Selasa, 29 November 2016

[Resensi] London - Windry Ramadhina

Judul buku: London: Angel
Penulis: Windry Ramadhina
Editor: Ayuning & Gita Romadhona
Proofreader: Jia Effendie
Ilustrasi isi: Diani Apsari
Penerbit: Gagas Media
Tahun terbit: 2013
Tebal buku: 330 halaman
ISBN: 979-780-653-7



BLURB

Pembaca Tersayang,

Mari berjalan di sepanjang bantaran Sungai Thames, dalam rintik gerimis dan gemilang cahaya dari London Eye. 

Windry Ramadhina, penulis novel Orange, Memori, dan Montase mengajak kita menemani seorang penulis bernama Gilang mengejar cinta Ning hingga ke Fitzrovia. Namun, ternyata tidak semudah itu menyatakan cinta. Kota London malah mengarahkannya kepada seorang gadis misterius berambut ikal. Dia selalu muncul ketika hujan turun dan menghilang begitu hujan reda. Sementara itu, cinta yang dikejarnya belum juga ditemukannya. Apakah perjalanannya ini sia-sia belaka?

Setiap tempat punya cerita. 
Dalam dingin kabut Kota London, ada hangat cinta menyelusup.

Enjoy the journey,

Editor


RESENSI

Setelah sekian lama memendam perasaan cintanya terhadap Ning, Gilang memutuskan untuk terbang ke London menyusul Ning. Meski keputusan sembrono itu ia ucapkan saat mabuk bersama teman-temannya, tapi teman-temannya bersatu padu berusaha mewujudkannya meski Gilang kembali didera rasa ragu. Maka berangkatlah Gilang ke London tanpa memberi kabar pada Ning terlebih dulu. Gilang ingin memberi kejutan pada Ning.
Namun setiba di London, Gilang mendapati rumah kos Ning kosong. Rupanya gadis itu tak pulang beberapa hari. Dengan gontai, Gilang pun memilih menunggu Ning di penginapan Madge. Di sana ia bertemu orang-orang yang kemudian tanpa ia sangka akan mempengaruhinya. Petualangan Gilang di London selama lima hari, bukan lagi hanya demi mengejar Ning, tapi memaknai perasaan terdalamnya. Akankah Gilang sanggup menyatakan cintanya? Lalu bagaimana dengan persahabatan mereka? Akankah semua berakhir bahagia?

--------------------

Saya membaca buku ini karena rekomendasi dua orang. Satu sesama member BBI Joglosemar dan satu lagi cowok yang ngakunya baper abis karena buku ini. Jatuh cinta pada sahabat sendiri, berapa banyak di antara kita yang telah mengalaminya?
Saya sendiri sempat ragu karena sahabat jadi cinta itu bukan saya banget. Tapi toh saya akhirnya tetap terseret juga dalam arus jalinan kisah cinta sendu berlatar London ini.

London merupakan buku keempat seri STPC yang saya baca, setelah Athena, Paris dan Holland. Sejak pertama membuka novel ini saya sudah terpukau dengan gaya Windry Ramadhina dalam menggambarkan settingnya. Luar biasa. Windry menuliskan dengan jelas bukan hanya detail latar tapi juga suasananya. Sesuai dengan judulnya, ini memang tentang London, bukan hanya tentang seorang pemuda kasmaran yang terbang ribuan mil untuk mengejar gadisnya. Saya dibuat takjub dengan pesona kota ini yang dituangkan dengan tepat ke dalam kata-kata oleh Windry.

London diceritakan menggunakan sudut pandang orang pertama dari sisi Gilang. Unik. Nggak banyak novel yang mengambil sudut pandang tokoh pria sepenuhnya sepanjang cerita, dan London adalah salah satunya. Maka saya pun diajak menyelami ceruk perasaan Gilang yang terdalam, rahasia hati yang dipendamnya dan kegalauannya untuk bertindak. Dilema yang dia rasakan terasa kuat dan begitu mempengaruhi saya. Berulang kali saya hampir ingin menjitak atau menendang bokong Gilang, saking gemasnya. Saya memang nggak tahan dengan karakter cowok yang gampang galau dan melow.
Tapi tetap saja saya mengagumi keromantisan dan ketertarikannya pada karya sastra klasik. Gilang juga menjadi sosok yang penuh empati, caranya bercanda terasa hangat dan akrab. Well, dia memang mudah dicintai.

Ada tiga karakter wanita dalam novel ini. Ning, sahabat yang dicintai Gilang, yang membuat Gilang rela jauh-jauh ke London untuk menyatakan cinta. Goldilocks, gadis misterius yang luar biasa cantik dan misterius. Dan ada pula Ayu, gadis Jakarta yang juga menjadi turis di London untuk berburu cetakan pertama Wuthering Height. Di antara ketiga gadis ini, saya justru penasaran pada Goldilocks, justru pertemuan Gilang dengan gadis inilah yang saya nantikan dengan harap cemas. Saya justru merasa Ning tidaklah begitu istimewa, meski Gilang jatuh cinta berat padanya. Di mata saya, chemistry Gilang dan Goldilocks lah yang paling mengena di hati saya.

Selain latar London yang disajikan dengan apik, banyak pula trivia tentang sastra klasik dan seni yang ditebarkan dengan rapi di dalam novel ini. Dan kesan melow tokoh prianya seperti menyatu dengan cuaca London yang sendu. Ditambah lagi dengan temponya yang lambat, menyelesaikan novel ini serasa cukup berat bagi saya. Soo gloomy.
Tapi untungnya side story antara Madge dan John menjadi penyegar yang ampuh. Saya malah menyukai hubungan mereka.

"Menunggu cinta bukan sesuatu yang sia-sia. Menunggu seseorang yang tidak mungkin kembali, itu baru sia-sia." (hlm. 247)

Dari London saya belajar arti melepaskan melalui Madge. Mencintai bukan berarti mengungkung diri. Meratapi dan menutup diri bulanlah wujud rasa cinta. Hanya menyakiti diri sendiri dan menyakiti orang di sekitar kita. Dan London juga mengajarkan arti perjuangan. Nggak ada yang sia-sia bila kita telah berjuang. Meski hasilnya nggak seperti yang kita inginkan, tapi pasti ada harapan dan kebahagiaan setelah kita berjuang.

Overall, saya lumayan terhibur dengan novel ini. Bagi kamu yang suka romance sendu, kisah tentang mencintai seorang sahabat sendiri dan memendamnya bertahun-tahun, dengan latar kota London yang indah, saya sarankan untuk membaca novel ini :)

Kamis, 24 November 2016

[Booktour: Review & Title Interpretation] (Never) Looking Back - Elvira Natali

Judul Buku: (Never) Looking Back
Penulis: Elvira Natali
Editor: Tesara Rafiantika
Desainer sampul: Agung Nugroho
Penerbit: Gagas Media
Tahun terbit: 2016
Tebal buku: 272 halaman
ISBN: 978-979-780-867-9



BLURB

"Aku ingin melihatmu bahagia, tetapi bersamaku. Hanya bersamaku."

Casta selalu yakin, seterjal apa pun jalannya, impian harus bisa dicapai. Karena itulah, ia meninggalkan Jakarta, meninggalkan cinta, untuk mewujudkan mimpinya menjadi seorang desainer di Paris. Ia terbiasa hidup seorang diri, tak terlalu memedulikan jika hatinya sepi.

Namun, pertemuan tak sengaja dengan Phillip Bouvier, seorang seniman pasir, membuatnya sadar bahwa ia tak bisa selamanya sendiri. Kepada Casta, laki-laki yang pernah kehilangan itu menemukan kembali kepercayaan akan cinta. Mereka saling mengisi kekosongan yang lama menggelayut di hati.

Ternyata, cinta tak selalu seperti dongeng. Orang dari masa lalu Casta hadir kembali dan meninggalkan jejak yang tak mungkin terhapus. Casta tak ingin melepaskan genggaman Phillip. Namun, ia juga tahu, ketidaksempurnaannya telah meninggalkan luka mendalam bagi lelaki itu. Sama sepertimu, Casta dan Phillip juga membutuhkan seseorang yang mendekap hatinya. Keduanya tak pernah bisa menerka akhir mana yang terbaik untuk mereka.


RESENSI

Dunia seakan ada di genggaman Casta saat ini. Betapa tidak, ia yang seorang yatim piatu, yang berangkat ke Paris untuk menimba ilmu sebagai desainer melalui beasiswa, kini telah menjadi salah satu desainer top papan atas di Paris. Puncaknya adalah ketika ia menjadi opener dalam Paris Fashion Week dan namanya diberitakan di mana-mana.
Ketika pikirannya buntu, Casta memutuskan pergi ke London untuk mencari inspirasi. Tak disangka, insiden kecerobohan kecil membawanya berkenalan dengan Phillip Bouvier. Meski perkenalan awal mereka kurang menyenangkan, tapi itu tak mencegah niat mereka untuk bertemu lagi, lagi dan lagi. Hingga mereka saling mendalami apa yang mereka simpan dalam hati masing-masing.
Namun, tiba-tiba saja, pria dari masa lalu Casta muncul. Adalah Kevin, seorang pembalap F1 top dunia yang merupakan teman dan mantan kekasih Casta. Pertemuan kembali itu membawa nostalgia yang ternyata kebablasan.
Ketika hati Casta mantap memilih, ia mendapati konsekuensi dari perbuatan sembrononya. Casta terjebak dilema. Apakah ia bisa mempercayai Phillip dan menyerahkan hatinya? Ataukah ia harus meminta pertanggungjawaban Kevin dan mengingkari degup jantungnya?

********

(Never) Looking Back merupakan novel yang ringan dan mudah dibaca. Membaca novel ini menjadi pengalaman yang menyenangkan untuk mengisi waktu yang cukup luang. Ini juga menjadi kali pertama saya membaca karya Elvira Natalia dan saya lumayan menikmatinya.
Dibuka dengan prolog tujuh tahun sebelumnya, membuat benak saya dibuat bertanya-bertanya sepanjang melahap habis novel ini. Akan seperti apa hubungan Casta dan Kevin setelah mereka terpisah jarak dan waktu. Namun, meskipun pada akhirnya saya mendapatkan jawabannya toh tetap saja masih ada banyak pertanyaan tak terpuaskan di benak saya.

Novel ini menggunakan sudut pandang orang ketiga serba tahu. Membuat saya dengan gamblang merasakan apa yang dirasa oleh para tokohnya. Kadang saya ikut kesal, ikut bingung dan ikut geleng-geleng mengikuti polah Casta. Temponya begitu cepat dan banyak lompatan waktu yang kentara. Ini membuat saya mudah terhanyut dan terbawa hingga tanpa sadar telah tiba di akhir kisah. Deskripsi, narasi dan dialognya berimbang dengan takaran yang pas. Walau masih kurang mendetail dalam bangunan setting waktu dan latarnya, tapi jalinan kisahnya sendiri sudah menyita rasa penasaran saya.

Dalam (Never) Looking Back, Casta merupakan heroine yang disebutkan mandiri, ceria dan kuat. Ia begitu fokus pada cita-citanya dan berusaha melakukan yang terbaik. Namun kesempurnaan pribadi itu remuk ketika ia bertemua Phillip. Casta mulai berani bergantung. Saya rasa ini sweet. Bergantung bukan berarti perempuan jadi melemah, bergantung berarti perempuan semakin kuat terutama dalam hal mempercayai. Apalagi kalau pria itu seperti Phillip, yang meski rela melakukan apa saja demi Casta tapi masih mrnggunakan logikanya. Mereka pasangan yang manis dan chemistrynya lumayan asyik.

TITLE INTERPRETATION

Membaca judul novel ini mau nggak mau saya cukup berpikir keras. Saya sering mendapati kata yang dikurung di beberapa judul novel dan selalu sulit paham. Hahaha.. Tapi mari saya kupas berdasar judul keseluruhannya: Never Looking Back.

Bisakah kita benar-benar meninggalkan masa lalu di belakang kita tanpa pernah menengoknya lagi?
Saya sendiri merasa nggak mungkin. Entah kenangan manis atau pahit, saya perlu mengintip sejenak ke masa lalu untuk pembelajaran diri. Sudah tepatkah langkah saya? Sudah kuatkah saya dari hari kemarin? Sudah sebaik apa saya dibanding waktu lalu?
Dan seperti itulah Casta dan Phillip. Ada kenangan pahit di masa lalu yang menghancurkan hati mereka, tapi toh hal itu menjadi cambuk bagi mereka untuk bangkit dan meraih masa depan yang lebih bahagia. Menatap ke belakang, memetik pelajaran dan kemudian mengikhlaskan, itulah yang dilakukan Casta dan Phillip sehingga mereka semakin tenang menapaki masa depan mereka masing-masing.
(Never) Looking Back membuat saya mengerti, nggak ada yang salah dengan masa lalu, nggak ada yang salah dengan menatap ke belakang sejenak untuk menyadari bahwa betapa kuatnya kita sekarang.

******GIVEAWAY TIME*******



Bagaimana? Sudah membaca review dan tittle interpretation saya? Sudah cukup penasaran dan mupeng abis sama novel unyu satu ini?
Nah buat kalian, saya akan membagikan satu eksemplar novel (Never) Looking Back untuk satu orang pemenang.

Syaratnya mudah saja seperti biasa ya:

1. Peserta adalah warga negara Indonesia atau memiliki alamat pengiriman di Indonesia.

2. Follow akun twitter @elpignutt, @Gagasmedia dan @KendengPanali, kemudian share info GA ini dengan mention ke akun kami berempat dan jangan lupa sertakan hashtag #NeverLookingBack

3. Boleh banget kalau mau follow blog ini via email, G+ atau GFC yang bisa dilihat di bagian samping postingan ini. (Optional saja dan nggak memaksa).

4. Jawab pertanyaan berikut di kolom komentar dengan menyebutkan nama | akun twitter | domisili | alamat email. Dan pertanyaannya adalah:

Apa arti masa lalu bagimu?

5. Giveaway akan berlangsung selama lima hari dan ditutup pada tanggal  28 November 2016 pukul 23.59 WIB.

6. Jika ada pertanyaan, jangan segan colek saya di akun saya, ya. Good luck :))

*********UPDATE*******

Halooo... Lima hari sudah berlalu, dan pastinya giveaway (Never) Looking Back. Terima kasih untuk semua peserta yang sudah ikut memeriahkan book tour ini. Kalian luar biasa. Masa lalu membuat kalian kuat, sama seperti Casta dalam novel ini.
Tanpa perlu panjang lebar lagi, sekarang saya mau mengumumkan satu orang pemenang yang beruntung mendapatkan satu eksemplar (Never) Looking Back dan dia adalah......



 Bety Kusumawardhani
@bety_19930114


Selamat kepada pemenang!!! Saya tunggu data alamat lengkap dan nomor telepon kamu via email saya nurinawidiani84(at)gmail(dot)com paling lambat dalam 2 x 24 jam.

Bagi yang belum beruntung jangan sedih yaa... Masih ada kesempatan mendapatkan novel ini di host yang lain :)


Kamis, 17 November 2016

[Serba-Serbi] Wishlist Arisan Joglosemar

Seharusnya sih sudah dari beberapa hari lalu saya memasang postingan ini di blog, agar petugas kado arisan BBI Jolosemar bisa mulai mencari. Tapi ya gimana ya. Sejak awal bulan saya stuck di telegram, ketagihan main werewolf dan nggosip nggak jelas (nyepik-nyepik dikit juga).
Well, tapi toh buku yang saya mau (sepertinya) nggak susah juga dicari. Jadi tolong dimaafkan kalau saya baru posting wishlist sekarang. Dan.... inilah buku-buku yang saya inginkan untuk ulang tahun saya 😊 :


Cinta Tak Pernah Tepat Waktu - Puthut EA



Tadinya kepingin cetulnya Isyarat Cinta yang Keras Kepala karena covernya lebih cakep dari yang sebelumnya. Tapi setelah dipikir lagi, saya lebih suka yang CTPTW sih. Dan belum punya juga, ya sudah akhirnya pilihan saya jatuh ke buku ini.


The Governess Affair (Skandal Sang Duchess) - Courtney Milan



Courtney Milan itu salah satu penulis favorit, dan kata Mbak Desty yang sudah baca duluan, novella ini lucu khas Courtney Milan. Apalagi saya sudah punya yang A Kiss for Midwinter, masa seri awalnya malah belum punya. Saya bela-belain menahan diri baca Midwinter demi nunggu punya novella yang ini dulu.


Genduk - Sundari Mardjuki



Buku yang menjadi kandidat pemenang Kusala Sastra 2016 ini covernya bikin jatuh hati. Diih cetek ya alasan saya.. Tapi ciyus, covernya yang sederhana itu malah bikin saya penasaran. Apalagi setelah baca ulasan Raafi tentang buku ini bikin semangat saya untuk memilikinya semakin menggebu.


Anak Ini Mau Mengencingi Jakarta?



Saya sudah ngidem kumcer ini sejak lama. Sempat pengin minta buku ini buat reward Battle Challenge, tapi kalah dari keinginan saya untuk punya Raden Mandasia. Jadi, sepertinya memasukkan buku ini ke wishlist arisan joglosemar adalah ide bagus. Siapa tahu saya akhirnya berjodoh dengan buku ini.


Rumah Kertas - Carlos María Dominguez



Buku yang satu ini menggiurkan banget. Membaca blurbnya saja udah bikin saya semangat dan penasaran. Apalagi Mas Dion nulis review di goodreads sampai pakai kepslok. Kan jadi makin pengen. Wkwkwk


Selamat Menunaikan Ibadah Puisi - Joko Pinurbo



Kurang afdol rasanya kalau dalam daftar wishlist nggak ada buku puisi. Dan Joko Pinurbo adalah idola. Sayangnya saya belum punya kumpulan puisi yang satu ini. Ratingnya memang nggak tinggi amat, tapi saya sih kalau sudah merasa suka, biar orang lain berkata apa, saya tetap suka. #ehgimanasik


Yap demikianlah wishlist saya untuk ulang tahun saya yang tinggal menghitung minggu. Saya tinggal pasrah saja pada keputusan sang petugas kado. Semoga petugas kadonya baik hati dan sabar mencarikan buku-buku buat saya. Ngahahahaha....

Senin, 14 November 2016

[Blogtour: Resensi + Giveaway] Tentang Kamu - Tere Liye

Judul buku: Tentang Kamu
Penulis: Tere Liye
Editor: Triana Rahmawati
Penerbit: Republika Penerbit
Tahun terbit: Oktober 2016
Tebal buku: 524 halaman
ISBN: 9786020822341



BLURB

Terima kasih untuk kesempatan mengenalmu, itu adalah salah satu anugerah terbesar hidupku. Cinta memang tidak perlu ditemukan, cintalah yang akan menemukan kita.

Terima kasih. Nasihat lama itu benar sekali, aku tidak akan menangis karena sesuatu telah berakhir, tapi aku akan tersenyum karena sesuatu itu pernah terjadi. Masa lalu. Rasa sakit.

Masa depan. Mimpi-mimpi. Semua akan berlalu, seperti sungai yang mengalir. Maka biarlah hidupku mengalir seperti sungai kehidupan.


RESENSI

Zaman Zulkarnaen adalah seorang pengacara muda yang menjadi associate di firma hukum Thompson & Co., sebuah firma hukum yang merupakan legenda hidup. Pengacara mereka adalah kesatria gagah berani pembela kebenaran, bekerja keras untuk memastikan setiap harta warisan diselesaikan seadil mungkin. Dan kali ini, Zaman disodori kasus yang sangat penting. Ia harus menyelesaikan perkara warisan seorang perempuan tua yang meninggal di sebuah panti jompo di Paris, dan ternyata memiliki harta warisan sebesar satu miliar poundsterling. Nama wanita itu Sri Ningsih.
Zaman memulai investigasinya di panti jompo tempat Sri Ningsih menghabiskan masa tuanya, di sana ia bertemu dengan perawat muda bernama Aimée. Dari Aimée, Zaman mendapat petunjuk pertamanya, sebuah buku harian milik Sri Ningsih yang terbagi dalam lima juz. Berbekal buku harian dan foto-foto lama, Zaman berangkat menyusuri tempat-tempat tak terbayangkan untuk mencari ahli waris Sri Ningsih. Yang tak bisa Zaman duga adalah, penyusuran ini membawanya pada kisah yang memilukan, tentang kesabaran, persahabatan, keteguhan hati, cinta, dan memeluk semua rasa sakit.

---------------------

Tentang Kamu menjadi kisah yang luar biasa dan saya merasa begitu sayang untuk berhenti membacanya. Betapa tidak, saya dibawa berpetualang menyusuri kota demi kota, masa demi masa, dan saksi demi saksi. Perjalanan yang seru banget dan bikin berdebar-debar. Membaca novel ini bukan hanya sekedar menelusuri dan menguak jejak kisah hidup Sri Ningsih, tetapi juga menapaki kebaikan dan kepolosan seorang gadis yang tangguh.

Banyak pertanyaan yang meliar dalam benak saya sejak awal kisah, karena begitu minimnya informasi yang ada. Dan Tere Liye merupakan penulis yang sabar, memberikan kepingan puzzlenya secuil demi secuil dalam waktu yang tepat. Paling tidak ini membuat perjalanan Zaman menelusuri siapa Sri Ningsih sepanjang 524 halaman bukanlah hal yang membosankan.
Apalagi deskripsi setting tempatnya luar biasa detail. London, Paris, Sumbawa, Surakarta, Jakarta. Semua tempat begitu terasa nyata latar dan atmosfernya.
Saat Zaman menggali informasi dari saksi-saksi hidup yang mengenal Sri, saya dibawa pada sejarah-sejarah yang telah dilewati Sri. Betapa Sri telah melewati segalanya, masa kemerdekaan, masa politik komunis, masa peristiwa malari bahkan euforia pernikahan Lady Diana dan Pangeran Charles. Tere Liye mengaitkan kehidupan Sri dengan peristiwa-peristiwa penting sehingga rasanya Sri begitu istimewa.

Zaman adalah tokoh sentral novel ini, sebagai pengacara muda berbakat ia memiliki prinsip dan integritas luar biasa. Bertekad baja dan pekerja keras. Pantang menyerah sebelum menuntaskan misinya. Betapa gigihnya ia menelusuri petunjuk sekecil apa pun. Sedangkan Sri merupakan tokoh utama di atas segalanya. Penderitaan dan kehilangan bertubi-tubi menderanya, tapi ia tetap tersenyum, tetap tabah. Kepolosan dan kesucian pikirannya benar-benar langka bahkan mungkin di masanya. Namun kesabaran dan kegigihannyalah yang membawanya sejauh itu, seagung itu.
Cukup banyak tokoh sampingan dalam novel ini, tapi semuanya memberi peran penting, nggak ada tokoh yang hanya selintas lewat. Bisa dibilang semuanya punya detail karakter yang sangat kuat.

Tentang Kamu memang merupakan novel paket komplit. Semacam mencicipi gado-gado yang disajikan dengan baik dan terasa lezat. Ada tragedi, komedi, thriller dan romantisme yang manis, yang diramu dalan porsi yang pas. Ditambah lagi banyak trivia sejarah dan pengetahuan umum dalam novel ini. Bagaimana saya nggak jatuh cinta membacanya?
Meski saya merasa ada bagian-bagian yang terasa kaku dalam interaksi antar tokohnya, mungkin karena beberapa tokohnya memang dibuat unik dan berbeda. Jujur saya memang nggak bisa membayangkan logat dan cara bicara Rajendra Khan. Bisa jadi karena saya jarang menonton film india tanpa dubbingan. Karena sungguh sebenarnya Rajendra ini kocak banget dan semestinya bisa mencairkan suasana.

Secara keseluruhan, Tentang Kamu menjadi kisah yang membuka mata. Seorang gadis dari pulau kecil yang menerima kebencian, penderitaan, pengkhianatan dan kehilangan dengan sabar. Ia melihat masa lalu hanya sebagai kenangan dan kekuatan untuk terus maju. Kegigihan dan ketabahan adalah pesona utama novel ini. Dan Tere Liye menyampaikannya dengan begitu baiknya.


**********GIVEAWAY TIME***********




Nah, sudah baca review Tentang Kamu? Sudah merasa penasaran? Tenang... Saya punya DUA eksemplar novel Tentang Kamu yang akan dibagikan bagi pemenang yang beruntung ;)

Caranya mudah saja seperti biasa:

1. Peserta adalah warga negara Indonesia atau memiliki alamat pengiriman di Indonesia.

2. Follow akun twitter @bukurepublika dan akun saya @KendengPanali 

3. Share info giveaway ini dengan hashtag #TentangKamu dan jangan lupa memention kedua akun di atas.

4. Boleh banget kalau mau follow blog ini via email, G+ atau GFC yang bisa dilihat di bagian samping postingan ini. (Optional saja dan nggak memaksa).

5. Jawab pertanyaan berikut di kolom komentar dengan menyebutkan nama | akun twitter | domisili | alamat email. Dan pertanyaannya adalah:

Jika kamu harus memilih antara sahabat sejati atau kebenaran, mana yang akan kamu pilih?

6. Giveaway akan berlangsung selama lima hari dan ditutup pada tanggal  18 November 2016 pukul 23.59 WIB.

7. Jika ada pertanyaan, jangan segan colek saya di akun saya, ya. Good luck :))

*******UPDATE*******

Yuhuu... akhirnya blogtour Tentang Kamu sudah berakhir di blogku. Sungguh luar biasa merasakan semangat teman-teman mengikuti blogtour ini. Jawaban yang diberikan pun benar-benar luar biasa.
Sebenarnya ujian antara kebenaran dan persahabatan, juga harus dihadapi Sri Ningsih dalam episode hidupnya, dan saya bisa memetik pelajaran darinya.

Jadi pemenang kali ini adalah mereka yang jawabannya paling mendekati situasi Sri Ningsih dan mereka adalah...

Nama: Nur Rachmawati. Z
Twitter: @OmbakBintang

Nama : Viby Diana
Twitter : @vibydiana

Selamaaaat kepada dua orang yang beruntung. Saya tunggu data nama dan alamat kalian di nurinawidiani84(at)gmail(dot)com paling lambat 2 x 24 jam ya.

Bagi yang belum beruntung, jangan sedih. Masih ada dua bloghost yang akan memandu blogtour Tentang Kamu. Keep reading ya guys ;)

Minggu, 13 November 2016

[Resensi] Typo - Christian Simamora

Judul buku: Typo
Penulis: Christian Simamora
Editor: Alit Tisna Palupi
Designer sampul: Dwi Anissa Anindhika
Ilustrasi isi: Maillor
Penerbit: Twigora
Tahun terbit: Juli 2016
Tebal buku: 476 halaman
ISBN: 9786027036277



BLURB

KETIKA TUHAN TAK MERENCANAKAN
LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN UNTUK BERJODOH,
PARA ORANGTUA AKAN TURUN TANGAN 
UNTUK MENYATUKAN MEREKA. 

Di usianya yang keempat belas tahun, Maisie Varma dijodohkan dengan Josh Mallick oleh kedua ayah mereka. Meskipun sama-sama tak suka dengan keputusan sepihak itu, Mai dan Josh memilih untuk belajar beradaptasi dengan satu sama lain ketimbang membangun nyali untuk menentangnya. 

Tapi kemudian, di malam pergantian tahun, Oma Josh yang baru mendengar tentang perjodohan itu langsung protes keras. Bukan itu saja, beliau memaksa para ayah untuk membatalkan pertunangan malam itu juga. Semuanya pun kembali seperti semula—kecuali bagi Mai. Dia sungguh-sungguh tak menyangka, status tunangan Josh selama beberapa hari membuatnya jatuh cinta untuk kali pertama.

Novel #jboyfriend kali ini merupakan kronologis cinta putri satu-satunya keluarga Varma. Tentang gelenyar yang membungkus perasaan Mai dalam bahagia, juga tentang hal-hal manis yang membuat pipinya sering merona merah. 

Novel ini juga akan bercerita banyak tentang anak bungsu keluarga Mallick. Si mantan tunangan yang bertanggung jawab membuat Mai jatuh hati sekali lagi, juga yang mengingatkannya bahwa perasaan itu tak lebih dari sekadar typo. Kesalahan hati yang harus Mai koreksi. 


Selamat jatuh cinta,

CHRISTIAN SIMAMORA 


RESENSI

What your heart feels now is a typo... (hlm. 348)

Sejak kemunculan novel ini saya sibuk bertanya-tanya sendiri, mengapa judulnya TYPO? Tadinya saya kira ini singkatan, tapi ternyata judulnya memang Typo, yang merujuk pada typography. Nah...nah... apa pula hubungannya novel romance dengan kesalahan eja? Jelas saya makin penasaran.

Saya lumayan keder juga dengan ketebalannya, dan ternyata saya memang kesulitan menyelesaikan novel ini. Rasanya nggak kelar-kelar juga. Bagi saya, Typo memang cukup membosankan di awalnya, beberapa adegan terasa klise, bagi pembaca romance seperti saya, bisa dibilang sudah ratusan kali saya mrmbaca adegan jilat-emut jari. Atau pijit-kaki-lecet-karena-sepatu. Biasanya saya suka adegan-adegan novel Christian Simamora yang cheesy tapi unik, punya cita rasa sendiri, tapi di dalam Typo adegan cheesynya terasa boring dan biasa.
Untungnya seorang teman menyemangati saya dan menyuruh saya membaca sampai akhir. Yah, tanpa disuruh pun sebenarnya saya pasti bakal membaca tuntas. Saya bukan jenis pembaca DNF, apalagi ini novel penulis favorit saya. Dan benar saja, setelah setengah buku berlalu, novel ini makin seru.
Adalah adegan tarik ulur yang saya suka. Apalagi adegan Josh merana. Huaaa... Saya suka bangeeeeett. Wkwkwk~
Bicara soal adegan, favorit saya adalah saat Josh menawarkan page marker yang sengaja dibawanya. Awww... itu sweet banget buat saya. Tindakan paling manis dari seorang cowok adalah ketika dia menyadari apa yang dibutuhkan ceweknya dan membekali dirinya sendiri.

Novel ini menggunakan sudut pandang orang ketiga dengan fokus utama bergantian pada Josh dan Mai. Settingnya mengambil tempat di Jakarta dan Bali. Detail tempatnya juara banget, Christian Simamora selalu bisa menyertakan pernik yang seru untuk mendeskripsikan settingnya. Seperti novel-novel sebelumnya juga, detail tentang busana bertaburan di dalam Typo. Gaya bertutur yang lincah membuat novel ini enak diikuti, dialognya pun menunjukkan betapa kuat chemistry antar tokohnya.

"Relationship itu lebih dari sekadar berpelukan, berpegangan tangan, berciuman... Relationship isn't about who you can see your life with, but who you can't see your life without." (hlm. 31)

Christian Simamora memang paling jago untuk ngajak baper. Bukan hanya dialog yang quotable tanpa berkesan menggurui, tapi novelnya juga selalu menyajikan quote-quote keren di awal bab dan yang lebih menggoda lagi adalah ilustrasi yang kece badai. Benar-benar memanjakan saya yang menyukai novel historical romance.
Apalagi, Mai digambarkan sebagai seorang readet yang  gemar melahap novel-novel karya Carina St. Tropez. Mungkin itulah yang bikin saya merasa terkoneksi dengan Mai. Saya merasa nyambung dengannya.

Karakter dalam novel ini loveable banget. Baik Josh maupun Mai. Tentang Mai saya suka karena dia cerdas, mandiri dan seru. Saya suka ikatan persahabatannya dengan Duchess, bersahabat dengan orang-orang yang sangat berbeda dengannya, tapi Mai tetap jadi diri sendiri. Saya suka gayanya.
Sedangkan Josh benar-benar adorable. Tindak-tanduknya manis banget dan penuh perhatian. Dan saya juga suka dengan hubungannya yang mesra dengan kakak-kakaknya. Super sweet.

Adegan panasnya saya anggap lumayan hot. Selain lebih dari sekali, gambarannya juga cukup detail. Seru dan nggak monoton karena Mai dan Josh bisa dibilang mencoba beberapa posisi. So, novel ini memang benar-benar novel dewasa sesuai dengan labelnya yang ada di halaman belakang.
Maka saya rekomendasikan novel ini buat para pencinta hisrom, buat para ratu baper seperti Mai, dan tentunya buat kalian yang telah dewasa ;)

Selasa, 08 November 2016

[Blogtour & Giveaway] Seaside - Zee

Judul buku: Seaside
Penulis: Zee (Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie)
Penyunting: Misni Parjiati
Tata sampul: Amalina
Penerbit: Senja
Tahun terbit: 2016
Tebal buku: 236 halaman
ISBN: 978-602-391-263-6



BLURB

Awalnya, dia hanya gadis biasa. Juga mulai terbiasa menghadapi guncangan besar ketika ayahnya masuk penjara akibat ulah musuh-musuhnya. Tapi, begitu dibutakan oleh amarah, dia mulai mengumpulkan setiap informasi dan menyusun rencana balas dendam.

Gadis itu membuat kesepakatan dengan iblis. Langkah penuh risiko dia lalui, dibantu oleh seseorang yang masih misterius.

Satu demi satu targetnya berjatuhan. Dan dia menikmati setiap tetes darah yang mengalir di tangannya. Apakah masih ada tempat untuk nurani? Apakah dia masih mampu memaafkan?


RESENSI

Ketika sang papa yang sedang menyelidiki kasus korupsi dijebak dan dijebloskan ke dalam penjara, Aku merasa berang. Papa adalah satu-satunya keluarga yang Aku miliki, setelah Aku merasa kecewa karena sang mama dan saudara-saudaranya menolak mendukung papa. Dengan hati-hati, Aku merencanakan balas dendamnya. Baginya tak cukup dengan mata dibalas mata, Aku menginginkan lebih. Aku menginginkan nyawa mereka yang telah membuat papanya dipenjara. Para pejabat korup, dan juga para penegak hukum yang mudah tergiur uang.
Aku mulai menyusuri jalan kelamnya. Memulai dari sang informan, Aku bertemu dengan Anon, seseorang yang melatih fisik dan mentalnya sebagai pembunuh tak kenal ampun. Namun bukan hanya dari Anon, Aku mengasah dirinya. Aku juga bertemu pemuda seusianya, yang melatihnya sebagai pelacur, demi bisa mendekati para pejabat korup. Dan dari pemuda itu pula, Aku menemukan kenyamanan dan kepercayaan. Namun bisakah rencananya berjalan mulus hingga akhir?

------------------------------

Seaside merupakan karya ketiga Ziggy yang telah saya baca. Dan saya masih saja dibuat terpukau dengan betapa bunglonnya gaya bertutur Ziggy. Sudah tiga bukunya saya baca, tapi saya menemukan dimensi yang lain dari novel-novel sebelumnya. Membaca Seaside seperti menyusuri labirin Square Maze di acara Benteng Takeshi. Tahu kan? Itu lho labirin dengan banyak pintu dan 2 algojo kekar yang bisa-bisa tiba-tiba ada di balik pintu. Nah, seperti itulah yang saya rasakan saat membaca novel ini, prepare for the worst but still hoping for the best. Jadi saya hanya mampu mengikuti laju kisah ini dan berharap dengan berdebar-debar. Karena saya percaya, Ziggy selalu mampu mengejutkan saya dengan twistnya, dan benar saja. Ha!

Membuka bagian awal novel ini, yang langsung menarik perhatian saya adalah judul tiap babnya. Semua judul diawali dengan sea: Seance, Sealion, Seaweed, Seabed, Seafood, Seasick, Search, dan seterusnya. Total ada sebelas part dan satu epilog yang menggunakan judul dengan kata sea. Hal yang cerdas dan unik menurut saya.

Novel ini menggunakan sudut pandang orang pertama yaitu Aku, sehingga saya dihanyutkan pada seluk beluk pikiran Aku yang diliputi dendam dan kecurigaan. Menarik untuk ditelusuri dan bikin bergidik di beberapa bagiannya. Saya merasakan kengerian, kesadisan dan kecemasan yang melingkupi kisah ini. Namun saya juga menemukan romantisme yang manis di tengah keriuhan dendam. Membuat saya sempat berharap.
Seaside mengambil beberapa setting tempat, di Lampung, Bandung, Jakarta, bahkan hingga ke Scheveningen. Semua settingnya dideskripsikan dengan detail yang apik dan rapi. Diksi yang digunakan Ziggy dalam Seaside begitu kaya dan unik, benar-benar enak untuk dinikmati. Dialognya begitu luwes dan hidup. Ini sebabnya saya sangat menyukai Seaside, karena chemistrynya pun terasa sangat tebal dan kuat.

Membaca novel ini adalah mencecap rasa karya Ziggy yang lain; rasa yang lebih menyengat, rasa yang membuat bergidik, rasa yang lebih brutal. Ziggy cukup terperinci dengan adegan pembunuhan para target Aku. Semua dengan cara yang berbeda, dan semua menakjubkan. Tapi meski berdarah-darah dan berlumur dendam, Ziggy mengimbangi kesadisan Aku dengan romance gelap yang dirasakan Aku. Walau haus darah, Aku nyatanya toh tetap gadis polos yang bisa jatuh cinta.

Ziggy pernah memukau saya dengan musik-musik klasik yang berjejalan di dalam novelnya, di Seaside pun, Ziggy masih melakukannya. Beberapa judul lagu, nama penyanyi dan nama band bertebaran di dalam novel ini, menarik dan bikin penasaran. Terutama lagu yang kemudian seolah menjadi soundtrack Aku dalam melakukan pembunuhan.

"Peristiwa yang mengubah manusia itu selalu menarik. Perubahan manusia sendiri menarik. Dan manusia yang berubah... they're more than fascinating." (hlm. 145)

Karakter dalam novel ini begitu bulat dan matang. Saya merasakan transformasi Aku dari gadis biasa namun keras kepala menjadi mesin pembunuh andal dan berdarah dingin. Bisa dibilang ia menghabisi para targetnya tanpa berkedip, tanpa ragu. Aku hanya merasakan saat-saat emosional saat bersama partner in crimenya. Tokoh-tokoh yang bergantian muncul untuk membantunya pun punya karakter yang khas. Mereka muncul dan langsung memikat saya, dengan gaya yang asyik, rasanya mudah saja untuk menyukai mereka.

"Bahkan meskipun mereka nggak akan menghargai pengorbanan kamu, pada akhirnya kalau kamu berjuang, kamu nggak akan pernah menyesal. Mungkin saja kamu salah. Mungkin saja kamu kalah. Tapi kamu nggak jatuh tanpa perlawanan. Meski kamu bisa saja kecewa dengan hasilnya, kamu nggak akan kecewa dengan prosesnya. Dan itu yang membuat kamu kuat—itu yang membuat kamu berarti." (hlm. 111)

Dari Seaside saya merasa Ziggy ingin menyentil hukum yang kadang begitu mudah dibeli. Kadang hukum begitu mudah mengkhianati kebajikan dan malah memuja uang. Di situlah balas dendam berbicara. Namun sekali Aku mengambil langkah ke dalan rasa dendam yang kelam, nggak ada jaminan untuk kembali. Nggak ada waktu untuk menyesali, selain maju dan menuntaskan semuanya hingga akhir. Dan menanti. Apakah dendam bisa berhenti. Atau justru dendamnya memunculkan rasa dendam yang lain lagi.
Saya sungguh sangat menikmati buku ini, sampai-sampai saya mempertanyakan diri saya sendiri, apa saya diam-diam punya jiwa psikopat? Namun terlepas betapa mengerikannya aksi Aku, keahlian bercerita Ziggylah yang membuat novel ini begitu hidup. Namun saya tetap merekomendasikan novel ini bagi dewasa muda, atau bagi yang kuat membaca adegan pembunuhan.


*******GIVEAWAY TIME*******



1. Peserta adalah warga negara Indonesia atau memiliki alamat pengiriman di Indonesia.

2. Follow akun twitter @divapress01 dan akun saya @KendengPanali juga like fanpage Penerbit Diva Press

3. Share info giveaway ini dengan hashtag #GASeaside dan jangan lupa memention kedua akun di atas.

4. Boleh banget kalau mau follow blog ini via email, G+ atau GFC yang bisa dilihat di bagian bawah postingan ini. (Optional saja dan nggak memaksa).

5. Jawab pertanyaan berikut di kolom komentar dengan menyebutkan nama | domisili| akun twitter | alamat email. Dan pertanyaannya adalah:

Pernahkah kamu merasa dendam? Apa yang kamu lakukan untuk mengatasinya?

6. Giveaway akan berlangsung selama sepekan dan ditutup pada tanggal 14 November 2016 pukul 23.59 WIB.

7. Pengumuman pemenang akan diumumkan tanggal 15 November 2016, bagi yang belum beruntung bisa mengikuti GA di bloghost selanjutnya: Alvina

8. Jika ada pertanyaan, jangan segan colek saya di akun saya, ya. Good luck :))

******UPDATE******

Haii... sepekan sudah giveaway novel ini berlangsung. Terima kasih yaa untuk para peserta yang luar biasa. Jawaban kalian banyak yang bijak meski ada juga yang lucu. Tapi yang terpenting ternyata teman-teman keren banget karena bisa menyisihkan dendam dan amarah.

So, sekarang saya akan mengumumkan satu nama yang beruntung karena jawabannya saya anggap lumayan kocak, mengimbangi kelamnya novel ini, dan karena mengingatkan saya pada Anon 😉 Dan yang beruntung adalaaaaah....

Dani N.
@dnv22

Selamaaaaat... Saya tunggu data nama dan alamat lengkap kamu lewat dm atau email saya nurinawidiani84(at)gmail(dot)com paling lambat 2 x 24 jam.

Bagi yang belum beruntung jangan sedih yaaa... Karena masih ada dua host lagi yang menyelenggarakan blogtour ini. Dan karena saya masih punya dua giveaway buku unyu di bulan ini.
Keep reading ya, gaeesss 😊😊

Kamis, 03 November 2016

[Resensi] Unlocked - Courtney Milan

Judul buku: Membuka Hati Sang Lady
Judul asli: Unlocked
Seri: Turner #1,5
Penulis: Courtney Milan
Alih bahasa: Harisa Permatasari
Proof: Nindy
Desain sampul: Marcel A.W
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Desember 2013
Tebal buku: 200 halaman
ISBN: 978-602-03-0090-0



BLURB

Lady Elaine Warren tidak menyukai pesta. Ia selalu menjadi bulan-bulanan karena tawanya yang dianggap terlalu keras dan seperti kuda. Itulah sebabnya ia sengaja tak menonjolkan diri dan berusaha tidak menarik perhatian dalam setiap acara. Dan semuanya baik-baik saja, sampai pria itu kembali. Pria yang hanya akan membuatnya sengsara seperti dulu. Namun ia bertekad takkan membiarkannya menang.

Evan Carlton, Earl of Westfeld, sangat populer dan berpengaruh. Terlalu berpengaruh hingga olok-oloknya terhadap Elaine bertahun-tahun lalu bertahan hingga kini. Evan tahu perilakunya di masa lalu tak terpuji, dan sekarang bertekad akan memperbaikinya. Namun ketika Elaine mengabaikan permintaan maafnya, Evan menyadari ia menginginkan lebih. Dan kali ini, yang menyiksanya mungkin cintanya kepada wanita itu... 


RESENSI

Setelah sepuluh tahun meninggalkan London dan berpetualang mendaki gunung, Evan Carlton kini kembali ke ton sebagai Earl of Westfeld setelah kematian ayahnya. Dulu Evan adalah anak emas—tampan, populer dan disukai semua orang. Ia gemar melontarkan lelucon yang membuat orang-orang tertawa paling nyaring, termasuk Lady Elaine.
Sejak awal season, Evan telah terpesona pada Lady Elaine, namun merasa malu ia membuat lelucon konyol tentang tawa Lady Elaine yang mirip kuda. Semua orang tertawa, dan mulai mengolok Lady Elaine. Evan baru menyadari kesalahannya saat Elaine mulai menarik diri. Rasa bersalah Evan pun membuatnya melakukan tindakan pengecut dengan kabur dari London.
Elaine tak pernah menyangka akan bertemu lagi dengan Evan. Meski berusaha tegar dan tak memedulikan ejekan orang-orang, jauh di dalam dirinya ia merasakan sakit hati terhadap Evan. Namun kini, pria itu kembali dan menyatakan permintaan maaf dan bahkan melamarnya. Apakah ini hanya trik perangkap lain untuk mempermalukannya? Ataukah Evan memang bersungguh-sungguh?

------------------

Unlocked atau Membuka Hati Sang Lady adalah novella tambahan untuk seri Turner. Tadinya saya berharap, Courtney Milan akan menuliskan kisah Richard Dalrymple. Namun karena minat asmara Richard cenderung menyimpang, tentunya bakal sulit menuliskannya. Dan jujur saja saya sama sekali nggak punya bayangan tentang siapa Lady Elaine dan Evan Carlton, serta apa hubungan mereka dengan kakak-beradik Turner. Baru di pertengahan cerita disebutkan bahwa Elaine pernah disebut-sebut sebagai calon potensial untuk Mark Turner, dan bahwa ia juga merupakan teman dekat Margareth, Duchess of Parford.
Itu sebabnya saya merasa novella ini bisa dinikmati bahkan meski pembaca belum mengenal Turner bersaudara. Karena kehadiran Ash, Margareth dan Mark hanya muncul sekilas, itu pun mendekati akhir cerita.

Unlocked bersetting di Hampshire di bulan Juli tahun 1840, tentunya setting di mana Ash telah menikah dengan Margareth dan Mak masih melajang. Meski berupa novella, Courtney Milan tetap saja detail dalam menuliskan settingnya, membuat tempat dan suasana terbentuk dengan mudah di benak saya. Bukan dalam bentuk narasi-deskripsi panjang yang melelahkan, namun diselipkan dalam adegan-adegan yang penting, sehingga semakin memperkuat jalinan kisahnya.

Dikisahkan menggunakan sudut pandang orang ketiga, novella ini memuaskan batin saya dengan curahan perasaan Evan yang melimpah di dalamnya. Sudut pandang yang saya suka banget. Plotnya begitu rapi dan mengalir. Saya sendiri masih tetap tergila-gila pada cara bertutur Courtney Milan, bayangkan saja, saya nangis DUA KALI membaca novella ini, ditambah berlinang air mata satu kali.
Memang nggak bisa dipungkiri kalau kisah love-hate relationship adalah favorit saya. Benci jadi cinta. Bagaimana sang hero kemudian berusaha keras mendapatkan hati sang heroine. Saya selalu jatuh cinta pada kisah klise ini. Tapi Courtney Milan menuliskannya dengan begitu apik dan menyentuh.

Karakter Evan sungguh dewasa, terlepas dari sikap sembrononya di masa muda: pria muda yang populer tapi melakukan kesalahan pada gadis yang dipujanya. Keputusannya untuk lari meninggalkan London memang pengecut, tapi ia mengubahnya menjadi petualangan yang membentuk pribadinya. Perjalanannya menaiki gunung membuatnya sadar. Lagi-lagi Courtney Milan menunjukkan kepiawaiannya dalam membuat detail tentang profesi Evan.
Saya suka bagaimana Evan berusaha bersikap gentleman, dan juga tak ragu mengungkapkan perasaannya.
Elaine di sisi lain merupakan gadis yang kuat hati. Ejekan dan cemoohan yang diterimanya membuatnya menjadi teguh. Ia begitu cerdas dalam membalikkan ejekan Diana, dan menantang mereka semua dengan berani.

Kalau ditanya adegan mana yang saya suka dalam novella ini, jawabanya adalah semua. Saya suka adegan-adegannya, saya suka dialognya, saya suka penggambaran suasananya, dan juga suka suara serta kepedihan hati Evan.

"Aku akan menjadi temanmu pada siang hari. Aku akan memperlakukanmu sebagai rekan setara di semua ruang dansa terang benderang. Tapi sendirian, di bawah cahaya bulan, aku takkan berpura-pura tidak menginginkanmu menjadi milikku." (hlm 136)

Konfliknya bukan hanya tentang usaha Evan mendapatkan maaf dan hati Elaine, tapi juga konflik antara Diana dan Elaine. Diana merupakan bangsawan yang masih berpegang bahwa ia harus menindas agar tidak ditindas. Perannya sebagai antagonis dalam novel ini sangat pas dan ngeselin banget. Ia mengejek, melakukan trik licik, mencari-cari kelemahan Elaine untuk menindasnya, dan menolak gagasan Evan untuk menghentikan cemoohannya.
Penyelesaian konfliknya memang bisa ditebak. Tapi toh tetap terasa manis. Aaahhh pokoknya saya suka dengan endingnya.

Secara keseluruhan, Unlocked menjadi kisah tambahan yang sama memesonanya seperti kisah tiga bersaudara Turner. Bahkan novella inilah yang paling menyentuh saya. Jadi bagi kamu penyuka kisah cinta yang manis silakan baca Unlocked.
 

Nurina mengeja kata Published @ 2014 by Ipietoon