Kamis, 25 Agustus 2016

[Resensi] Bermain Bersama Tini 4 - Gilbert Delahaye & Marcel Marlier

Judul buku: Bermain Bersama Tini #4
Penulis: Gilbert Delahaye
Ilustrator: Marcel Marlier
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Agustus 2016
Tebal buku: 88 halaman
ISBN: 9786020333243



BLURB

Ayo kita bermain bersama Tini dan teman-teman!
Nikmati gambar-gambarnya yang indah saat kita ikut dalam berbagai petualangan seru.

Tini di Sekolah
Tini Belajar Main Musik
Tini Kehilangan Anjing
Tini dan Tetangga yang Aneh


RESENSI

Ada murid baru di kelas Tini, namanya Gita, asalnya dari India. Ada yang tahu di mana letak India? Wah Tini dan teman-temannya ternyata tahu. Hari itu banyak yang dipelajari Tini di sekolah, ia membaca buku, mendongeng, melukis, menulis surat, bahkan menangkap kecebong. Wah seru sekali.
Ada juga kisah Tini Belajar Main Musik saat liburan. Berawal dari menonton pawai drum band, Tini berkenalan dengan Isabella, seorang pemain celo. Wah kira-kira bisa tidak ya Tini memainkan alat musik ini?
Di kisah ketiga, Tini Kehilangan Anjing. Karena saking serunya bermain Indian dengan Yan, Tini lupa mengawasi Pupi. Maka ketika Pupi lari mengejar dua ekor kucing, Pupi pun hilang. Tini mencari Pupi ke seluruh penjuru kota. Bisakah Tini menemukan Pupi?
Yang terakhir, ada Tini dan Tetangga yang Aneh. Saat kucing Tini hilang, ada dugaan bahwa itu ulah tetangga Tini yang aneh dan kelakuannya mirip penyihir. Tini pun mengendap-endap menyelidiki sang tetangga. Benarkah Sitronela adalah seorang penyihir?

-----------------

Tini adalah kenangan manis. Bagi generasi yang lahir di tahun 1980-an dan telah mengenal buku dan membaca di masa kecilnya, pasti akrab dengan Tini. Seingat saya dulu judulnya cuma Tini, tapi saya ingat banget kalau saya jatuh cinta dengan gambarnya. Sementara ceritanya sih, saya lupa hahaha...

Jadi nggak salah dong kalau saya berniat memiliki Bermain Bersama Tini untuk anak-anak saya. Karena saya ingin mereka merasakan antusiasme yang sama dengan yang saya rasakan dulu. Pada awalnya, saya sempat was-was karena buku ini kan menuturkan kisah tentang seorang anak perempuan, padahal anak-anak saya jenis kelaminnya laki-laki. Saya takut dong kalau mereka bakal menganggap buku ini bukan bagian dari mereka.
Tapi sejak pertama membuka segel, membacakannya sampai tuntas, hingga menutup buku, saya nggak mendapati satu pun kalimat protes dari mereka. Yang ada, putra sulung saya malah langsung minta bukunya buat disampul, dan ditaruh di rak bukunya. Ahay... Kenapa bisa begitu ya?

Saya rasa daya tarik utama Belajar Bersama Tini adalah dari artworknya. Ilustrasinya kece dan seolah hidup. Mimik ekspresi mukanya digambar dengan tepat, detailnya juara, dan perpaduan warnanya kalem tapi juga kaya warna. Dari satu halaman saja, saya dan anak-anak perlu beberapa menit untuk mengeksplorasi gambar apa saja yang ada di situ. Bahkan di cerita pertama, sikap Tini dan teman-temannya di dalam kelas begitu beragam dan ajaib. Dan memang seperti itulah suasana kelas anak saya. Jadi mungkin itu sebabnya si sulung merasa suka dan terhubung dengan ceritanya.
Detail latarnya juga lengkap dan kaya. Klasik dan cantik. Banyak sekali ekspresi muka dan gestur tubuh yang unik dan lucu. Namun semua itu merupakan perwujudan potret sesungguhnya dari apa yang ada di sekitar kita. Sungguh menjadi sesi yang seru saat anak-anak menanyakan banyak hal terkait dengan gambarnya yang detail.

Karakter Tini adalah karakter yang anak-anak banget. Tini suka mempelajari hal baru, suka mengajukan pertanyaan untuk memuaskan rasa ingin tahunya, friendly dan mau berteman dengan siapa saja, pergi ke mana-mana naik sepeda, juga sayang pada hewan peliharaan. Mungkin ini yang membuat anak saya nggak mengerenyit seperti jika ia membaca dongeng princess. Tini bisa seru-seruan menangkap katak dan kecebong, Tini bersepeda ke mana-mana dan Tini penuh petualangan. Siapa yang nggak bakal suka coba?

Untuk ceritanya sendiri sebenarnya kurang tuntas dan terkesan melompat-lompat. Misalnya saja sebelum pelajaran ada teman Tini yang membawa tikus putih, lalu menyimpan keranjangnya di atas lemari. Saya kira ini akan menjadi benang merah untuk cerita pertama, tapi nyatanya tidak. Karena... memang tidak ada benang merahnya. Kisahnya benar-benar seperti ketika saya menanyai si sulung tentang kegiatannya di sekolah, semua hanya berupa fragmen-fragmen yang ia anggap penting untuk diceritakan, tanpa perlu berpikir kaitannya antara awal dan akhir ceritanya. Nah, seperti itulah kisah dalam buku Bermain Bersama Tini. To the point, informatif dan sekaligus memberi pesan moral.

Buku ini berisi empat kisah tentang Tini. Dari kesemuanya saya paling suka dengan kisah yang terakhir. Tini dan Tetangga yang Aneh. Sifat anak-anak yang selalu ingin tahu, penasaran dan kadang juga nekat, benar-benar terwujud dalam kisah ini. Seru sekali petualangan Tini menyelidiki siapa sebenarnya Sitronela. Kisah ini menjadi penutup yang sempurna bagi ketiga cerita sebelumnya yang juga nggak kalah seru dan keren.

Saya sih sangat merekomendasikan buku ini. Sebuah buku yang tetap hidup dari generasi ke generasi. Buku yang bagai mesin waktu, karena saat saya membacakannya untuk anak-anak, saya pun seolah terlempar ke puluhan tahun lalu, saat kakek membacakan Tini untuk saya.

Rabu, 24 Agustus 2016

[Resensi: The Rebel King - Melissa James] Takdir Hidup Sang Raja Pemberontak

Judul: Raja Pemberontak
Judul asli: The Rebel King
Penulis: Melissa James
Penerjemah: Fia Mirtasari
Editor: Bayu Anangga
Sampul: Marcel A.W.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: November 2014
Tebal buku: 280 halaman
ISBN: 9786020310428



BLURB

Charlie Costa, si pemadam kebakaran, tahu persis apa yang harus dilakukannya untuk menyelamatkan orang saat kebakaran. Tetapi ketika mengetahui bahwa ia sebenarnya calon raja yang harus segera menikah demi menyelamatkan negaranya, Charlie tak bisa berkata-kata! Ia tidak mau menjadi raja, ataupun menikahi Putri Jazmine… secantik apa pun dia. Sikap kasar dan kesan brengsek yang ditunjukkan Charlie tidak sedikit pun mengelabui Putri Jazmine. Charlie mungkin berusaha membohongi orang lain bahwa ia adalah pemberontak, tapi Putri Jazmine tahu siapa Charlies sebenarnya. Pria itu adalah pria baik, tangguh, dan sanggup menjadi raja yang sejati. 


RESENSI

Novel harlequin yang saya baca kali ini adalah percobaan pertama saya meminjam ebook di ipusnas. Sangat excited karena novel ini nggak juga tersedia di Ijakarta. Saya memang belum pernah membaca karya Melissa James, dan ketika membaca blurbnya saya merasa ide ceritanya cukup menarik.

Khas novel harlequin, selalu ada perubahan besar dan mendadak yang menimpa si tokoh utama. Cuma kali ini, di novel Raja Pemberontak ini, si tokoh utama tadinya adalah seorang pemadam kebakaran. Pria biasa yang dielu-elukan sebagai pahlawan karen berhasil menyelamatkan nyawa anak-anak dalam peristiwa kebakaran hebat. Dan kemudian bumi gonjang ganjing langit kelap kelap, ketika Charlie dinyatakan sebagai pewaris takhta kerajaan Hellenia.

Novel ini bersetting di Australia lalu pindah ke sebuah kerajaan Yunani kecil dengan sudut pandang orang ketiga dan plot yang rapi. Dengan alur yang lumayan lambat, pertentangan hati Charlie dilukiskan dengan akurat. Ada bagian di mana ia ingin lari kembali ke Australia dan menjalani kehidupan lajangnya yang ia anggap bahagia namun ada bagian yang membuatnya ingin tetap tinggal. Bagian itu adalah kebahagiaan Lia, adiknya, dan sosok Jazmine yang menggodanya sejak pertama.
Saya suka interaksi antara Charlie dan Jazmine. Sedikit aneh memang melihat tarik ulur mereka, dan saya juga nggak paham kenapa mereka mempertengkarkan hal yang remeh, tapi saya suka saat Charlie mulai membujuk Jazmine. Kata-katanya penuh dengan humor dan kecerdasan. Saya juga suka setiap kali Charlie membantah kata-kata sang raja. Pinter banget membalikkan omongan. Haha...

Karakternya serasi dan sungguh menyenangkan. Apalagi profesi Charlie tadinya adalah pemadam kebakaran. Seorang pahlawan yang mengandalkan kekuatan dan kecepatan berpikir. Saya anggap Charlie bukanlah orang yang nekat, ia menyelamatkan nyawa dengan memakai akal dan pertimbangan. Itu keren menurut saya. Dan profesinya membuat ia cocok menjadi raja. Raja yang diharap mampu menyelamatkan rakyatnya dari keterpurukan akibat perang saudara yang berkepanjangan. Jadi sang calon raja ini nggak sepenuhnya urakan, tapi juga sebenarnya sangat cerdas dan penuh pertimbangan.
Saya cukup suka dengan Jazmine. Tadinya saya kira saya bakal sebel karena belum-belum Jazmine sudah menilai Charlie dengan buruk. Tapi ternyata, justru mereka jadi pasangan yang bikin gemas saking seringnya tarik ulur dan saling bergairah tapi nggak jadi-jadi. Wkwkwk...

Mengenai perasaan dan motif sang raja sudah bisa saya tebak sih. Dan bagian Charlie bertemu atau berdialog dengan raja menjadi bagian favorit saya. Karena saya antusias dan deg-degan menunggu kata-kata apa yang aka diucapkan Charlie untuk membalas sang raja.
Lalu yang bikin saya penasaran justru malah hubungan Lia dengan Max dan Toby. Saya merasa hubungan kakak beradik Costa dengan Toby pastilah spesial, tapi Max lumayan juga karakternya. Jadi apakah kisah cinta Lia bakal ada kisahnya sendiri?

Bagi saya ini adalah perkenalan yang manis dengan karya Melissa James. Memang klise, yaaah cerita harlequin mana sih yang nggak klise. Tapi Raja Pemberontak diceritakan dengan apik dan menarik. Saya nggak bisa berhenti membaca naik-turunnya hubungan dua orang yang dari luar tanpak berrtolak belakang ini.
Bagi kalian yang ingin menikmati kisah perubahan hidup seorang pahlawan yang maskulin dan seksi menjadi raja yang gagah dan berwibawa, coba deh baca novel ini. Ringan, menghibur dan cukup asyik. Tapi awas jangan sampai jatuh cinta pada sang rebel king. Hahaha...

Selasa, 23 Agustus 2016

[Resensi] Perfect Wedding - Putu Felisia, Catz Link Tristan, Achi Narahashi

Judul: Perfect Wedding
Penulis: Putu Felisia, Catz Link Tristan, Achi Narahashi
Desainer kover: Chyntya Yanetha
Penerbit: Grasindo
Tahun terbit: Februari 2015
Tebal buku: 220 halaman
ISBN: 9786022518921



BLURB

Julia

“Kenapa kamu terima lamarannya?"
"Karena dia sesuai dengan gambamn pria ideal gang selalu kita impikan. Kaya, tampan, mapan, baik, dan tidak pernah terlihat menggandeng banyak pacar."
“Dia mengatakan perasaannya padamu?"
Aku kembali menggeleng.
“Dia pernah menciummu?"
"Dia pernah memelukku... Oh! Dan berpegangan tangan saat foto prewed."
"Astaga, J..."

Meisha

“Aku nggak tahu kenapa orang-orang masih ingin menikah. Mengetahui persiapannya saja sudah membuatku gila.""
“Serius, kamu benar-benar nggak tahu? Kamu perlu nikah karena kamu bisa ‘having fun' sepuasnya tanpa harus takut dosa!" well, mungkin itu salah satu keuntungan pernikahan.
Tapi menukarkan kebebasanku hanga untuk itu? Oh, tidak! Setidaknya aku memang, belum siap untuk itu.

Octa
"Sebenernya menikah itu untuk apa? Aku selalu berpikir, pernikaham itu hanya tanda tangan di atas kertas perjanjian. Laki-laki memberi nafkah. Perempuan melayani seumur hidupnya. Mungkin akan ada hal-hal lain di dalam perjanjian itu. Aku tak tahu, tapi... dengan semua yang terjadi, aku... "


RESENSI

Novel ini mempunyai konsep yang unik. Kisah tentang sebuah pernikahan yang dipandang dari tiga sisi yang berbeda oleh tiga wanita. Siapa bilang pernikahan adalah impian semua wanita, kadang ada beberapa wanita yang punya prinsip berbeda tentang pernikahan dan ada yang terbelenggu sebuah masa lalu sehingga gamang untuk melangkah ke dalam pernikahan. Dengan kover yang cantik minta ampun ini, tiga penulis: Putu Felisia, Catz Link Tristan dan Achi Narahashi merangkai tiga buah kisah.

Novel ini dawali dengan kisah tentang J atau Julia karya Catz Link Tristan. Dengan sudut pandang orang pertama yaitu dari sisi Julia, saya dijejali dengan keluh kesah si calon penganti wanita ini.
Kisahnya lumayan membosankan karena gaya bertuturnya lebih condong pada telling dan bukannya showing. Jadi saya pasrah-pasrah aja membaca uraian Julia tanpa bisa merasakan hal yang dirasakan si tokoh utama ini. Apalagi saya sama sekali nggak merasakan chemistry baik antara Julia dengan Dixon maupun Julia dengan Josh.
Detail pekerjaan tokohnya pun kurang jelas. Masak sih Julia sebagai sekretaris nggak ada kerjaan lain selain antar kopi, antar koran dan melamun? Ini sekretaris apa office girl?

Julia digambarkan sebagai karakter yang menyepelekan pernikahan. Bagi dia yang penting ada pria sempurna yang melamar, urusan cinta bisa dipupuk belakangan. Tapi, ternyata dia nggak berusaha untuk berkomunikasi. Saya jadi bertanya-tanya juga, umur Julia ini berapa sih? Kok masih kayak anak kecil. Ceroboh sih nggak masalah, tapi milih calon pasangan nikah kayak milih kue. Helloooo... ini perkara orang yang bakal menemani seumur hidup, lho. Main terima aja hanya karena ganteng, mapan dan baik.
Pesan yang disampaikan mama bagus tuh, bahwa untuk masuk ke hubungan pernikahan harus ada komunikasi. Saling menghargai juga.
Yang saya dapatkan di sini adalah seorang karakter utama perempuan yang belum matang pikirannya yang menganggap pernikahan hanyalah tentang persiapan pesta dan perayaan kemudian tergoda pria dari masa lalu, tapi menganggap dirinya bakal jadi istri yang sempurna. Tanpa mau menggali masa lalu, kecocokan dan rencana masa depan dengan pasangan. Huffft....

Kisah yang kedua adalah kisah Mei karya Achi Narahashi. Kisah ini pun menggunakan sudut pandang orang pertama, yaitu dari sisi Mei. Namun berbeda dengan kisah sebelumnya yang adegannya ditampilkan dalam narasi, di kisah ini lebih berimbang dalam hal narasi dan dialog. Meskipun dialog yang muncul adalah dialog yang terlihat nggak natural.
Mungkin karena keterbatasan halaman, tokoh utamanya jadi terlihat berusaha menonjolkan karakternya. Mei yang sexy, free and single. Yang biasa menaklukkan cowok-cowok namun tanpa landasan yang kuat. Apakah memang sifatnya begitu, ataukah itu hanya di permukaan saja, entahlah.
Dan yang saya sayangkan, karakter Mei yang playfull ini nggak kelihatan di kisah sebelumnya, atau di kisah J. Seolah Mei yang saya baca di sini bukanlah Mei yang ada di awal.
Lalu lagi-lagi konfliknya klise dan mudah ditebak. Eksekusinya lumayan sih, tapi flat saja bagi saya.

Yang terakhir adalah kisah Octa karya Putu Felisia. Bagi saya, ini kisah yang plotnya paling rapi dan karakter tokohnya lebih bulat. Cara bertuturnya enak dan pilihan katanya juga lebih kaya.
Saya suka bagaimana saya dibuat bertanya-tanya dan berusaha menggabungkan kepingan informasi yang diberikan sepotong demi sepotong dengan sabar oleh si penulis. Rasa putus asa dan kemandirian Octa tertangkap jelas oleh saya tanpa usaha berlebihan.
Bahkan cara Putu Felisia memainkan perasaan saya pun sangat stabil. Putu Felisia tetap berimbang memberi kesempatan pada kedua tokoh pria, hingga sampai lembar-lembar terakhir saya masih belum bisa menebak siapa yang akan dipilih Octa.
Karakternya penuh, emosinya kuat, chemistrynya bagus. Kisahnya dipekuat dengan narasi yang kaya informasi terutama budaya India. Adegan romantismenya dapet banget dan nggak kacangan.
Untunglah cerita ini adalah cerita penutup sehingga bisa menutup lubang kekecewaan saya yang sempat menganga karena dua kisah sebelumnya.

Minggu, 21 Agustus 2016

[Resensi] The Proposal of Love - Mayya Adnan

Judul: The Proposal of Love
Penulis: Mayya Adnan
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tahun terbit: Agustus 2014
Tebal buku: 344 halaman
ISBN: 9786020245256



BLURB

Aira Maharani seorang gadis manis dan cerdas yang bekerja sebagai peneliti di Lembaga Konsultan Politik yang bertugas untuk mendampingi Vivian Mahesa selama jelang Pemilukada dihadapkan dengan tugas baru yang menjengkelkan. 

Dan itu berhubungan dengan Raditya Mahesa putra bungsu dari Reynaldi dan Vivian Mahesa, Raditya yang tampan, CEO Mahesa grup, playboy dan gemar bersenang-senang sering membuat keluarganya pusing bukan main. Selain itu apa tugas baru Aira?


RESENSI

Aira Maharani yang sedang terburu-buru tanpa sengaja menabrak Raditya Putra Mahesa dan membuat berkas-berkas Aira berhamburan, sementara jas dan kemeja Raditya ketumpahan kopi. Tapi Raditya tak menyangka kalau Aira, adalah peneliti dan pendamping ibu Radit untuk maju ke pemilukada. Ia harus bekerja sama dengan Aira untuk mensukseskan ibunya.
Raditya pun menyadari kalau Aira ternyata sangat cerdas dan sangat menarik. Sayangnya, Aira sangat dekat dengan Dimas, sepupu Raditya yang juga atasan Aira. Mereka sangat akrab, bahkan orangtua dan puteri Dimas pun begitu dekat dengan Aira. Raditya pun berusaha bersikap sinis dan membenci Aira. Meski ternyata hal itu sangat sulit dilakukan.
Bagi Aira sendiri, berdekatan dengan Raditya membuat hatinya lelah dan terluka. Kadang pria itu sangat manis namun di kala lain bersikap amat berengsek. Belum lagi para wanita cantik yang selalu ada di dekat Radit dan bebas menyentuh dan mencium pria itu tanpa Radit merasa keberatan.
Bisakah Radit membunuh perasaannya dan merelakan Aira untuk Dimas? Atau akankah ia bersikap jantan dan berusaha merebut Aira?

----------------------

Ini pertama kalinya saya mencicipi novel karya Mayya Adnan. Agak ragu-ragu sih karena saya nggak suka covernya. Tapi dibanding dua judul yang lain, The Proposal of Love ini yang paling rada mendingan, dan akhirnya mendorong saya untuk mencoba membaca novel yang diangkat dari wattpad ini.

The Proposal of Love menggunakan dua sudut pandang. Ada sudut pandang orang pertama, yang bergantian dari sisi Aira dan dari sisi Raditya, kemudian ada juga sudut pandang orang ketiga. POV semacam ini memang jamak di wattpad, dan setahu saya, Elex Media Komputindo merupakan salah satu penerbit yang membebaskan penulisnya untuk berganti sudut pandang, meskipun karya tersebut bukan berasal dari wattpad. Nggak membingungkan sih bagi saya, karena setiap pergantian sudut pandang, selalu ada nama tokoh yang mengawali, untuk memandu saya agar tahu siapa yang sedang bercerita. Tapi Aira dan Raditya sedikit terasa masih punya "suara" yang sama. Meski sudah menggunakan pembeda gaya bahasa (Aira memakai aku-kamu, Raditya memakai lo-gue), kadang suaranya masih terasa berasal dari orang yang sama.

Plot novel ini sayangnya masih kurang rapi. Dan ini membuat saya bertanya-tanya apakah memang novel ini nggak dibimbing seorang editor? Karena saya yakin, dengan bimbingan yang benar, pembenahan yang tepat, pasti novel ini bisa lebih bersih dari typo dan lebih rapi.
Alur novel ini maju-mundur dengan beberapa kali flashback. Yang cukup mengganggu bagi saya adalah penulisan "flashback" setiap kali adegan mundur ke beberapa saat sebelumnya. Saya lebih suka penulis bermain dengan sedikit narasi untuk membawa pembaca ke masa lalu. Saya menganggap kata flashback hanyalah seperti jalan pintas yang terlalu mudah bagi seorang penulis.
Setting pedalamannya pun saya masih agak ragu di mana. Apa saya kelewatan detailnya ya? Yang jelas saya buta lokasi kecuali ketika adegan ada di Jakarta.

Yang saya suka dari novel ini adalah usaha Mayya Adnan untuk menyelipkan seluk beluk pemilihan umum. Pekerja humas yang bekerja di balik proses pemenangan calon itu keren banget lho. Saya sih selalu menganggap tim sukses itu keren. Bukan tim sukses yang suka ikut mejeng di koran atau di televisi, sih. Tapi mereka yang mengolah data dan melakukan riset juga memeras otak untuk memenangkan si calon. Tapi mungkin bagi beberapa pembaca yang alergi politik, novel ini bisa jadi membosankan.
Padahal saya rasa ada pesan baik dalam novel ini tentang pemilu yang benar dan bersih. Saya sih merasa ini penting terutama bagi pembaca muda yang bisa jadi adalah pemilih pemula nantinya.

Untuk karakter, memang terasa masih lemah. Aira cukup okelah bagi saya. Mandiri dan cerdas, tapi bisa klepek-klepek pada pandangan pertama. Haha... Aira juga wanita sejati yang nggak terlalu ribet sama kalori dan dandanan. Tapi saya sih penginnya Aira nggak begitu aja suka sama Raditya. Apa sih kualifikasi yang dimiliki Raditya yang bisa bikin jatuh cinta.
Memang dari awal saya merasa ilfil banget sama Raditya. Saya kira dia pria manja. Tapi dari obrolannya dengan Aira dan momen-momen saat rapat, dia ternyata cerdas juga. Cuma ya itu tengilnya nyebelin. Kenapa Aira nggak gaplok aja si Radit sekali-sekali, sih.

Saya sempat nangis baca novel ini, tapi lupa di bagian mana. Ahahaha... Tapi ya saya akui, saya terhanyut sama curahan hati Raditya dan frustasinya dia sampai ke saya. Saya anggap sih itu sebagai poin tambahan untuk novel ini. Seandainya dialog-dialog cerdasnya diperbanyak saya sih makin suka. Cukup sekali dua kali saja si pria merajuk manja, jangan banyak-banyak. Hihihiii...

Overall, saya suka dengan novel ini. Memang masih banyak kekurangan, dan saya berharap seandainya ada cetak ulang, kebolongan dan typonya bisa diperbaiki. Hmm... Saya sih mulai melirik nama Mayya Adnan dan nggak ragu untuk membaca novelnya yang lain.

Sabtu, 20 Agustus 2016

[Resensi] Three Days To Remember - Christina Juzwar

Judul: Three Days To Remember
Penulis: Christina Juzwar
Ilustrator: Fransisca Rivan
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Maret 2014
Tebal buku: 240 halaman
ISBN: 9786020302379



BLURB

Phillip tak pernah menyangka bahwa Indira, wanita yang pernah ia cintai—sekaligus membuat hatinya hancur—muncul kembali. Padahal ia bersumpah tak akan pernah memikirkan atau menemuinya lagi.

Indira memohon pada Phillip agar mau bersamanya ke Pulau Beta—tempat yang dulu menyatukan mereka. Ini merupakan permintaan terakhir Indira karena gadis itu akan segera meninggalkan Indonesia dan tak akan kembali. Tak tega menolak, Phillip mengikuti permintaan Indira.

Namun, tiga hari kebersamaan itu menguras pahit-manis kenangan yang pernah terjalin di antara mereka.

Membuka rahasia.

Mencipta cerita berbeda tentang arti cinta. 


RESENSI

Sudah lama rasanya saya nggak membaca novel Amore-nya GPU. Padahal saya punya niat untuk nggak menyerah pada lini ini. Karena memang cukup sulit menemukan novel Amore yang bagus. Rata-rata kebanyakan ide ceritanya kurang nendang atau kisahnya datar-datar saja.

Kali ini saya membaca Three Days To Remember karya Christina Juzwar. Kalau diingat sepertinya ini kali kedua saya membaca karya Christina Juzwar. Novel ini cukup membuat saya tertarik karena warna covernya yang membiru.

Novel ini diceritakan menggunakan sudut pandang orang ketiga, dengan porsi fokusnya lumayan berimbang antara Indira dan Phillip. Dengan mudah saya bisa memahami perasaan-perasaan kedua tokohnya. Alur kisahnya yang maju-mundur, ditulis dengan apik dan rapi. Nggak bikin bingung karena satu kejadian di masa kini menyeret ingatan akan masa lalu. Menggali kenangan lama dan memunculkannya ke permukaan. Saya suka bagaimana Christina membuat benang merah untuk masa kini dan masa lalu sehingga bisa terhubung dan muncul dalam cerita. Meski ada juga yang terasa dipaksakan.

Konflik utamanya adalah dua insan yang masih memendam perasaan yang sama, dan salah satu pihak berusaha memperbaikinya. Tapi saya merasakan inkonsistensi juga dalam penokohan karakternya. Semacam rada labil.
Tadinya saya pikir Phillip digambarkan sebagai pria dewasa. Banyak sifat baiknya yang sengaja ditampilkan. Keluarganya yang harmonis. Sifatnya yang penuh perhatian dan penyayang. Kesukaannya pada anak-anak (yang terasa nggak alamiah di mata saya), semua sifat baik itu entah kenapa rasanya palsu dan kurang meyakinkan. Seperti terlalu dibuat-buat. Justru sifat yang terlihat Phillip banget adalah saat dia cemburu buta, asal tuduh, nggak mau dengar penjelasan dan nggak cukup percaya pada Indira. Asli... sifat yang itu bulat banget dalam sosok Phillip.
Sama halnya juga dengan karakter Indira. Di mata saya yang terlihat adalah Indira yang sok bahagia, sok asyik. Sifatnya yang terlalu ceria dan nggak mau membagi kesedihan itu rasanya nggak manusiawi. Bikin gondok. Makanya saya suka ketika di Pulau Beta dia berani keluarin semua unek-uneknya. Semua kesedihannya. Semua kemarahannya.
Itu wujud yang sebenarnya dari usahanya untuk meraih hati Phillip kembali. Dan di adegan itulah baru saya melihat manusiawinya Indira.

Three Days To Remember bertutur dengan mengutamakan dialog. Sayangnya dialog antar tokohnya kurang cair dan aneh. Saya nggak bisa membayangkan cowok asli mengucapkan kalimat-kalimat yang diucapkan Phillip.... kecuali di sinetron. Huhuuu. Mungkin hanya ada satu dari sepuluh pria yang bakal ngomong seperti itu. Contohnya saja... Mas Rangga dalam AADC. *doeeeng*

Bagi saya, novel ini masih terasa berputar-putar dan bertele-tele. Konfliknya hanya simple sebenarnya tapi seperti ditunda-tunda untuk diselesaikan. Dan sebenarnya, apa yang dialami oleh Indira juga sudah saya tebak sih sejak mereka mau berangkat ke Pulau Beta. Thanks to Olaf yang sudah kasih clue.
Dan penyelesaiannya umm... lumayan bergantung pada miracle ya. Saya sih sudah pasrah mau sad ending ya nggak apa-apa. Toh mereka udah menyelesaikan apa yang terjadi dua tahun lalu. Atau mungkin karena saya nggak merasa terkoneksi dengan si tokoh makanya nggak bahagia juga nggak apa-apa? #plak
Tapi yaaah endingnya lumayan manis kok. Melegakan lah.

Overall, saya nggak terlalu menikmati novel ini. Tapi boleh lah dibaca saat senggang sambil membayangkan, apa yang akan kita lakukan dengan mantan selama tiga hari, jika diberi kesempatan lagi untuk bersama. Ehem.

Jumat, 19 Agustus 2016

[Resensi] French Pink - Prisca Primasari

Judul buku: French Pink
Penulis: Prisca Primasari
Editor: Anin Pratajuangga
Desainer sampul & ilustrasi: Nisa Nafisa dan Riva Marino
Penata isi: Yusuf Pramono
Penerbit: Grasindo
Tahun terbit: Oktober 2014
Tebal buku: 80 halaman
ISBN: 9786022516873



BLURB

Di Distrik Jiyugaoka yang mungil, cantik, dan berwarna-warni, Hitomi tiba-tiba bertemu pria aneh yang mengungkit-ungkit tentang kematian.

Siapa sebenarnya pria itu? Dan... lho, lho, mengapa dia jadi menyuruh Hitomi mencarikan syal warna French Pink? Mana mungkin sih pria beraura gelap seperti itu menyukai warna pink? Dan untuk apa juga?

Ck. Sungguh. Pria itu benar-benar merepotkan Hitomi.

RESENSI

Hitomi sudah tak mampu lagi mengenali warna. Semua warna baginya hanya hitam. Padahal ia pemilik toko pita terkenal di distrik Jiyugaoka. Seandainya ia berani, ia ingin bunuh diri saja.
Namun begitu ia selesai mengucapkan keinginannya untuk mati, seorang laki-laki muncul dan mengusiknya. Laki-laki itu berpakaian serba hitam dan menanyakan mengapa Hitomi ingin mati. Merasa janggal terhadap pria itu, Hitomi pun buru-buru mengakhiri pertemuan mereka.
Tapi keesokannya, Hane, si laki-laki itu datang lagi dan meminta bantuan Hitomi untuk mencarikan pita berwarna English Lavender. Bukan itu saja, ia juga minta dicarikan syal berwarna French Pink dan kertas kado berwarna hitam.
Siapa sebenarnya Hane? Benarkah ia seorang shinigami? Dan apa arti ketiga permintaannya itu?

---------------------

Ini keempat kalinya saya membaca novel karya Prisca Primasari. Dan keempat kalinya pula saya merasa puas. Meski saya cukup kaget juga karena tipisnya novel ini dan sempat meragukan kepadatan ceritanya. Tapi saya salah besar karena sempat ragu dan skeptis, ternyata hanya dengan beberapa lembar saja, Prisca Primasari mampu menyajikan kisah yang padat, menghanyutkan dan memberi kesan mendalam. 

French Pink diceritakan menggunakan sudut pandang orang ketiga, dan terfokus pada Hitomi. Alurnya mengalir maju dan plotnya begitu rapi. Setting tempatnya sangat detail dan bikin saya seolah-olah ada di sana. Bahkan suasananya yang dingin pun terasa hingga ke sumsum tulang saya.
Prisca yang saya tahu selalu bisa memberi sentuhan aura dark dalam novel-novelnya. Sendu dan menyesakkan. Seolah saya ikut tertekan seperti si tokoh utama. Gaya bertuturnya yang baku juga merupakan daya tarik tersendiri. Memberi saya jeda pada kejenuhan gaya lo-gue beberapa novel lokal. Prisca selalu bisa membuat bahasa Indonesia begitu indah dan menyayat hati. Diksinya begitu kaya dan mempertajam suasana.

Sejak awal, saya digiring untuk mengambil kesimpulan yang sama dengan Hitomi. Dari perawakan, gerak-gerik, dan gaya Hane saya hampir meyakini hal yang sama dengan Hitomi. Hingga akhirnya saya dikagetkan saat siapa Hane sebenarnya akhirnya terungkap.
Dan kemudian adegan endingnya bikin saya teringat pada salah satu short story di komik serial cantik lawas. Kira-kira 14 tahun lalu. Sayang saya lupa judulnya. Saya sampai coba ubrek-ubrek catatan saya saat SMA karena saya ingat saya pernah bikin fanficnya untuk dikirim ke majalah Animonster, tapi nggak jadi. Apa yang dialami pasangan tokoh di komik itu sama seperti yang dialami Hitomi dan Hane. Hanya di komik, si cowok lah yang merana dan depresi seperti Hitomi. Saya juga ingat adegan terakhirnya di jembatan.

Tapi novel French Pink lebih terasa kaya dari pada komik tersebut. Ada kesan misterius dari sosok Hane dan permintaannya. Saya dibuat bertanya-tanya pada kelakuan dan permintaannya. Serba tak pasti.
Dan bahkan dengan novel setipis ini, Prisca mampu membuat karakter tokoh yang kuat dan bulat. Saya juga suka dengan chemistry antar tokohnya.

Lagipula novella setipis ini menyimpan banyak pengetahuan yang dibeberkan melalui profesi si tokoh utama. Beberapa ragam warna muncul di novel ini, dengan penjelasan yang manis dan romantis. Warna-warna yang memaksa saya akhirnya mengunjungi kangmas google dan malah keasyikan. Seru ternyata, dari satu novel banyak hal baru yang saya temukan.
Di novel ini terdapat hal yang saya akrabi juga yang saya temukan. Tentang shinigami. Bagi pelahap manga seperti saya tentu sudah sering membaca dan menemukan shinigami dalam berbagai versi, beberapa di antaranya seperti yang disebut dalam novel ini, shinigami versi Death Note dan Bleach.

Memang novel ini terasa manga banget bagi saya. Tapi itu justru membuat French Pink terasa akrab dan mudah untuk saya sukai. Apalagi jika rasa komik tersebut diberi sentuhan cita rasa khas Prisca Primasari yang sendu namun juga manis.
Well, saya sih suka banget sama kisah ini yang walau tipis tapi terasa padat dan pas. Menghibur sekaligus memberi harapan, semangat dan kekuatan. Saya sih sangat merekomendasikan novel imut ini, terutama bagi kalian yang suka gaya-gaya cerita yang Jepang banget. Dijamin kalian bakal jatuh cinta.

Kamis, 18 Agustus 2016

[Resensi] Flip-Flop by Rido Arbain dan Ratna Rara

Judul buku: Flip-Flop
Penulis: Rido Arbain dan Ratna Rara
Editor: Pradita Seti Rahayu
Art: A Subandi
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tahun terbit: Juni 2015
Tebal buku: 216 halaman
ISBN: 9786020267180



BLURB

Dia bahkan belum selangkah pun keluar dari kota ini, tapi rinduku terlalu bandel untuk diberi tahu. Perubahan yang cepat membuat kita kalah. Jarak yang lebar membuat kita jengah. Aku tak lagi yakin, kita adalah aku dan kamu. Tapi, aku, kamu, jarak, juga dia. Kenapa kamu menyerah? 

...

RESENSI

Anggun adalah primadona sekolah yang menjadi idola cowok-cowok di sekolah. Tapi menurut kabar, Anggun tidak mau berpacaran dengan cowok yang masih memakai seragam putih abu-abu. Anggun cuma mau berpacaran dengan mahasiswa. Namun Bobby tetap nekat melakukan pendekatan. Ia tetap berusaha meraih hati Anggun, bahkan meski ia harus bersaing dengan Steven, cowok blasteran yang cakep dan tajir itu.
Untungnya Anggun mau menerima Bobby. Anggun menemukan sisi Bobby yang baik dan tabah. Ia merasa nyaman bersama Bobby. Dan kenyamanan itu terwujud dalam badannya yang semakin membesar, alias gemuk.
Namun selepas SMA, Bobby bakal meneruskan kuliah ke Malang. Mereka terancam menjalani LDR. Anggun merasa hampa apalagi sahabatnya, Sheza juga bakal melanjutkan kuliah ke Manchester. Saat itulah Steven kembali bertemu dengan Anggun, sebagai pacara Sheza. Sama-sama ditinggal kekasih, Anggun dan Steven makin dekat. Dan Anggun mulai sibuk diet agar tidak merasa malu saat jalan bersama Steven. Tanpa sadar ia malah makin menjauh dari Bobby.
Akankah hubungan LDR mereka berhasil? Dan bagaimana dengan program diet Anggun yang justru malah membahayakan kesehatannya?

------------------------

Flip-Flop adalah sebuah novel duet yang bertema LDR. Uh-huh LDR yang terkenal serem itu dan yang bikin banyak pasangan jadi alergi. Saya tertarik banget baca novel ini karena covernya cakep banget. Lucu. Dan kayaknya memang mewakili isinya. Judulnya juga unik. Meski saya gak tau juga apa hubungannya flip-flop dengan LDR. Setahu saya flip-flop itu diucapkan kalau dua orang ngomong hal yang sama berbarengan. Maka setelahnya dua orang itu harus spontan bilang flip atau flop. Eh kalau ini sih kebiasaan alay saya sama temen jaman SMA sih.... kebiasaan yang masih berlanjut sampai sekarang di grup WA. Ngoahaha....

Umm balik ke novel Flip-Flop, novel ini ditulis dengan sudut pandang orang pertama, bergantian antara tokoh utama cowok dan tokoh utama cewek. Karena ditulis oleh dua orang, terasa banget perbedaan "suara" si aku. Sayangnya saya sempat dibuat bingung dengan timeline ceritanya. Ketika Anggun bercerita tentang masa kini, bab berikutnya Bobby bercerita tentang masa lalu. Rasanya seperti buta waktu karena loncatan waktunya yang dari depan, ke belakang, balik ke depan lagi, dan ke belakang lagi tanpa disertai informasi apa pun.
Untungnya gaya bertutur Rido Arbain dan Ratna Rara begitu enak dibaca, pilihan diksinya segar, dan humor yang diselipkan juga pas. Mereka kelihatan enjoy menertawai diri sendiri.

Karakter dalam novel ini juga unik. Anggun yang tadinya adalah primadona sekolah dan jadi idola banyak cowok, setelah berpacaran dengan Bobby malah berubah secara fisik. Anggun jadi gemuk karena ia nyaman dan bahagia bersama Bobby. Dan karena Bobby mencintai Anggun apa adanya, bukan hanya mencintai kecantikan Anggun saja. Hingga ketika LDR dan kembali dekat dengan Steven ia mulai insecure dan terancam anorexia. Tema ini bikin kita melek, bahwa fisik bukanlah segalanya. Bahwa kita harus mencintai dan menjaga tubuh kita sendiri.
Memang rada jengkel juga dengan Anggun tapi memang remaja kalau stres malah jadi makin aneh kelakuannya. Itu sebabnya orang dewasa perlu ada untuk mendukung.

Saya lumayan suka dengan Bobby. Punya tekad kuat, baik dan penuh perhatian juga lumayan kocak. Heran, ada ya cowok yang nggak pernah marahin pacarnya. Ahaha... Tapi kalau saya sih lebih suka dimarahin kalau udah kelewatan. Kalau sama cowok yang terlalu sabar saya bisa-bisa jadi ngelunjak. :p
Saya malah suka banget sama Sulung, kakak Anggun. Jahil memang, bahkan cenderung jahat waktu kecil. Tapi dia tetap kakak yang perhatian dan sayang banget sama Anggun. Saya justru lebih suka interaksi antara Sulung dan Anggun yang seru dan manis.

Saya mengamati ada dua masalah utama dalam novel ini. LDR dan anorexia. Kegalauan menjalani LDR kerasa banget dari sisi Bobby. Sementara Anggun yang takut kesepian dan merasa sedih karena nggak punya teman malah sibuk diet demi bisa jalan dengan Steven. Diet yang salah, yang bisa saja berujung pada kematian. Stresnya berlipat ganda. Tapi semua pesan moralnya sih bisa saya tangkap.

Yang lumayan bikin penasaran justru endingnya. Mungkin karena novel ini hanya menggunakan sudut pandang Anggun dan Bobby, motif Steven sebenarnya, mengapa ia mendekati Anggun lagi rada nggak jelas. Apa hanya karena dia juga nggak betah LDR atau memang tipenya tipe brengsek. Saya sih sebenarnya pengin Steven dapat pelajaran, biar kapok. Tapi ya sudahlah, yang penting endingnya memang Anggun dan Bobby banget. Manis sesuai cara mereka sendiri. Nggak berlebihan dan kelihatan alami.

Buat kalian yang suka cerita teenlit, apalagi yang sebentar lagi bakal LDR-an dengan pacar, novel ini perlu banget dibaca. Baca dan rasakan sendiri manis dan kocaknya novel Flip-Flop.