buku: Skandal sang Governess
Judul asli: The Governess Affair
Series: The Brother Sinister #1,5
Penulis: Courtney Milan
Alih bahasa: Eka Budiarti
Desain sampul: Marcel A.W
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2016
Tebal buku: 168 halaman
ISBN: 978-602-03-3358-8



BLURB

Ketika reputasinya dihancurkan oleh seorang duke, Serena Barton tidak menyerah. Terlebih ketika ia kehilangan pekerjaan sebagai governess, tanpa kenal malu dan takut, ia menuntut kompensasi dari sang duke. Ternyata, bukan sang duke yang membuat Serena gentar, melainkan pengelola bisnis pria itu, sang Serigala Clermont, yang ditunjuk untuk menangani Serena.

Hugo Marshall pria yang sangat kompeten dalam pekerjaan. Masalah dalam wujud governess yang suka mengganggu hanya soal kecil. Sayangnya, cara baik-baik tidak mempan untuk Serena. Hugo memutar otal, tapi semakin ia mengenal Serena, semakin sulit ia menemukan cara paling tepat untuk menaklukkan sang governess...

RESENSI

Sekali lagi Hugo Marshal harus membereskan masalah yang dibuat oleh Duke of Clermont. Kali ini sang duke bukan saja membuat sang duchess kabur—yang kemungkinan bisa berakibat fatal pada keuangan dan masa depan Hugo—tapi juga membuat marah seorang governess keras kepala. Hugo tahu, ia harus segera membereskan apapun tuntutan yang dibuat sang governess sementara Clermont pergi mengejar dan membujuk duchess-nya.
Sayangnya Serena Barton bukanlah wanita yang mudah digertak. Kekuatan tekadnya untuk tak mudah kalah membuat Hugo harus mengakui ia mendapat lawan yang sepadan. Perlahan, hatinya bertentangan, antara menunaikan kewajiban dan memuaskan hasratnya sendiri.
Saat akhirnya Hugo mengetahui skandal yang sesungguhnya sedang ia hadapi, semua sudah terlambat. Hugo harus bertempur, menyingkirkan Serena demi meraih mimpinya atau harus rela kehilangan lima ratus pound dan menyerah kalah pada hantu masa lalunya.

-------------------------

 "Menikahlah denganku." 
"Aku sedang bertanya-tanya kapan kau akan mulai mengancamku dengan nasib yang lebih buruk dibandingkan kematian. Selamat, Mr. Marshall. Sekarang aku benar-benar takut."(hlm. 73)

Cukup lama waktu berselang sejak saya menuntaskan membaca novella pembuka serial The Brother Sinister dan mengulasnya di sini. Bagaimanapun juga saya akui, mood baca novel romance saya lumayan merosot tajam, bahkan bisa dibilang nol. Untunglah buku-buku sastra masih bisa memuaskan hasrat membaca saya, meski saya harus susah payah mereviewnya.
Novella Skandal Sang Governess ini tadinya hanya buku asal comot di timbunan sebagai teman saya berada di ruang tunggu puskesmas. Sebulan ini, saya memang terlalu akrab dengan puskesmas karena kedua putra saya bergiliran jatuh sakit. Saya pun berhasil menuntaskan novella ini sambil menunggu hasil cek darah putra saya. Courtney Milan memang seorang pencerita yang handal karena sanggup membawa saya larut ke dalam dunianya dan memudarkan kecemasan saya.

Diceritakan dengan berlatar di London pada tahun 1835, The Governess Affair menyajikan plot yang menarik. Sedari awal sudah muncul ketertarikan di antara kedua tokoh utamanya yang terasa manis tapi juga ironis, karena masing-masing harus berperan sebagai pihak yang bertentangan.

"Kau paham benar apa yang terjadi. Kita salig tertarik, dan itu menyusahkan." (hlm. 79)

Novella ini murni hanya mengulik kisah asmara antara sang hero dan heroine-nya saja tanpa hal yang menarik di mata saya. Berbeda dengan novella pembuka serial ini, A Kiss for Midwinter, yang menampilkan lika liku sang hero yang berprofesi sebagai dokter.
Dalam Skandal sang Governess ini, Hugo yang merupakan pengelola bisnis milik seorang duke pun tak terlihat mencolok dalam profesinya, begitu juga dengan Serena yang tadinya adalah seorang governess. Namun bukan berarti novella ini menjadi kurang kuat, justru naik turunnya hubungan antara Hugo dan Serena membuat saya nggak sanggup untuk berhenti membaca hingga tuntas.

Courtney Milan selalu bisa membuat satu adegan simple yang manis dan menyentuh. Dalam buku tipis ini, ada dua adegan yang membuat saya jatuh hati pada Hugo dan Serena; yang pertama adalah reaksi yang muncul ketika Hugo menyiksa Serena saat hujan lebat, dan yang kedua adalah malam pertama mereka saat Hugo dan Serena saling bertukar jepit permohonan. Aih... aih.... sungguh saya dibuat meleleh oleh pasangan ini.

Bagian yang paling menarik disajikan dalam epilog: Penutup & Permulaan. Memang salah saya sendiri yang melewatkan membaca buku pertama serial Brother Sinister dan langsung membaca novella yang terhitung sebagai buku ke 1,5 ini, sehingga saya jadi penasaran akan bab epilognya. 
Yah... mungkin ini tandanya saya harus membaca buku pertama serial ini sesegera mungkin. Bulankah begitu? 😅

Senin, 04 September 2017

A 1000-book Reading Challenge for Children | Let's Read One Bedtime Story Everyday With Children



Memasuki bulan September yang konon adalah bulan yang ceria, tiba-tiba terlintas sebuah ide di kepala saya. Ide ini memang nggak orisinil karena terinspirasi dari 1000 books montessori dan juga kabar dari seorang kawan di negara seberang yang menceritakan betapa serunya kegiatan-kegiatan bagi balita di perpustakaan daerah mereka.

Hal-hal tersebut yang akhirnya membuat saya tergerak untuk membawa kegiatan membaca saya bersama anak-anak ke blog nurina mengeja kata. Kegiatan reading challenge ini juga upaya agar blog saya nggak berdebu karena blogging slump yang melanda saya beberapa bulan terakhir ini 🙈 Well, tentunya juga dengan niat untuk mendokumentasikan apa saja yang sudah kami baca bersama. Karena berdasarkan pengalaman saya selama ini, banyak hal-hal menarik dan lucu yang terjadi selama proses reading bersama mereka.

Untuk aturan dan pelaksanaannya (insyaallah) ini yang akan saya lakukan 😅 :

1. Membaca buku anak apa saja bersama-sama dengan anak, di jam yang sama setiap harinya. Tidak menutup kemungkinan membaca lagi buku yang pernah dibaca selama reading challenge ini.

2. Untuk buku tebal yang terdiri dari beberapa cerita, saya akan membacakan satu kisah per satu harinya kepada anak-anak. Sehingga bisa saja satu buku diselesaikan dalam beberapa hari. Mengingat pada prinsipnya RC ini boleh melakukan pengulangan membaca buku yang sama, maka hitungan untuk buku yang telah dibaca pun akan mengikuti banyaknya cerita.
Misal: Dalam satu buku anak terdapat 10 cerita, maka juga akan dihitung telah membaca buku sebanyak 10 kali.

3. Di akhir membaca buku untuk anak, saya akan mengajak mereka berdiskusi tentang isi buku, menggali pemahaman dan empati mereka serta menjawab semua pertanyaan yang muncul.

4. Memposting review atau kesan setiap kali selesai membaca satu buku atau secara berkala (setiap 10 buku/setiap satu minggu sekali).

5. Membuat update RC setiap mencapai kelipatan 100 buku.

6. Waktu pelaksanaan reading challenge ini bisa dimulai kapan saja dan berakhir setelah tercapai 1000 buku.

Semoga saja reading challenge ini sukses sampai di tujuannya, dan semangat saya untuk update nggak kendor di tengah jalan. Wkwkwk~~ Bagi teman-teman yang mau ikutan membaca bersama anak/adik/keponakan/murid atau bahkan anak tetangga boleh saja lho, tinggalkan saja comment di postingan ini. Yuk kita seru-seruan membaca bersama generasi masa depan Indonesia agar mereka melek literasi sedini mungkin 😉

Jumat, 28 Juli 2017

[Resensi] Para Bajingan yang Menyenangkan - Puthut EA

Judul buku: Para Bajingan yang Menyenangkan
Penulis: Puthut EA
Penyunting: Prima S. Wardhani
Desainer sampul: R. E. Hartanto
Penata isi: Azka Maula
Penerbit: Buku Mojok
Tahun terbit: Desember 2016 (cetakan pertama)
Tebal buku: 178 halaman
ISBN: 978-602-1318-44-7



BLURB

Sekelompok anak muda yang merasa hampir tidak punya masa depan karena nyaris gagal dalam studi tiba-tiba seperti menemukan sesuatu yang dianggap bisa menyelamatkan kehidupan mereka: bermain judi.


RESENSI

Sahabat yang paling dikenang pastilah sahabat yang telah menjalani suka dan duka bersama-sama. Laiknya filosofi mangan ra mangan asal kumpul yang dipegang erat oleh sebagian masyarakat Jawa, teman yang hadir dan tetap ada dalam keadaan susah atau senang, sedang bisa makan atau tidak, memang akan selalu membekas di hati. Demikianlah yang terjadi pada enam orang pemuda yang secara tak sengaja; mungkin karena campur tangan takdir, atau mungkin karena tuhan mahagayeng, bertemu dan membuat sejumlah "kekacauan" di jagat perjudian.

Kisah yang dialami para bajingan yang menyebut diri mereka (yaitu Puthut, sahabat Puthut, Bagor, Kunthet, Proton, dan Babe) sebagai Jackpot Society ini berlatar di Yogyakarta sekitar tahun 90-an. Seperti yang dinarasikan dalam buku ini dengan cara yang menarik:

Sebagai perbandingan, ketika cerita ini terjadi, harga seporsi kepala tongkol warung padang "Untuang" di Terban adalah 3.000 rupiah. Harga seporsi pecel lele di tenda kaki lima: 1.500 rupiah. Harga rokok Gudang Garam International dan Djarum Super kurang lebih 2.000 rupiah. (hlm. 10)

Siapa yang tidak akan bernostalgia membacanya? Rasanya emosi menjadi lebih tergugah dan terkoneksi dengan paparan harga-harga barang yang terasa akrab pada masa itu, dibanding jika Puthut EA sekadar menulis angka tahun.
Membaca buku ini seakan pembaca sedang dibawa menyusuri lorong waktu, mundur kembali ke Yogyakarta beberapa tahun silam. Saat judi masih marak, saat beberapa sudut kota pelajar ini juga menghadirkan hiburan yang membuat para bajingan kedanan mengadu untung. Untung menang dan untung kalah. Karena bagaimanapun juga, bagi masyarakat kota ini, lucunya, mereka selalu melihat hal yang bisa dianggap untung dalam suatu kesialan atau kerugian. Sama seperti para tokoh dalam Para Bajingan yang Menyenangkan yang masih bisa tertawa cengengesan walau kalah judi dalam jumlah besar.

"Kalau menang sok-sokan, kalau kalah berteori. Kalian ini penjudi apa doktor?" (hlm. 9)

Ada tiga bab dalam buku ini yang membagi potongan kisah dengan jelas. Yang pertama adalah bagian gila-gilaannya para Jackpot Society dalam Kami Tak Ingin Tumbuh Dewasa. Cerita-cerita konyol saat mereka menang dan kalah judi, bagaimana usaha mereka agar menang judi, orang-orang yang mereka kenal selama menjadi penjudi dan ragam kekacauan yang pernah mereka buat. Kisah menegangkan ketika mereka sempat dicegat beberapa preman, juga kisah keisengan-keisengan yang mereka lakukan di kantin bonbin. Ya, kantin fakultas sastra UGM yang terkenal dan melegenda itu. Di sanalah para bajingan ini menghabiskan waktu dan membuat beberapa kegemparan. Tentu saja yang muncul adalah cerita-cerita lucu yang bisa membuat pembaca ngakak terpingkal-pingkal. Banyak sekali tingkah polah mereka yang bisa membuat geleng-geleng kepala. Hingga salah satu dari mereka harus pergi, meninggalkan anggota Jackpot Society lainnya dalam duka. Kesedihan itu ada, kehilangan itu nyata. Maka kenangan akan sahabat yang abadi dalam ingatan itu kemudian semakin dikekalkan pula di dalam buku ini.

Bagian kedua adalah kisah yang tak kalah konyol tentang salah satu anggota Jackpot Society yaitu Bagor yang dituangkan dalam bab Bagor: Setelah Dua Puluh Tahun. Rupanya kekonyolan masih tetap berlanjut. Seorang sahabat boleh saja telah pergi, tapi hidup tetap harus berjalan, gojek kere tetap harus ditegakkan. Bahkan bila itu artinya Bagor menjadi sasaran keisengan Puthut yang tiada habisnya. Tapi itulah teman. Seseorang yang bisa diajak iseng atau malah jadi korban iseng dan balas mengisengi kita, yang bebas menyumpahkan serentetan kata: asu, bajingan, jembut, dan masih tetap bisa kita tertawakan. Ya, selain berisi para bajingan rupanya buku ini pun mengandung banyak kata pisuhan alias makian yang mengalir lancar dalam dialog yang dilakukan para tokohnya. Membuat tertawa, membuat mengelus dada dan membuat ingin balas memaki.

Di bagian epilog, hadir Sekilas Kenangan yang memang benar-benar selintas; tak banyak, tapi menutup dengan apik. Cukup untuk membuat merenung, akan arti persahabatan dan arti kenakalan masa muda. Benarkah bermain judi telah menyelamatkan hidup mereka?
Namun selain itu, tentu saja ada pesan yang lebih menancap dan sangat penting tentang buku ini di bagian epilog:

"Bukune situ yang tentang dunia perjudian kita, bisa saya dapatkan ndik toko buku mana, Bung?"
"O ya ndak bisa didapatkan di toko-toko buku, Bung..."
"Lha kenapa je?"
"Soalnya mempropagandakan hidup yang tak bermoral dan cenderung tolol."

Sangat jelas bukan pesannya?

Membaca buku ini memang hanya bisa ngikik, ngakak dan ngekek. Diceritakan dengan gaya lugas yang jujur apa adanya. Dialog yang selengekan khas dagelan mataraman, dan tentunya banyak menggunakan kosakata bahasa jawa. Meski begitu tak perlu khawatir karena di bagian belakang akan ada glosarium untuk memandu pembaca yang kesulitan memahami bahasa ini. Memang cukup repot sedikit tapi seandainya gojek kere dalam buku ini diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, mungkin ndagel-nya akan kehilangan nyawanya. Namun harus diakui, Para Bajingan yang Menyenangkan memang pantas untuk disebut novel paling bajingan tahun ini.
 

Nurina mengeja kata Published @ 2014 by Ipietoon