Senin, 26 September 2016

[Resensi] Holding His Forever - Alexa Riley

Judul buku: Holding His Forever
Penulis: Alexa Riley
Penerbit: CreateSpace Independent Publishing Platform
Tahun terbit: Juli 2016
Tebal buku: 156 halaman
ISBN: 1537157132



BLURB

Derek aka Phoenix is a New York City firefighter and has dedicated his life to saving people. When he loses two of his men in the line of duty, he doesn’t know if he’ll be able to see the light again.

However, when an angel in the form of a woman named Fia appears before him, his world as he knows it is turned upside down. 

Fia has been working hard to make money so she can finish her last semester of school. A fire in her building sets her back to square one, but the fireman who saves her turns out to be more than she ever expected. 

Once he gets his arms around her, there’s no letting go. Because when you’ve got your forever in your arms, nothing else matters. 

Warning: This is hot and fast insta-love that ignites the pages. It’s burning heat that combusts into an inferno of lava. Okay, that’s all the fire words I could come up with. Now insert a pun about a big hose. It’s quick, dirty, and ridiculously over the top.


RESENSI

Derek Phoenix merupakan seorang pemadam kebakaran nan tangguh. Dalam kedukaannya karena kehilangan dua orang sahabat terdekatnya saat sedang bertugas menyelamatkan korban kebakaran, Derek tak mampu mengendalikan kehampaan dalam dirinya. Namun semua berubah ketika ia harus menangani kebakaran di sebuah apartemen, peristiwa yang membuatnya bertemu dengan Fia Clover.
Fia yang sebatang kara dan yang selama ini berusaha mencukupi kebutuhan hidupnya sendiri, lagi-lagi harus meghadapi kepedihan. Kehilangan tempat tinggal membuatnya jadi bergantung pada Derek, pahlawan yang telah menyelamatkan nyawanya dan yang bersedia tetap ada di sampingnya.
Bisakah mereka saling menyembuhkan kehampaan jiwa mereka?

--------------------

Ada beberapa alasan mengapa saya nggak pernah mereview novel Alexa Riley, meski sudah beberapa bukunya yang saya baca. Terutama buku fenomenalnya, Trailer Park Virgin. Beberapa kali saya mempertimbangkan untuk mengulasnya di blog Nurina Mengeja Kata ini, tapi lagi-lagi novel Alexa Riley yang saya baca masihlah cukup tabu, karena merupakan hubungan antara saudara tiri. Semenarik apa pun Alexa Riley menuangkannya ke dalam kata-kata, tetap saja pembaca di belahan timur dunia ini akan mengerenyitkan kening dan menganggapnya tabu.
Namun ketika saya meyelesaikan membaca Holding His Forever ini, saya nggak bisa menahan diri untuk mengulasnya. Karena toh novel ini nggak sekontroversial Trailer Park Virgin, My New Step Dad atau pun Their Step Sister. Apalagi profesi hero dalam novel ini merupakan profesi favorit saya: pemadam kebakaran.

Menggunakan sudut pandang orang pertama secara bergantian antara Fia dan Derek, pada awalnya Holding His Forever nampak suram dan kesan sedihnya begitu kuat. Derek Phoenix (yap benar, Phoenix! Dan bahkan namanya pun nama favorit saya) begitu terluka karena kehilangan dua sahabat dekatnya. Ia menjalani hari-harinya seolah tanpa harapan lagi. Namun di tengah rasa iba saya terhadap sang hero, ada hal yang nggak masuk akal yang membuat saya tersenyum. Betapa tidak? Derek yang gagah, hot, dan merupakan pemadam kebakaran paling hebat itu punya nama panggilan kesayangan dari sang ayah. Tanpa megerenyit dan mengeluh sedikit pun, Derek terima saja dipanggil Sunshine oleh ayahnya. Duuuh... manisnyaaa. Wkwkwk~
Namun bukan sang hero saja yang mengalami kesedihan. Sang heroine, Fia Clover pun sama nggak berdayanya. Hidup sebatang kara, harus bekerja keras demi bisa menuntaskan pendidikannya, dan harus menghadapi bos paling brengsek seantero muka bumi.
Sungguh membaca latar kontruksi cerita ini sempat bikin saya frustasi. Berharap Alexa segera menyudahi kesedihan tokoh-tokohnya dan segera mempertemukan mereka. Dan sayangnya pertemuan itu terjadi dalam tragedi. Ketika Derek harus menyelamatkan Fia saat apartemen Fia terbakar. Nah.. nah... Sejak pertemuan mereka kisah bergulir semakin menarik dan manis. Memang sedikit cheesy, ah tapi saya sih menikmatinya kok.

Adegan hotnya uh ah uh ah banget. Khas Alexa Riley yang bisa bikin pembaca panas dingin, terutama ketika adegan seksnya dikisahkan dari sudut pandang Derek. Yah, meski nggak sehot Trailer Park Virgin dan nggak semanis My New Step-Dad, tapi tetaplah hubungan percintaan Derek dan Fia layak dinanti. Manis dengan caranya sendiri dan jauh dari model-model cerita stensilan. Erotis tapi nggak porno.
Sayangnya, chemistry antara mereka berdua masih kurang solid. Fia memang terasa butuh Derek banget, dan Derek juga memperlakukan Fia seolah Fia malaikat yang harus dipuja dan dilayani. Tapi, kemana hilangnya karakter pemberani Fia, terutama saat ia melawan sang bos? Paling nggak saya pengin Fia bisa mengimbangi Derek dan bukannya terasa submissive banget.

Kelemahan novel ini tentulah dalam plot dan storylinenya. Namun sebagai novel fast insta-love, saya sih memang nggak terlalu mengharapkan plot yang rapi. Yang pasti, Holding His Forever merupakan novel yang manis, seksi dan mudah dinikmati. Lumayan klise dan cheesy tapi cukup puas membaca novel ini. Buat kalian yang menginginkan kisah ringan nan erotis boleh banget baca novel ini, karena saya sih suka banget dengan gaya bertutur Alexa Riley. Tapi ingat... it's just for adult only. Risiko tanggung sendiri, ya... XD

Minggu, 25 September 2016

[Resensi] Her Sunny Side - Koshigaya Isamu

Judul: Her Sunny Side
Judul asli: Hidamari no Kanojo
Penulis: Koshigaya Isamu
Penerjemah: Faira Ammadea
Penyunting: NyiBlo
Cover: Dedy Andrianto
Penerbit: Penerbit Haru
Tahun terbit: Maret 2013
Tebal buku: 224 halaman
ISBN: 978-602-7742-12-3




BLURB

“Apakah kau sendiri juga menganggap bertemu denganku adalah takdir?”

Setelah sepuluh tahun, aku bertemu kembali dengan teman masa kecilku.
Berbeda dengan dirinya dulu yang dijuluki ‘Anak Paling Bodoh Di Sekolah’ dan sering ditindas, kini ia bertransformasi menjadi seorang gadis jelita yang serba bisa, sekaligus sukses dalam pekerjaan.

Tetapi, ternyata gadis itu menyimpan sebuah rahasia masa lalu yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Perlahan tapi pasti, sedikit demi sedikit rahasia itu terbongkar.
Apakah aku bisa menerima rahasia itu apa adanya?
Apakah kisah cinta kami bisa berakhir bahagia?

Selalu ada kegetiran yang mengiringi sebuah kebahagiaan saat kita menyukai seseorang. Novel ini menggabungkan keduanya dengan manis.


RESENSI

Tanpa sengaja Kosuke Okuda bertemu lagi dengan Mao Watarai sebagai sesama pegawai junior. Mao yang dulu di SMP terkenal amat bodoh ternyata telah berubah. Gadis itu bahkan menyelamatkan Kosuke dari kesalahan laporan yang dibuatnya. Kini sebagai seorang pria, Kosuke menyadari ketertarikannya pada Mao dan tak ragu lagi menunjukkannya. Baginya, Mao tetaplah sepolos dan angin-anginan seperti sepuluh tahun lalu ketika mereka masih sama-sama duduk di bangku SMP dan menjadi dua orang yang paling sering dibully.
Sayangnya hubungan Kosuke dan Mao mendapat tentangan dari orangtua Mao. Bukan karena Mao anak angkat, tapi karena menurut mereka, Mao menderita retrograde amnesia. Mereka takut Mao hanya akan menyusahkan Kosuke. Merasa mampu menghadapi segala kerumitan hidup, Kosuke dan Mao tetap bersikukuh melanjutkan hubungan mereka. Bahkan mereka memilih kawin lari. Akankah Kosuke dan Mao bertahan sampai akhir? Dan bagaimanakah akhir dari kisah cinta mereka?

-------------------------

Sudah lama saya ngebet pengen baca Her Sunny Side, apalagi karena sudah muncul dorama yang diadaptasi dari novel ini. Berdasarkan pengalaman saya dengan dorama yang diangkat dari manga, yang beberapa di antaranya lumayan melenceng dari cerita aslinya, saya pun memilih membaca dulu daripada menonton. Oke, matsujun bisa menunggu sementara saya menyelesaikan membaca novel ini lebih dulu.

Her Sunny Side merupakan novel terjemahan dari Hidamari No Kanojo, sebuah novel karya Koshigaya Isamu. Saya merasa geli juga karena sebagai novel terjemahan, Penerbit Haru memilih membuat judul terjemahan dengan bahasa Inggris alih-alih menggunakan judul dengan bahasa Indonesia seperti novel terjemahan pada umumnya. Meski nggak bisa dipungkiri kalau judulnya memang terdengar catchy dan manis, apalagi dengan covernya yang berkesan lembut dan cantik. Seolah menjanjikan sebuah kisah romance yang super manis.
Seperti kebanyakan J-Lit, Her Sunny Side dituturkan dengan gaya yang berkesan kurang luwes dan garing. Khas Jepang banget. Bahkan obrolan antara Kosuke dan Mao saat bercanda pun terasa kering. Namun di situlah letak keunikan J-Lit. Dan lagi dialog yang kaku itu diimbangi dengan narasi dan deskripsi yang apik dan mendetail oleh Koshigaya Isamu. Membuat latar tempat dan suasananya mudah terbentuk dalam pikiran saya.

Novel ini menggunakan sudut pandang orang pertama dari sisi Kosuke Okuda. Alurnya maju-mundur dan mengalir dengan tempo yang sangat cepat, namun nggak membingungkan. Setidaknya bagi saya. Saya menikmati membaca kisah ini terutama karena kesan misterius yang ditampilkan oleh Mao. Jadi meski beberapa adegan memang terasa membosankan namun ternyata terselip petunjuk-petunjuk yang sebenarnya jika dengan cermat saya satukan dan saya rangkai, saya nggak akan syok banget dengan twist endingnya. Sumpah saya masih terbengong-bengong sampai sekarang. Yah, saya lumayan sering menemukan hal tersebut di dalam manga, tapi menemukannya di dalam barulah kali ini. Sungguh ini membuat kisah antara Kosuke dan Mao semakin manis. Huhuuu....

Penggambaran karakter novel ini sangat kuat. Saya suka dengan kekonsistenan Mao dalam sifat angin-anginannya. Bikin ngakak juga saat ia merubah rencana tiba-tiba dan membuat Kosuke gondok-gondok sayang. Lagipula kalau dipikir-pikir lagi, sifat dan kebiasaan Mao pun sebenarnya sudah jadi petunjuk. Kosuke semasa SMP itu khas karakter cowok dalam manga banget, dan ketika dewasa, meski kikuk tapi menggemaskan. Interaksi mereka berdua lumayan manis dan romantis dengan gaya mereka sendiri. Saya anggap chemistry mereka begitu asyik dan cukup kuat.

Novel ini selain mengisahkan tentang dua sejoli yang akhirnya bertemu lagi setelah sepuluh tahun, juga mengangkat tentang retragade amnesia. Orangtua Mao meyakini Mao menderita retragade amnesia, karena Mao kehilangan ingatan akan masa kecilnya. Sangat menarik dan membuat saya menanti-nanti apa akibatnya pada hubungan Kosuke dan Mao, dan ternyata.... saya dibawa pada ending yang mencengangkan. Wkwk~

Overall, Her Sunny Side merupakan kisah cinta yang menarik. Tentang cinta yang bertahan selama bertahun-tahun, tentang semangat untuk nggak menyerah dan berjuang melawan kelemahan diri sendiri. Banyak hal tentang budaya Jepang yang muncul dalam novel ini, dan tentunya sangat menarik untuk diikuti. Jika kalian suka dengan gaya bertutur novel Jepang, dengan sedikit nuansa manga, saya jamin kalian akan menyukai novel ini. Dan akhirnya, saya bisa bersiap menonton dorama Hidamari no Kanojo dan menikmati bagaimana Matsujun memerankan Kosuke :))

Sabtu, 24 September 2016

[Resensi] Scandal of The Season

Judul buku: Skandal Terbesar
Judul asli: Scandal of The Season
Seri: The Spinster Club #4
Penulis: Christie Kelley
Alih bahasa: Tikah Sofyan
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Oktober 2013
Tebal buku: 456 halaman
ISBN: 9786020222219

It


BLURB

“Bagaimana kalau kita lihat caramu menerima ciumanku?” 

Sebelum Victoria sempat mundur, Anthony menarik dan menciumnya. Kemarahan akibat dibohongi mereda ketika wanita itu membuka bibirnya sedikit. Anthony memanfaatkan kesempatan itu untuk memperdalam ciumannya, menikmati pertemuan lidah mereka. Entah mengapa Victoria merasa ingin mendorong Anthony agar melepaskannya, namun ciumannya berkata sebaliknya. 

Apakah reaksi itu merupakan respon yang ia pelajari dari profesinya? Apakah ia senang berpura-pura menjadi pelacur yang lugu? Perlahan Anthony menjauh dan tersenyum seraya menatap raut Victoria yang kebingungan. Raut wajah Victoria bukan raut wajah seorang perempuan yang terpaksa menerima ciuman. Anthony mengangkat dagu Victoria. “Kalau kau terus menciumku seperti tadi, aku sendiri akan mengira kau menginginkanku.”


RESENSI

Sudah sepuluh tahun berlalu sejak Somerton melakukan hal yang tidak pantas terhadap gadis penjual jeruk yang ditaksirnya. Beberapa tahun terakhir ini, dengan gencar Somerton berusaha mencari tahu di mana gadis itu dengan bantuan Sophie, si cenayang. Dan kali ini secara melegakan, Sophie akhirnya memberi tahu di mana gadis itu berada saat ini.
Dan petunjuk Sophie membawa Somerton kepada Victoria, gadis pemalu dan kutu buku yang merupakan teman Sophie. Sayangnya di hari ketika Somerton berinteraksi dengan Victoria, Somerton kehilangan kalung berharga milik ibunya. Takjub akan kenyataan, Somerton membuat perjanjian dengan Sophie. Mereka akan saling bekerja sama dan Victoria harus berpura-pura menjadi wanita simpanan milik Somerton. Semua demi misi terakhir Somerton. Akankah mereka berhasil?

---------------------

Akhirnya saya memutuskan membaca Scandal of The Season, saking ngebetnya saya untuk menelusuri kisah percintaan Somerton, tokoh favorit saya dari seri The Spinster Club. Sejak awal, Somerton selalu hadir dalam kisah-kisah sebelumnya sebagai agen alias tangan kanan Sophie dalam mencomblangkan para anggota klub perawan tua. Somerton dibalik sikapnya yang kelihatan bajingan dan seenak pantatnya sendiri itu, pastilah hero yang paling potensial di antara hero lainnya.

Dan untungnya harapan saya terwujud. Novel Scandal of The Season bukan saja menghadirkan hero idaman saya, tapi juga heroine yang luar biasa dan bikin saya takjub. Di novel sebelumnya, saya sama sekali nggak tertarik ataupun terkesan pada Victoria, dia seolah hanya pelengkap dalam kelompok kecil itu. Namun ternyata Victoria pun sama cerdiknya dengan Somerton. Kesan yang saya tangkap selama ini runtuh seketika saat mengetahui profesi Victoria sebenarnya. Victoria merupakan pencopet yang canggih, yang beberapa kali membuat Somerton harus mengakui kelihaiannya.
Tentunya seru banget mengikuti kisah cinta antara mata-mata kerajaan dan seorang pencopet. Sungguh perpaduan yang menarik dan membuat jalinan cerita ini makin mengasyikkan.

Buku keempat dari seri The Spinster Club ini menggunakan sudut pandang orang ketiga, dengan fokus utamanya bergantian antara Somerton dan Victoria. Alurnya mengalir maju dengan setting tahun 1807 pada awalnya, ketika saya dibawa ke tahun yang krusial bagi Somerton, Anne Smith dan Lady Whitely. Kemudian di bab selanjutnya, setting telah maju ke tahun 1817, tepat sepuluh tahun dan menjadi waktu yang tepat bagi Sophie untuk menjodohkan Somerton dan Victoria.

Novel ini pun berbeda dengan novel sebelumnya dari seri The Spinster Club. Betapa tidak, Scandal of The Season menyajikan misteri akan latar belakang kedua karakter utamanya di samping petualangan mereka dalam menjalankan misi melindungi prinny. Jadi, novel ini bukan hanya kisah cinta berbau skandal saja, tapi juga memberi kisah usaha Somerton dan Victoria dalam menyelidiki dan menuntaskan misi mereka. Kisah yang seru dan mendebarkan.
Namun karena saya sebelumnya sudah membaca buku kelimanya, asal-usul dan latar belakang keluarga Somerton sudah nggak mengagetkan saya lagi. Hahaha...

Saya suka dengan interaksi antara Somerton dan Victoria. Dialog yang mereka lemparkan satu sama lain begitu hidup dan intens. Chemistry di antara mereka berdua saya rasa merupakan chemistry terbaik jika dibandingkan dengan tokoh di novel yang lain dalam seri yang sama ini. Apalagi ketika tiba di saat sudut pandang terfokus pada Somerton, duuuh bikin klepek-klepek deh ungkapan perasaan dan penderitaan hatinya.
Cara Somerton cemburu pada Nicholas dan Hardy itu manis banget. Yaaah... ini kan dunia novel ya, jadi tokoh utamanya gampang cemburuan sih bebas aja. Tapi kalau di dunia nyata, cowok cemburuan mah tinggalin aja. Jangan diberi kesempatan untuk berbaikan. Wkwk~

Saya suka cover versi terjemahan ini. Bisa dibilang saya jatuh cinta pada cover novel historical fiction dari penerbit Elex Media Komputindo, karena selalu menampilkan gaun-gaun yang indah dengan warna yang cerah. Sayangnya untuk penerjemahannya masih kurang bagus dan banyak sekali typo dalam novel ini.

Overall, saya suka banget dengan Scandal of The Season. Sebuah kisah dengan karakter tokoh yang menarik dan beda dari yang lain. Seorang hero yang terluka hatinya, seorang heroine yang badass-nya minta ampun, dan sebuah konflik berbahaya yang berpotensi menyatukan mereka. Sungguh kisah yang luar biasa manis dan romantis.

Jumat, 23 September 2016

[Resensi: Langit untuk Luna - Irena Tjiunata] Arti Angkasa Bagi Sang Bulan

Judul buku: Langit untuk Luna
Penulis: Irena Tjiunata
Desain & ilustrasi sampul: eMTe
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Desember 2013
Tebal buku: 344 halaman
ISBN: 978-602-03-0097-9



BLURB

Luna Aurora sepertinya sudah punya segalanya. Otak yang cerdas sehingga bisa masuk kelas akselerasi, keluarga dengan ekonomi berkecukupan, teman-teman yang ceria dan setia, plus pacar superkeren, Surya Dhanasaputra.

Luna merasa hidupnya sangat sempurna.

Sampai kemudian perusahaan keluarganya menghadapi masalah serius. Lalu Surya berubah jadi cowok yang tidak dia kenal lagi. Sementara Angkasa Raya, cowok lain yang semula tidak dia kenal, berubah menjadi sosok yang sangat memahami dirinya. 


RESENSI

Sebagai siswa kelas akselerasi, Luna benar-benar sangat sibuk. Masa remajanya hanya dihabiskan dengan mengerjakan tugas dan belajar. Meski ia punya pacar, tapi sang kekasih, Surya, juga sama-sama siswa kelas akselerasi yang menuntut Luna untuk selalu belajar dan tidak membuang-buang waktu untuk bermain, apalagi dengan temannya, Fay, yang merupakan siswa kelas reguler.
Namun dunia Luna yang teratur dan monoton mulai berguncang saat Angkasa Raya muncul. Cowok itu memberi warna bagi hidup Luna, mengenalkan dunia yang bebas untuk menentukan pilihan sesuai hati nurani. Dan bersamaan dengan itu, sifat asli Surya semakin terlihat. Luna mulai tak nyaman bersama Surya.
Namun benarkah keputusan yang diambil Luna? Apakah dia bisa bebas menentukan keinginan hatinya, meski itu melukai orang-orang yang meletakkan harapan di bahunya?

-------------------

Langit untuk Luna adalah novel teenlit karya Irena Tjiunata yang pertama kali saya baca. Jadi ini semacam uji coba untung-untungan, apakah saya bakal suka dengan novel ini. Karena saya sama sekali belum mengenal nama penulis yang satu ini. Tapi yang jelas, saya tertarik untuk membaca novel ini karena judulnya yang menggunakan bahasa Indonesia dan terdengar puitis. Apalagi setelah membaca blurbnya saya yakin Langit untuk Luna punya makna yang lebih mendalam.

Novel ini menggunakan sudut pandang orang ketiga dan terfokus pada Luna. Segala hal diceritakan dari sisi Luna, baik itu keresahan maupun perasaan-perasaan terdalamnya. Sayang sekali karena saya menanti-nanti curahan perasaan yang lebih mendalam dari tokoh lain dalam novel ini, terutama Angkasa.
Gaya bertutur Irena Tjiunata sangat santai dan sangat remaja, membuat seolah saya sedang membaca catatan harian seorang remaja. Lincah, dengan bahasa pergaulan remaja urban dan nggak baku. Terasa pop banget dan sebenarnya bukan gaya bercerita yang saya sukai. Tapi toh saya masih bisa menikmatinya.

Konfliknya sangat menarik. Irena Tjiunata mencoba memotret sistem pendidikan di masyarakat urban yang salah kaprah. Bagaimana sekolah hanya menuntut siswanya untuk mencapai nilai dan level tertentu. Bagaimana orangtua membuat tuntutan tak masuk akal tanpa memperhatikan keinginan anak. Belajar tentulah hal yang baik, tapi esensi belajar adalah agar anak memperoleh ilmu, bukan nilai. Berprestasi tentu membuat orangtua dan anak sangat bangga, tapi bekerja sama lebih baik daripada bersaing. Apalagi persaingan nggak sehat yang membuat anak menjadi merasa ada di kelas tertentu dan jadi angkuh. Seperti Surya.
Duh cukup deh, anak kayak Surya itu cukuplah ada di novel saja. Amit-amit jangan sampai ada anak model begitu di dunia nyata. Sudah sok pintar, sombong, bossy, tukang bully pula. Ngeri banget, deh.

Dan jujur karakter dalam novel ini annoying banget. Surya jelaslah super menyebalkan. Murid-murid kelas akselerasi yang bikin saya geleng-geleng. Katanya pintar, tapi nurut-nurut aja sama Surya. Omong kosong kalau dibilang mereka takut cari gara-gara dengan Surya hanya karena Surya anak dari keluarga paling berpengaruh di sekolah maupun di jagad bisnis. Saya merasa alurnya jadi seperti alur ala-ala drama korea. Malah ada karakter yang hobi ngomong pakai bahasa korea. Duh, nak, ini masih di Indonesia, lho. Adegan-adegannya juga lumayan berlebihan dan drama banget.
Saya merasa aneh ketika kepala sekolah memanggil Jane dan memberi tahu Jane bahwa dia akan didegradasi. Ini bukan kabar yang bisa disampaikan kepala sekolah hanya kepada sang murid. Harus ada orangtua si murid di pertemuan itu. Agar orangtua, siswa dan guru bisa mencari jalan mengupayakan supaya si murid tetap bertahan, atau kalau memang nggak ada jalan ya memang harus degradasi. Tiba di adegan ini saya mulai merasa terganggu dengab sang kepala sekolah. Saya sampai berpikir, sekolah macam apaaaa ini sih? Laporin ke Pak Anies Baswedan aja gimana? *eh udah ganti yak menterinya ^^*

Namun untuk ukuran novel remaja, Langit untuk Luna lumayan manis dan asyik diikuti. Mungkin kalau saya membaca novel ini saat saya berusia tigabelas atau empatbelas tahun, saya bakal terpesona pada Angkasa Raya. Karena semua sifat dan perhatiannya pada Luna. Bisa bikin lagu coba. Keren kan?
Tapi mungkin karena jiwa saya sudah menua, saya jadi nggak mempan digombalin Angkasa. Hahaha...
Tapi secara keseluruhan, novel ini cukup seru, bikin saya berpikir sebagai orangtua, sudahkah saya membuat anak saya nyaman dalam belajar dan mengeksplorasi bakat-bakat mereka? Apalagi di akhir kisah, ada cara untuk mengenali kecerdasan majemuk yang dimiliki seorang anak. Dan pastinya ada cerita pendek sebagai bonus yang cukup seru. Nice story.

Kamis, 22 September 2016

[Resensi] Every Time We Kiss - Christie Kelley

Judul buku: Setiap Kali Kita Berciuman
Judul asli: Every Time We Kiss
Series: The Spinster Club #2
Penulis: Christie Kelley
Alih bahasa: Layna Ariesianti
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tahun terbit: November 2011
Tebal buku: 384 halaman
ISBN: 9786020013404



BLURB

Wanita itu menghela napas, suara yang indah yang membuat perhatiannya kembali fokus ke bibir Jennette yang penuh dan berwarna merah jambu.
"Aku harus membuat rencana percomblangan ini dengan lebih baik lagi."

Dia mendekat selangkah ke Jennette, menyadari saat ini mereka sudah berdiri terlalu dekat dengan satu sama lain.
"Mungkin kau memang tidak ingin melakukannya dengan lebih baik?"
Jennette menengadah. "Maksudmu?"
"Mungkin kau tidak mau mencarikan seorang pengantin untukku."
"Tapi... Oh, tidak," katanya sambil menyunggingkan senyum tipis dan menggeleng "Aku tidak akan menikah denganmu."
"Mungkin," bisiknya. "Tapi tidakkah kau ingin tahu apa yang akan kau lewatkan?"
Mata Jennette yang biru berkilau jahil. "Tidak juga."

Dia mengusap pipi Jennette dengan tangannya yang terbungkus sarung tangan sampai wanita itu gemetar. "Tidak pernahkah kau menginginkan seorang berandalan di ranjangmu?"
"Seseorang sepertimu?"
"Persis."


RESENSI

Setelah lima tahun dikucilkan oleh kalangan ton, tiba saatnya bagi Matthew untuk kembali ke masyarakat kelas atas. Ini semua karena kematian ayah dan kakaknya, yang membuatnya mewarisi gelar Earl of Blackburn. Namun sayangnya, ton masih belum bisa memaafkan kesalahan fatalnya. Tak ada yang bisa melupakan fakta bahwa Matthew telah membunuh John, tunangan Lady Janette Selby, lima tahun lalu.
Maka untuk membantunya mendapatkan istri yang sesuai dengan mas kawin yang besar, Matthew justru meminta bantuan Jennete. Karena sesungguhnya hanya mereka berdua yang tahu dengan pasti apa yang terjadi di hari naas lima tahun yang lalu.
Janette bersedia membantu. Namun semakin lama ia mencari kandidat istri bagi Matthew, semakin tak karuan rasa hatinya. Ia mendapati bahwa ketertarikannya pada pria itu tak pernah memudar, begitu juga dengan Matthew. Sekuat tenaga Jennete berusaha melawan perasaannya, karena baginya Matthew terlalu baik untuknya.

--------------------

Every Time We Kiss merupakan buku kedua dari seri The Spinster Club. Seri yang membuat saya tertarik karena selalu melibatkan skandal para heroinenya. Setelah membaca seri pertama dan seri kelimanya, kali ini saya memutuskan untuk membaca Every Time We Kiss.
Namun jika dibandingkan dengan skandal yang menghebohkan antara Avis dan Lord Selby, kakak Jennete, di Every Night I'm Yours, kisah dalam novel ini cenderung flat dan membosankan.

Sebenarnya saya menyukai ide cerita dan konflik novel ini yang belum pernah saya temukan di novel dengan tema senada. Tentang seorang pria yang saking cintanya dan saking gentleman-nya mau melindungi si gadis dan memikul semua kesalahan. Rasanya sungguh mustahil. Hebat benarlah kalau memang ada di dunia nyata.
Sisi romantis saya (jiaaah ngaku-ngaku kalau romantis) menganggap tindakan Mattew benar-benar manis dan romantis. Tapi sisi rasional saya rasanya pengen mencak-mencak dan berharap Matthew mendapatkan keadilan. Terutama ketika Mattew diserang secara verbal oleh Mr. dan Mrs. Marston di hadapan seluruh tamu alias separuh ton. Huhuuu rasanya jadi pengin peluk Mattew.
Karakter Matthew benar-benar karakter hero yang sempurna. Dia mengaku seorang bajingan, tapi toh dia punya rasa tanggung jawab dan gentleman banget. Bukan bajingan sejati semacam Somerton (dan betewe saya masih tetap naksir berat pada Somerton dan masih menanti waktu untuk membaca kisahnya). Beberapa kali Mattew punya kesempatan untuk mengkompromi Jennete, tapi tetap saja ia membatalkannya. Hanya demi nama baik Jennete. Duuuh... so sweet banget nggak sih? *meleleh*
Sementara Jennete sebagai heroine yang cukup menyenangkan. Saya suka dengan kecerdasannya, dengan kemampuannya mengendalikan para lelaki di sekitarnya, keahliannya mendebat Selby, juga bakat-bakatnya yang membuat ia bukanlah gadis bangsawan yang membosankan. Tapi rasanya capek juga membaca pengingkaran yang dilakukannya. Kalau cinta ya cinta aja lah neng, nggak usah dibuat repot. Hahaha...
Sebab lucu rasanya melihat Jennete sibuk mencari jodoh yang tepat untuk Matthew, namun setiap kali melihat Matthew berdua saja dengan seseorang calon istri potensial, Jennete bakal langsung bete. Duh, kasihan kau, Nak.

Konfliknya cukup bagus. Ada banyak peran yang muncul, tapi jangan kuatir karena nggak bakal membingungkan. Kali ini konfliknya bukan saja berasal dari dalam diri hero dan heroinenya saja, tapi juga ada konflik yang berasal dari luar. Nah, untuk pembawa konflim dari luar inilah yang membuat saya mengurangi poin novel ini.
Well, memang banyak hero di novel-novel lain yang punya sejarah seks yang luar biasa. Banyak yang disebutkan punya mantan kekasih yang hebat. Namun, Matthew di sini sebelum kembali ke masyarakat kalangan atas, telah memelihara seorang kekasih. Walau hal ini banyak dilakukan oleh bangsawan pada masa itu, saya tetap merasa terganggu mendapati Matthew telah main perempuan cukup lama. Dan sepertinya Jennete nggak ada nasalah dalam hal itu. Huhuu.. kok malah saya yang baper ya saat tahu Matthew punya gundik selama beberapa tahun.

Untuk terjemahan novel ini sayangnya masih banyak terdapat typo, entah kekeliruan nama antara Anthony dan Nicholas, juga kesalahan penulisan kata. Saya juga kurang sreg dengan penyebutan "bujang" sebagai kata ganti untuk "pelayan". Aneh saja kedengarannya. Tapi secara keseluruhan tetap enak dibaca dan cukup luwes.

Yah, Every Time We Kiss yang jelas bukanlah novel favorit saya dalam seri The Spinster Club, tapi lumayan seru dan mengasyikkan. Mengikuti kisah cinta yang terpendam selama lima tahun dan terungkap setelah sang hero kembali. Hah, saya jadi pengin memutar lagu KLBK-nya Yovie Nuno jadinya :))))

Rabu, 21 September 2016

[Resensi] Teka-Teki Terakhir - Annisa Ihsani

Judul buku: Teka-teki Terakhir
Penulis: Annisa Ihsani
Editor: Ayu Yudha
Desain sampul: EorG
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Maret 2014
Tebal buku: 256 halaman
ISBN: 9786020302980



BLURB

Gosipnya, suami-istri Maxwell penyihir. Ada juga yang bilang pasangan itu ilmuwan gila. Tidak sedikit yang mengatakan mereka keluarga ningrat yang melarikan diri ke Littlewood. Hanya itu yang Laura tahu tentang tetangganya tersebut.

Dia tidak pernah menyangka kenyataan tentang mereka lebih misterius daripada yang digosipkan. Di balik pintu rumah putih di Jalan Eddington, ada sekumpulan teka-teki logika, paradoks membingungkan tentang tukang cukur, dan obsesi terhadap pernyataan matematika yang belum terpecahkan selama lebih dari tiga abad. Terlebih lagi, Laura tidak pernah menyangka akan menjadi bagian dari semua itu.

Tahun 1992, Laura berusia dua belas tahun, dan teka-teki terakhir mengubah hidupnya selamanya...


RESENSI

Sejak kepindahan pasangan suami-istri Maxwell ke kota kecil yang didiami Laura, Littlewood, banyak gosip yang beredar tentang pasangan tersebut. Tidak heran karena suami-istri Maxwell jarang terlihat dan seolah lebih sering mengurung diri di rumah mereka yang terlihat besar dan angker.
Sejak kecil Laura sudah penasaran terhadap mereka. Dulu ia dan kakaknya Jack sering memata-matai pasangan Maxwell. Namun kini tampaknya Jack sudah tak tertarik lagi. Laura pun juga hampir mulai mengabaikan rasa penasarannya.
Hingga suatu hari Laura mendapat nilai nol di kuis matematika. Merasa kesal, Laura membentuk kertas hasil kuisnya menjadi perahu dan membuangnya ke tempat sampah di depan rumah Maxwell. Tanpa disangka, hari berikutnya, Tuan Maxwell menyapanya, mengembalikan kertas hasil kuisnya dan memberinya sebuah buku.
Sejak itu dunia Laura mulai berubah. Apalagi ketika ia berhasil masuk ke dalam rumah Maxwell dan mengetahui siapa Tuan dan Nyonya Maxwell sebenarnya dan apa yang mereka lakukan dalam hidup mereka.

-----------------

Saya sudah lama merasa penasaran terhadap novel teenlit ini. Tentunya karena judulnya yang memancing rasa penasaran, sampulnya yang seolah menyimpan misteri dan sinopsisnya yang begitu menarik. Dan ketika saya mulai membacanya, saya nggak sanggup untuk berhenti.

Sebagai seorang anak yang nggak jago matematika, saya baru menyukai matematika ketika di kelas 6 sekolah dasar. Itu pun karena cara mengajar guru saya yang menyenangkan. Tapi momen kedekatan saya dengan matematika berhenti sampai di situ. Begitu masuk SMP hingga SMA, matematika jadi pelajaran yang menyebalkan dan menakutkan. Itu yang membuat saya bertanya-tanya kok ya saya bisa menjadi guru les matematika sekarang? Karena ternyata, belajar matematika di luar sekolah itu jauuuuhh lebih menyenangkan. Nggak ada wajah guru nan killer, nggak ada ketakutan bakal dimarahi karena gagal memecahkan masalah matematika. Sungguh.
Matematika itu memang asyik. Tapi saya menemukan keasyikannya bukan di dalam kelas semasa sekolah dulu. Saya tenggelam dalam hitungan justru karena buku dan diskusi yang saya lakukan bersama teman dan murid-murid saya.

Dan novel Teka-teki Terakhir ini mengingatkan saya pada pengalaman saya tersebut. Kadang matematika yang ditulus di papan tulis memang terasa rumit, baru dibacakan judul materinya saja sudah bisa bikin migrain. Tapi, begitu kita bertemu orang yang tepat, yang bisa membahas matematika dengan antusiasme dan rasa cinta yang besar, yang bisa menunjukkan logika dan keseruan dari matematika, semua bisa saja berubah. Jadi jangan heran mengapa Laura yang semula mendapat nilai nol di kuis matematika, setelah bicara dengan Profesor Maxwell, nilainya jadi meningkat tajam. Saya yang membaca saja merasa tertulari semangat sang profesor.

Sebagai novel teenlit, materi matematika yang dibahas dalam novel ini memang cukup berat, bahkan kebanyakan bukan materi yang diajarkan di jenjang SMP. Tapi jangan kuatir, matematika hanya bumbu yang syukur-syukur bisa membuat si pembaca tertarik. Karena banyak trivia tentang para ahli matematika dan logika matematika yang menarik.
Namun inti cerita ini tetaplah masalah yang dihadapi remaja pada umumnya. Rasa keingintahuan yang tinggi, pertemuan dengan orang-orang baru dan bagaimana menyikapi dunia jika dunia menganggapmu aneh. Beberapa remaja mungkin bisa merasa cuek, tapi sebagian kecil akan merasa nggak nyaman dan tertekan jika dianggap aneh.

Laura menjadi tokoh yang sangat menarik. Rasa ingin tahunya yang besar, rasa kesepiannya karena nggak punya teman dekat dan mulai merasakan renggangnya hubungannya dengan sang kakak, mudah tenggelam dalam hal-hal yang disukainya hingga melupakan janji penting. Saya sangat menyukai Laura dan perubahan yang dialaminya. Saya suka bagaimana ia belajar bersahabat, apa yang perlu dan nggak perlu dilakukan terhadap Katie. Betapa persahabatan mereka yang masih rapuh dan bagaimana membuatnya menguat kembali. Bukan dengan lari dari masalah tapi menghadapinya.

Teka-teki Terakhir merupakan kisah yang sangat menarik dan saya menyukai cara bertutur Annisa Ihsani. Rasanya seolah saya sedang membaca novel terjemahan dengan setting tempat yang entah ada entah tidak tapi terasa nyata. Saya juga suka dengan setting waktunya, karena seolah sayalah yang sedang ada di dalam cerita ini. Nggak ada handphone, nggak ada kendaraan pribadi, sama seperti masa ketika saya masih belasan tahun.
Well, saya akan merekomendasikan novel yang seru dan menghangatkan hati ini. Meski kamu suka matematika atau nggak suka, tapu saya yakin kamu akan menikmati petualangan Laura dalam memaknai kehidupan remajanya.

Selasa, 20 September 2016

[Resensi] Terjebak Bersama Sang Miliuner - Sophie Pembroke

Judul buku: Terjebak Bersama Sang Miliuner
Judul asli: Stranded With The Tycoon
Penulis: Sophie Pembroke
Alih bahasa: Dharmawati
Desain sampul: Marcel A. W
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Juli 2015
Tebal buku: 248 halaman
ISBN: 9786020318554



BLURB

Luce takkan pernah memilih Ben Hampton sebagai teman perjalanan, apalagi saat terjebak badai salju di pondok terpencil. Tinggi, tampan, dan arogan, pria itu seolah mengingatkan Luce akan kehidupan romantisnya yang tidak terlalu sukses pada masa lalu. Dan itulah tepatnya yang berusaha ia lupakan selama bertahun-tahun ini dengan memfokuskan seluruh energinya pada pekerjaan…

Ben—miliuner pemilik jaringan hotel—yakin ada semangat terpendam di balik penampilan kaku Luce Myles yang khas dosen sejarah, dan membuat sikap kaku itu menghilang tentu akan jadi tantangan menarik. Untungnya, tanpa disangka mereka berdua terjebak di pondok karena badai salju hebat. Ini saatnya membuktikan ia masih bisa menaklukkan wanita mana pun... 


RESENSI

Betapa marahnya Lucinda Myles saat kamar yang harusnya disediakan untuknya sebagai salah satu peserta konferensi ternyata tak tersedia. Entah apakah kesalahannya dari pihak panitia konferensi, ataukah karena kesalahan karyawan hotel. Yang jelas Luce terancam tak memiliki tempat tidur untuk ditiduri karena hotel di mana-mana penuh akibat dari suasana Natal.
Saat sedang kesal di hadapan sang resepsionis hotel itulah Luce bertemu dengan Ben Hampton. Pria yang merupakan salah satu putra pemilik jaringan hotel Hampton & Sons. Ben pun menawari Luce untuk berbagi kamar suitenya.
Meski telah beberapa tahun berlalu, Luce masih mengingat siapa Ben. Dan ia merasa Ben masih pria yang sama dengan pemuda arogan yang dulu dikenalnya. Sebisa mungkin ia ingin menjauh dari pria itu. Sayangnya, Ben juga masih ingat persis siapa Luce. Dan Ben bertekad ingin mengubah sifat serius dan teratur Luce. Berhasilkah ia?

--------------------

Stranded With The Tycoon atau Terjebak Bersama Sang Miliuner merupakan novel karya Sophie Pembroke yang pertama saya baca. Pengalaman pertama yang cukup menyenangkan, karena meskipun ide ceritanya begitu klise khas novel terbitan Harlequin, tapi Sophie menuliskannya dengan mengesankan.

Novel ini menggunakan sudut pandang orang ketiga, dengan fokus utama pada sang hero dan heroine. Cukup menyenangkan membaca apa yang mereka pikirkan satu sama lain. Bagaimana mereka saling membentuk asumsi berdasarkan pertemuan pertama mereka delapan tahun yang lalu, dan kemudian seolah mereka sedang mencari dan menyusun kepingan puzzle untuk mendapatkan image yang tepat tentang satu sama lain. Saya suka dengan hubungan mereka yang terbentuk secara perlahan. Meski telah saling tertarik beberapa tahun yang lalu, tapi bisa dibilang kali ini mereka saling menjajagi dan mencoba menggali lebih dalam tentang pribadi masing-masing.
Dengan storyline  yang menarik dan latarnya yang cantik saya merasa nggak sanggup untuk berhenti membaca novel ini.
Nuansa natal dalam novel ini begitu terasa. Saya menikmati hubungan Luce dan Ben ketika mereka bersama di pondok Ben yang terpencil. Chemistry di antara keduanya terasa kuat saat mereka berada di dalam pondok itu.

Sayangnya saya nggak begitu menyukai karakter Luce. Saya merasa Luce wanita yang menarik dan saya kagum karena ia menguasai sejarah. Hal yang juga saya sukai. Tapi saya nggak bisa memahami kebutuhannya untuk selalu memenuhi permintaan orang-orang di sekelilingnya. Saya merasa ia begitu mudah dimanfaatkan dan sebenarnya mengalami krisis kepercayaan. Terlebih ia merasa ia yang paling benar dan paling terkendali di antara anggota keluarganya. Saya merasa ia seolah menganggap menuruti impuls adalah perbuatan nggak bertanggung jawab. Seolah ialah yang paling bertanggung jawab. Oh i really hate it.
Itu sebabnya saya bersorak kegirangan saat Ben masuk ke kehidupan Luce. Saya merasa iba pada Ben karena terus dituduh oleh Luce. Satu lagi yang bikin saya kesal karena Luce gampang banget menuduh Ben nggak bertanggung jawab. Huh. Padahal nggak satu pun dari perilaku Ben yang menunjukkan tindakan nggak bertanggung jawab.
Selain tokoh utamanya, saya cukup menyukai Seb, kakak Ben. Pada awalnya saya kira hubungan antara dua bersaudara ini nggak dekat dan berjarak. Karena pada awalnya menilik pembicaraan pertama mereka di telepon, mereka terasa nggak saling memahami dan saling sungkan. Tapi lama-lama terlihat kalau Seb memang sangat perhatian dan hubungan mereka sangat menarik.
Demikian juga dengan Dolly, adik Luce. Saya suka dengan kemunculannya, Dolly membawa aura segar dan seru ke dalam kisah ini.

Tapi bagian terbaiknya memang hanya sampai di tengah cerita saja. Ketika kisah bergulir dan mereka berpisah, semua jadi klise  lagi. Yah apa sih yang bisa saya harapkan dari cinta satu malam ala harlequin. Tentu saja kehamilan. Apa lagi? Tapi saya memang mulai lelah dengan heroine yang hamil hanya karena hubungan singkat. Dramanya begitu-begitu saja polanya.
Untuk penerjemahannya sangat bagus dan pilihan katanya menarik. Hanya saja ada kosakata atau istilah tertentu yang diulang-ulang secara terus menerus dan membuat bosan. Entah memang asli dari penulis aslinya, ataukah sang penerjemah memang suka sekali menggunakan kata "mengesah".

Overall, Stranded With The Tycoon merupakan bacaan yang ringan dan mudah dinikmati. Seru pada awalnya karena uraian proses pendekatan dan penjajagan hero dan heroinenya. Namun mulai membosankan pada akhirnya. Untuk adegan panasnya jangan kuatir, nggak banyak adegan ples ples dan penulisannya pun nggak vulgar kok.