Senin, 04 September 2017

A 1000-book Reading Challenge for Children | Let's Read One Bedtime Story Everyday With Children



Memasuki bulan September yang konon adalah bulan yang ceria, tiba-tiba terlintas sebuah ide di kepala saya. Ide ini memang nggak orisinil karena terinspirasi dari 1000 books montessori dan juga kabar dari seorang kawan di negara seberang yang menceritakan betapa serunya kegiatan-kegiatan bagi balita di perpustakaan daerah mereka.

Hal-hal tersebut yang akhirnya membuat saya tergerak untuk membawa kegiatan membaca saya bersama anak-anak ke blog nurina mengeja kata. Kegiatan reading challenge ini juga upaya agar blog saya nggak berdebu karena blogging slump yang melanda saya beberapa bulan terakhir ini 🙈 Well, tentunya juga dengan niat untuk mendokumentasikan apa saja yang sudah kami baca bersama. Karena berdasarkan pengalaman saya selama ini, banyak hal-hal menarik dan lucu yang terjadi selama proses reading bersama mereka.

Untuk aturan dan pelaksanaannya (insyaallah) ini yang akan saya lakukan 😅 :

1. Membaca buku anak apa saja bersama-sama dengan anak, di jam yang sama setiap harinya. Tidak menutup kemungkinan membaca lagi buku yang pernah dibaca selama reading challenge ini.

2. Untuk buku tebal yang terdiri dari beberapa cerita, saya akan membacakan satu kisah per satu harinya kepada anak-anak. Sehingga bisa saja satu buku diselesaikan dalam beberapa hari. Mengingat pada prinsipnya RC ini boleh melakukan pengulangan membaca buku yang sama, maka hitungan untuk buku yang telah dibaca pun akan mengikuti banyaknya cerita.
Misal: Dalam satu buku anak terdapat 10 cerita, maka juga akan dihitung telah membaca buku sebanyak 10 kali.

3. Di akhir membaca buku untuk anak, saya akan mengajak mereka berdiskusi tentang isi buku, menggali pemahaman dan empati mereka serta menjawab semua pertanyaan yang muncul.

4. Memposting review atau kesan setiap kali selesai membaca satu buku atau secara berkala (setiap 10 buku/setiap satu minggu sekali).

5. Membuat update RC setiap mencapai kelipatan 100 buku.

6. Waktu pelaksanaan reading challenge ini bisa dimulai kapan saja dan berakhir setelah tercapai 1000 buku.

Semoga saja reading challenge ini sukses sampai di tujuannya, dan semangat saya untuk update nggak kendor di tengah jalan. Wkwkwk~~ Bagi teman-teman yang mau ikutan membaca bersama anak/adik/keponakan/murid atau bahkan anak tetangga boleh saja lho, tinggalkan saja comment di postingan ini. Yuk kita seru-seruan membaca bersama generasi masa depan Indonesia agar mereka melek literasi sedini mungkin 😉

Jumat, 28 Juli 2017

[Resensi] Para Bajingan yang Menyenangkan - Puthut EA

Judul buku: Para Bajingan yang Menyenangkan
Penulis: Puthut EA
Penyunting: Prima S. Wardhani
Desainer sampul: R. E. Hartanto
Penata isi: Azka Maula
Penerbit: Buku Mojok
Tahun terbit: Desember 2016 (cetakan pertama)
Tebal buku: 178 halaman
ISBN: 978-602-1318-44-7



BLURB

Sekelompok anak muda yang merasa hampir tidak punya masa depan karena nyaris gagal dalam studi tiba-tiba seperti menemukan sesuatu yang dianggap bisa menyelamatkan kehidupan mereka: bermain judi.


RESENSI

Sahabat yang paling dikenang pastilah sahabat yang telah menjalani suka dan duka bersama-sama. Laiknya filosofi mangan ra mangan asal kumpul yang dipegang erat oleh sebagian masyarakat Jawa, teman yang hadir dan tetap ada dalam keadaan susah atau senang, sedang bisa makan atau tidak, memang akan selalu membekas di hati. Demikianlah yang terjadi pada enam orang pemuda yang secara tak sengaja; mungkin karena campur tangan takdir, atau mungkin karena tuhan mahagayeng, bertemu dan membuat sejumlah "kekacauan" di jagat perjudian.

Kisah yang dialami para bajingan yang menyebut diri mereka (yaitu Puthut, sahabat Puthut, Bagor, Kunthet, Proton, dan Babe) sebagai Jackpot Society ini berlatar di Yogyakarta sekitar tahun 90-an. Seperti yang dinarasikan dalam buku ini dengan cara yang menarik:

Sebagai perbandingan, ketika cerita ini terjadi, harga seporsi kepala tongkol warung padang "Untuang" di Terban adalah 3.000 rupiah. Harga seporsi pecel lele di tenda kaki lima: 1.500 rupiah. Harga rokok Gudang Garam International dan Djarum Super kurang lebih 2.000 rupiah. (hlm. 10)

Siapa yang tidak akan bernostalgia membacanya? Rasanya emosi menjadi lebih tergugah dan terkoneksi dengan paparan harga-harga barang yang terasa akrab pada masa itu, dibanding jika Puthut EA sekadar menulis angka tahun.
Membaca buku ini seakan pembaca sedang dibawa menyusuri lorong waktu, mundur kembali ke Yogyakarta beberapa tahun silam. Saat judi masih marak, saat beberapa sudut kota pelajar ini juga menghadirkan hiburan yang membuat para bajingan kedanan mengadu untung. Untung menang dan untung kalah. Karena bagaimanapun juga, bagi masyarakat kota ini, lucunya, mereka selalu melihat hal yang bisa dianggap untung dalam suatu kesialan atau kerugian. Sama seperti para tokoh dalam Para Bajingan yang Menyenangkan yang masih bisa tertawa cengengesan walau kalah judi dalam jumlah besar.

"Kalau menang sok-sokan, kalau kalah berteori. Kalian ini penjudi apa doktor?" (hlm. 9)

Ada tiga bab dalam buku ini yang membagi potongan kisah dengan jelas. Yang pertama adalah bagian gila-gilaannya para Jackpot Society dalam Kami Tak Ingin Tumbuh Dewasa. Cerita-cerita konyol saat mereka menang dan kalah judi, bagaimana usaha mereka agar menang judi, orang-orang yang mereka kenal selama menjadi penjudi dan ragam kekacauan yang pernah mereka buat. Kisah menegangkan ketika mereka sempat dicegat beberapa preman, juga kisah keisengan-keisengan yang mereka lakukan di kantin bonbin. Ya, kantin fakultas sastra UGM yang terkenal dan melegenda itu. Di sanalah para bajingan ini menghabiskan waktu dan membuat beberapa kegemparan. Tentu saja yang muncul adalah cerita-cerita lucu yang bisa membuat pembaca ngakak terpingkal-pingkal. Banyak sekali tingkah polah mereka yang bisa membuat geleng-geleng kepala. Hingga salah satu dari mereka harus pergi, meninggalkan anggota Jackpot Society lainnya dalam duka. Kesedihan itu ada, kehilangan itu nyata. Maka kenangan akan sahabat yang abadi dalam ingatan itu kemudian semakin dikekalkan pula di dalam buku ini.

Bagian kedua adalah kisah yang tak kalah konyol tentang salah satu anggota Jackpot Society yaitu Bagor yang dituangkan dalam bab Bagor: Setelah Dua Puluh Tahun. Rupanya kekonyolan masih tetap berlanjut. Seorang sahabat boleh saja telah pergi, tapi hidup tetap harus berjalan, gojek kere tetap harus ditegakkan. Bahkan bila itu artinya Bagor menjadi sasaran keisengan Puthut yang tiada habisnya. Tapi itulah teman. Seseorang yang bisa diajak iseng atau malah jadi korban iseng dan balas mengisengi kita, yang bebas menyumpahkan serentetan kata: asu, bajingan, jembut, dan masih tetap bisa kita tertawakan. Ya, selain berisi para bajingan rupanya buku ini pun mengandung banyak kata pisuhan alias makian yang mengalir lancar dalam dialog yang dilakukan para tokohnya. Membuat tertawa, membuat mengelus dada dan membuat ingin balas memaki.

Di bagian epilog, hadir Sekilas Kenangan yang memang benar-benar selintas; tak banyak, tapi menutup dengan apik. Cukup untuk membuat merenung, akan arti persahabatan dan arti kenakalan masa muda. Benarkah bermain judi telah menyelamatkan hidup mereka?
Namun selain itu, tentu saja ada pesan yang lebih menancap dan sangat penting tentang buku ini di bagian epilog:

"Bukune situ yang tentang dunia perjudian kita, bisa saya dapatkan ndik toko buku mana, Bung?"
"O ya ndak bisa didapatkan di toko-toko buku, Bung..."
"Lha kenapa je?"
"Soalnya mempropagandakan hidup yang tak bermoral dan cenderung tolol."

Sangat jelas bukan pesannya?

Membaca buku ini memang hanya bisa ngikik, ngakak dan ngekek. Diceritakan dengan gaya lugas yang jujur apa adanya. Dialog yang selengekan khas dagelan mataraman, dan tentunya banyak menggunakan kosakata bahasa jawa. Meski begitu tak perlu khawatir karena di bagian belakang akan ada glosarium untuk memandu pembaca yang kesulitan memahami bahasa ini. Memang cukup repot sedikit tapi seandainya gojek kere dalam buku ini diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, mungkin ndagel-nya akan kehilangan nyawanya. Namun harus diakui, Para Bajingan yang Menyenangkan memang pantas untuk disebut novel paling bajingan tahun ini.

Rabu, 12 Juli 2017

[Resensi Buku] Dusta-Dusta Kecil by Liane Moriaty | Kebohongan yang Paling Berbahaya

Judul buku: Big Little Lies
Sub judul: Dusta-Dusta Kecil
Penulis: Liane Moriaty
Alih bahasa: Lina Jusuf
Editor: Bayu Anangga
Desain sampul: Marcel A.W
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2016
Tebal buku: 512 halaman
ISBN: 978-602-03-3406-6



BLURB

Pembunuhan? Kecelakaan tragis?
Yang pasti seseorang tewas. Tapi, siapa yang melakukan apa?

Semuanya bermula pada hari orientasi TK di Pirriwee Public School: ketika Jane—seorang ibu tunggal yang penuh rahasia—mengantar putranya ke sekolah dan bertemu dengan Madeline yang sinis dan penuh semangat, serta Celeste yang cantik tapi selalu gelisah.

Saat insiden kecil yang melibatkan anak-anak ketiga wanita itu dengan cepat berubah serius, dan bisik-bisik antaribu menjadi gosip-gosip jahat... tak ada lagi yang tahu siapa yang benar dan siapa yang berbohong. Hingga seseorang harus membayar dengan nyawa...


RESENSI


Apa jadinya jika tiga wanita dengan kepribadian dan latar belakang yang berbeda, berteman karena sebuah "kecelakaan" dan berkoalisi dalam perseteruan antar orangtua murid sekolah taman kanak-kanak?
Bagaimana jika satu insiden kecil bisa memberi efek yang meluas dan saling menjatuhkan seperti domino?

Miss Barnes: Para orangtua helikopter. Sebelum aku mulai bekerja di Pirriwee Public, kupikir cerita itu dibesar-besarkan, cerita tentang para orangtua yang terlalu terlibat dengan anak-anak mereka. Maksudku, ayah dan ibuku menyayangiku, mereka tertarik denganku, ketika aku tumbuh besar di tahun 90-an, tapi mereka tidak terobsesi denganku. (hal. 16)

Membaca novel ini benar-benar pengalaman yang menyenangkan sekaligus menegangkan. Sedari awal saya dibuat menebak-nebak apa yang sesungguhnya terjadi. Siapa korban dan siapa pelaku. Semua yang semula abu-abu dan hanya berupa pernyataan-pernyataan samar dan rancu dari para saksi, semakin lama terangkai menjadi satu jalinan cerita yang ternyata berujung mengerikan.

Big Little Lies menarik bagi saya karena saya sendiri merasa terikat dengan kisahnya. Saya merasa situasi yang dihadapi para ibu-ibu mudan ini begitu dekat dan lekat serta mudah saya jumpai di lingkungan sekolah. Saya teringat insiden ketika salah seorang teman putra saya menendang teman yang lain hingga kakinya memar, dan kemudian perseteruan dingin para ibu pun dimulai. Persis seperti yang terjadi dalam novel ini. Ketika di hari pertama sekolah, Amabella telah diserang secara fisik oleh seseorang, dan menuding Ziggy sebagai pelakunya, dari situlah segala jalinan kerumitan dimulai. Dari situlah kebohongan-kebohongan kecil mulai terkuak, hingga menampakkan kebohongan besar yang sesungguhnya.

Karakter dalam novel ini begitu kompleks tapi konsisten. Masing-masing tokoh menunjukkan karakter yang kuat dan khas. Madeline yang sinis dan sedikit serampangan tapi selalu siap dan sigap menolong, memiliki masalah kecemburuan terhadap istri baru mantan suaminya dan merasa kehilangan kontrol atas putri pertamanya. Sifat Madeline terasa natural dan loveable karena ketidaksempurnaannya. Ada pula Celeste yang cantik, mapan, dan memiliki suami idaman. Celeste adalah simbol ibu ideal dengan dua anak laki-laki kembar yang nggak bisa diam. Namun ia selalu gelisah dan seolah memendam sesuatu. Yang tak kalah misteriusnya adalah Jane, seorang ibu tunggal yang terampil dan penyayang. Masa lalunya dan alasan kepindahannya ke Pirriwee  begitu samar. Ia selalu cemas dan ketakutan bila menyangkut Ziggy, putranya.
Masih ada pula Renata, seorang ibu bekerja yang sukses karirnya dan memiliki putri yang berbakat. Seorang ibu yang terlalu melindungi anaknya dan memperlakukan seorang anak yang dianggapnya nakal seperti seorang kriminal. Meh.
Renata ini tipe ibu-ibu yang bakal saya hindari jika ada di lingkup pergaulan sesama wali murid. Wkwkwkk... Tipe yang malas banget berurusan dengannya. Karena saya bukan Madeline yang tangguh dan bisa balas meng-KO orang semacam Renata. XD

Well, kisah dalam novel ini meski merupakan thriller psikologi namun juga sarat sindiran akan gaya asuh orangtua masa kini. Juga pesan bahwa tindakan perundungan yang dilakukan seorang anak, bisa jadi karena dia mencontohnya dari seseorang. Maka sebagai orangtua, kita diharap berhati-hati dalam berbicara dan bertindak.
Saya merasa Big Little Lies merupakan novel yang paling mengena di hati saya sepanjang tahun ini (ya walau saya nggak terlalu banyak membaca juga untuk tahun ini), jadi buat kalian yang suka tipe novel thriller psikologis, harus banget baca novel ini. 😉

Senin, 01 Mei 2017

[LPM] Kopdar Es Kacang Merah BBI Jogja April 2017

Hari Sabtu lalu, tepatnya tanggal 29 April 2017 anggota BBI area Jogja dan sekitarnya bikin acara kumpul-kumpul kopi darat. Kebetulan Mbak Dani, member BBI dari Solo sedang ada diklat di Jogja, dan tetiba beliau menghembuskan isu soal Es Kacang Merah di daerah Bumijo di grup Joglosemar. Isu yang langsung bikin air liur netes netes dan bergulir jadi rencana kopdaran sambil icip-icip es. Jadilah kumpul-kumpul unyu kami diniatkan di Pempek & Mie Ayam Bener yang terkenal banget Es Kacang Merahnya itu. Sooo.... setelah sebelum-sebelumnya kopdar BBIers Jogja hanya di seputar pesta buku dan Taman Pintar, akhirnya kami bakal kopdar sambil makan-makan lagi. Haseeekk....

Ndilalah, berhubung bulan April ini adalah bulan kelahiran BBI, maka ada usul untuk menghembuskan woro-woro kumpul unyu ini ke luar grup joglosemar. Jadilah kami dibuatkan poster undangan unyu dan cantik oleh Wardah dan dipajang di wall grup facebook BBI dan di twitter. Siapa tau ada yang lagi iseng mampir Jogja terus ikutan nyantol di Mie Ayam Bener buat seruput es kacang merah sambil ngobrolin buku bareng kami. Biar tambah seru dan pemilik warungnya senang. Eeeh... bakal senang nggak ya kalo kami nanti nongkrong lama-lama. Hahahaha...



Biasanya kopdar BBI Jogja yang saya ikuti sejak saya bergabung di tahun 2015 nggak pernah komplit, itu karena ada saja yang berhalangan karena satu dan lain hal. Sekalinya pernah lumayan komplit beberapa bulan lalu di kafe di Kridosono. Apa mungkin daya tarik makanan lebih besar daripada diskonan buku ya? Wkwkwk~~
Namun saya lumayan bersemangat buat ikutan walau beberapa hari sebelumnya sudah nongkrong unyu malam-malam bareng Mas Dion, Wardah, Mbak Trully dan Mbak Desca sambil ngegosipin buku dengan serunya. Tentu saja alasannya karena Mas Dion janji bakal bawain Nyai Gowok buat saya pinjam. Aaaaakkk... akhirnya bakal ketemu sama buku idaman. XD

Di hari pertemuan saya emang sudah niat bakal datang sendiri dan nggak bawa krucil saya. Karena jam kopdar masih jam sekolah kamas, maka otomatis kamas Yudha nggak bisa diajak. Dan kalau sang kamas nggak ikut, mending nggak usah ngajak sang yayi, karena pengalaman sebelumnya, kamas suka bete kalau tahu yayinya diajak sementara dia enggak. Yaaah... namanya juga anak-anak. Untungnya waktu pamitan sama yayi, langit Jogja sedang dipenuhi  pesawat dan helikopter dalam rangka Jogja Air Show, jadilah yayi Puguh yang super polahnya itu lebih tertarik nonton pesawat daripada ngikut simboknya menembus kemacetan Jogja.
Sesampainya di lokasi, baru Dhilla dan Taqy yang sudah datang dan sudah menikmati seporsi mie ayam dan es kacang merah. Untunglah dapat meja panjang yang sepertinya bakal muat menampung kami. Terima kasih, Dhilla ^^ Akhirnya bisa ketemu lagi deh sama Taqy yang aktifnya minta ampun, untung bundanya strong. Kkk~~
Tak berapa lama mulai berdatanganlah Mbak Dani, Asri, Mas Dion dan Hani. Heung... ke mana Wardah, ya? Usut punya usut setelah dijapri ternyata Wardah lagi asyik bebersih kos dan lupa ada kopdar. Glodhag. Pegimane ini, yang bikin undangan malah lupa sendiri. Wkwkwkwk~~



Jadilah kami pesan duluan sambil nunggu Wardah. Mumpung bendahara arisan alias Asri datang, hayuuk dilunasin arisannya. Lalu dimulailah gosip-menggosip tentang perbukuan, huwaaa memang nggosip paling enak itu kalau sambil makan. Ahahaha... Oh iya, Mas Dion bawain saya tiga buku; Nyai Gowok, Bakat Menggonggong dan Tuhan Tidak Makan Ikan. Dua buku pertama itu dipinjamkan sedangkan buku Gunawan Tri Atmodjo adalah pesanan saya. Sementara Mbak Dani juga bawain buku hisrom titipan saya. Aaaaiiih senang.



Wardah pun akhirnya datang tepat saat jalanan makin ramai, siang makin menyengat panasnya dan pengunjung lain makin membanjir. Ngahahaha... untung belum ditinggal pulang ya, Wardah. XD



Lalu tibalah kami pada acara puncak: penyerahan kado buat Hani. BBI Jolosemar tahun ini memang mengadakan arisan kado, nah berhubung ulang tahun Hani sudah dekat, kadonya diserahkan sekalian. Terima kasih buat Mas Dion yang sudah jadi petugas kado buat Hani. Semoga kado bukunya segera dibaca dan nggak ditimbun. Jangan kayak saya yang baru dibaca dua padahal dapatnya sudah sejak Desember *dikeroyok temen sejoglo*.

Serah terima kado arisan Joglosemar buat Hani


Berhubung hari sudah makin siang, dan warung makan juga makin ramai, maka alangkah baiknya kami melipir pulang. Kan takut kalo dipelototin karena nggak pergi-pergi. Sudah kenyang, sudah puas menggosip, sudah bawa pulang buku-buku baru buat dibaca, saatnya Tabi berpisah. Dadah. Tapi nggak pakai berpelukan sih. Dan saya baru tersadar kalau Hani, Asri dan Wardah kompakan pake pink pink... Hmm, apa perlu besok pake dress code ya kalo kopdaran lagi? 😂😂

Kopdar kali ini rasanya seru, apalagi akhirnya bisa ketemu Mbak Dani yang legendaris tantiknya 😆😆 . Semoga bulan-bulan ke depan kopdar BBIers Jogja makin seru, yang datang makin banyak. Dan semoga rencana kopdar Joglosemar bisa terealisasi. Amin.

Note: foto-foto dipersembahkan oleh Mbak Dani.



Kamis, 27 April 2017

[Penumuman] Pemenang HUT BBI 6

Holaaa... Hari ini saya mau mengumumkan pemenang Giveaway HUT BBI yang saya selenggarakan pekan kemarin. Mohon maaf karena pengumuman ini molor beberapa hari. Maklum, pemiliknya lagi keranjingan bertani. Hohohoo...



Saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada para peserta yang memeriahkan giveaway di blog ini. Saya akui saya sudah jarang atau bisa dibilang sedang hiatus dalam dunia host blogtour, jadi saya pun nggak pernah lagi mengadakan giveaway. Maka saya sangat senang saat tahu teman-teman unyureaders masih setia menengok blog ini dan membaca review-review saya. Terima kasiiih pada kalian yang sudah setia *peluuuuk*
Sayangnya mungkin ini adalah giveaway terakhir di blog ini.
Haahh??? Kenapaaa?
Hmm... jangan sedih gitu dong (GR.. Kayak ada yang sedih aja 😑). Tunggu saja kejutan dari saya ya? ;)

Baeklah. Tanpa banyak panjang lebar lagi, saya akan umumkan satu pemenang yang berhak mendapatkan paket novel dari saya. Saya memilihnya karena saya suka saran yang dia berikan, dan dia adalaaaaahh....

Bety Kusumawardhani
@bety_19930114

Selamaaat yaaa... Saya akan menghubungi pemenang melalui akun email atau DM untuk konfirmasi hadiah.

Tapi... tapi... tapi....
Saya dibuat terharu oleh seseorang yang ternyata menyukai beberapa review saya sampai-sampai komentarnya dianggap spam oleh blogspot. 😂😂 Jadi saya memutuskan untuk memberinya penghargaan sebagai tanda cinta dari saya. Dan dia adalaah...

Humaira
@RaaChoco

Selamat kepada kedua pemenang 🎉🎉🎉 Tunggu email/DM dari saya yaa...

Terima kasih sudah bersenang-senang bersama. Bagi yang belum beruntung, tenang jangan sedih, sampai berjumpa di ulang tahun BBI berikutnya. Doakan saja agar saya, kalian dan BBI panjang umur yaaa~~

Senin, 17 April 2017

Giveaway BBI HUT 6

Akhirnya tiba juga di puncak acara #BBIHUT6 dan saya pun menyusul teman-teman member BBI yang lain membuat Giveaway Hop. 



Maafkan saya yang baru posting sekarang karena bingung ngubek-ngubek timbunan kolpri yang masih ada. Maklum beberapa sudah saya taruh di kafe buku dan saya hibahkan ke perpus lokal, karena rumah saya yang hanya seukuran kamar kos ini sudah nggak sanggup menampung banyak buku. Wkwkwkwk~~

Jadi ini dia persembahan dari saya untuk Giveaway Hop kali ini. Satu paket buku kolpri yang terdiri atas:

• (Never) Looking Back - Elvira Natali
• A Cup of Tea Menggapai Mimpi - Herlina P. Dewi, dkk



Nah caranya gampang saja kok:

1. Peserta berdomisili di Indonesia.

2. Follow twitter saya @KendengPanali atau instagram saya @kendengpanali follow juga twitter @BBI_2011 & @EventBBI

3. Follow blog ini melalui GFC atau email.

4. Share info giveaway ini dengan hashtag #BBIHUT6 dan jangan lupa untuk mention akun saya.

5. Sila share review buku saya yang kalian suka ke medsos kamu. (Yaa bantu promo dikit gakpapa ya *dikeplak*) Buku yang telah saya review bisa dilihat di index review

6. Tulis nama, alamat email, akun twitter, link share review dan alasanmu kenapa menyukai review buku tersebut di kolom komentar postingan ini.

7. Giveaway akan berlangsung selama satu pekan dan akan saya tutup pada 23 April 2017 pukul 23.59 WIB.

8. Jangan segan sapa & colek saya di twitter jika ada pertanyaan atau cuma sekedar ngobrol. Hahaha...

9. Yang terakhir good luck yaa 😘

Sabtu, 15 April 2017

Tips Unyu || Ketika Penghasilan Tak Sebanding Lurus dengan Semangat Baca


Nggak bisa dipungkiri, menjalani hobi kadang bisa bikin bokek. Termasuk membaca buku yang harga bukunya sekarang naik gila-gilaan tanpa peduli keadaan kita, seolah kita-kita ini anak raja minyak yang tidurnya di atas tumpukan uang.
Bayangkan saja satu buku dengan tebal standart 300 - 400 halaman saja harganya sudah berkisar di 70 - 90 ribu rupiah. Nyesek nggak sih ketika kita hanya membutuhkan 2 - 5 hari untuk menuntaskan satu buku bacaan? Malah kadang ketika buku tersebut sebegitu menariknya satu hari saja sudah cukup untuk menyelesaikan bacaan kita.

Tapi apakah hal tersebut menyurutkan semangat kita? Seharusnya sih enggak. Percayalah, akan selalu ada jalan bagi orang-orang yang berusaha. #tsaaah *udah cocok jadi motivator belum?* :P

Sekedar cerita sedikit, saya sendiri bukanlah keluarga berduit. Gaji suami hanya cukup untuk biaya makan dan hidup pas-pasan. Honor ngajar privat saya masih digunakan untuk menambal lubang-lubang pengeluaran. Apalagi saya menerima bayaran ala kadarnya karena saya hanya menerima murid dari keluarga menengah ke bawah. Jadi modal saya untuk menyenangkan diri sendiri dari menyisihkan sisa uang belanja dan pendapatan hanya sebesar 50 ribu rupiah per bulan. Cukup? Saya sih jelas cukuplah. Mau tahu gimana caranya? Bagi yang demen ngubek-ngubek blog ini pasti sudah mengenal sedikit tips saya karena pernah saya sampaikan di artikel yang saya ikutkan untuk lomba Reading is Sexy yang diadakan sebuah penerbit. Tapi, kali ini saya mau ngasih versi komplit buka-bukaan rahasia saya. Jadi sini deh deketan, saya jitak... eh saya kasih tahu :))


1. Sidak ke toko buku bekas

Beruntung bagi saya karena tinggal di pusat peradaban perbukuan. Warga Jogja mana yang nggak kenal Shooping Centre, pusatnya penjualan buku-buku bekas maupun buku-buku terbitan lama yang telah disortir dan tersingkir dari toko buku besar. Jadi ke sinilah saya membawa uang kuota saya untuk beli buku.
Tapi...tapi...bukunya bukan buku up to date dong?
Yaa... saya sih yang penting tetap bisa membaca dibanding ngikutin tren buku apa yang lagi hits. Memang terkadang jadi telat ya, tapi percayalah, buku yang bagus akan selalu dibicarakan sepanjang masa. Jadi nggak masalah kita telat baca 2 sampai 10 tahun karena buku nggak akan basi.
Oh iya, jika di kota kalian ada toko buku bekas semacam di kota saya, cobalah mengakrabkan diri denga pemilik kiosnya. Memang perlu proses, kadang ada pemilik kios yang baru akrab setelah saya datang 3 kali, bahkan setelah 10 kali, tapi hasilnya kadang dengan uang 50 ribu saya bisa bawa pulang 5 buku. Hahaha..
Tapi hati-hati ya, cek juga keaslian bukunya. Jangan sampai beli yang bajakan. 😉


2. Berburu diskonan

Selalu buka mata dan buka telinga untuk obralan buku, jangan cuma buka hati aja buat gebetan. Sekarang bukan hanya toko buku besar semacam Gramedia saja yang sering menggelar gebyar diskon gila-gilaan, beberapa toko buku lain pun juga kerap menjaring pembeli dengan promo diskon dan obralan. Bahkan lapak-lapak buku online dan buku indie juga sering menawarkan diskon yang lumayan besar. Tapi jangan sampai kalap juga, utamakan skala prioritas. Gunakan insting, buku yang kemungkinan besar masih akan tetap muncul di diskonan berikutnya, lebih baik dipending dulu. Berat? Iya. Tapi kira harus kuat :')


3. Perluas pertemanan

Sahabat adalah penyelamat dan teman adalah uluran tangan. Memiliki teman yang sehobi itu banyak manfaatnya. Kalian bisa saling pinjam buku, tukar buku atau mungkin ngasih info-info penting seputar perbukuan. Apalagi jika kamu tinggal di kota terpencil kamu bisa minta bantuan titip buku diskon atau obralan yang sedang berlangsung di kota sang teman.
Tapi ingat untuk mengembalikan buku yang kita pinjam dan menjaganya seperti induk beruang menjaga anak macan. #eh Karena kadang pencinta buku bisa sangat posesif dengan buku mereka seperti mamak kangguru.
Untunglah saya punya teman-teman anggota BBI yang baik-baik, yang mau minjemin buku, yang mau dititipin buku, mau tuker-tukeran buku bahkan menghadiahi saya buku *nangis terharu*


4. Menulislah

Mulailah menulis review buku yang sudah kamu baca di media blog. Ada penerbit yang sering mengadakan lomba review dengan reward yang menarik, entah buku entah voucher belanja buku. Bahkan jika tulisanmu layak dimuat di surat kabar, kamu bisa mengirimkannya dan jika dimuat tentunya kamu akan mendapat imbalan yang sepadan.
Saya sendiri belum pernah mencoba mengirim ke koran karena review saya seringnya review suka-suka, review sesuai suasana dan kata hati.
Review adalah bentuk apresiasi kita terhadap sebuah buku, menuliskannya sama mengasyikkannya seperti membaca. Dulu saya melakukannya sebagai terapi karena tekanan yang pernah saya alami, itu sebabnya saya nggak membatasi diri dalam mengekspresikan kesan saya. Saya nggak mau dikungkung dan ingin menulis dengan gaya saya sendiri. Jadi saya cukup berbahagia kala sekali-sekali bisa menang lomba review.
Jangan ragu untuk memulai, bahkan dalam keterbatasan. Saya sendiri ngeblog hanya bermodal smartphone, tapi selama kita punya semangat, nggak ada yang nggak mungkin di dunia ini, kan?


5. Kunjungi perpustakaan

Bagi saya, kota yang indah nggak akan sempurna tanpa berdirinya sebuah perpustakaan. Saya sering iri jika teman-teman saya yang ada di luar negeri mengirimkan foto mereka atau anak mereka di dalam perpustakaan kota. Bahkan di sebuah desa pun perpustakaannya cantik, terang dan lengkap.
Perpustakaan di Indonesia entah kenapa selalu dilabeli kuno, suram dan membosankan. Tapi tenang saja, jika di kotamu perpustakaannya sama sekali nggak menarik dan nggak lengkap, saat ini ada perpustakaan digital semacam ijakarta, ipusnas, ijogja, ipekanbaru, dan i lainnya yang bisa diunduh di ponsel pintar kamu.
Atau mungkin di kotamu ada kedai buku atau pustaka keliling? Nah manfaatkanlah sebaik-baiknya akses tersebut.


6. Setor sampah ke bank sampah

Bank sampah ini penyelamat saya. Sampah rumah tangga bisa dipilah antara sampah plastik, sampah kertas dan sampah logam. Kalau sudah terkumpul, bisa disetor ke bank sampah dan rekening kita terisi saldo hasil penjualan sampah-sampah tersebut. Hasilnya lumayan bisa untuk tambah-tambah modal beli buku, daripada cuma dibuang dan menjadi gunungan di TPA. Malah terkadang saat jalan-jalan pagi,  dan menemukan sampah di jalan, saya spontan memungutnya. Ya kayak pemulung gitu. Hahaha...
Di bank sampah ini nggak jarang saya menemukan buku dan majalah bekas yang dijual oleh pemiliknya, padahal kondisinya masih bagus-bagus. Hiks. Itu sebabnya saya wanti-wanti ke petugasnya kalau ada buku bekas yang disetor ke bank sampah, tolong ditahan dulu, siapa tahu saya mau. Bahkan kemarin saya mendapat satu kardus buku Pearl S. Buck di sana! Waw banget, kan.


Hmm... berhubung ini adalah artikel dalam rangka Marathon post BBIHUT6 jadi saya kasih 6 tips ini dulu, ya. Nggak usah banyak-banyak nanti mblenger bacanya. Hihihi...
Yang pasti jangan sedih jangan berkecil hati dengan harga buku yang membumbung, hobi ada bukan untuk mencekikmu, tapi untuk membuatmu santai dan lebih bahagia. Jadi... maukah kamu membaca dan menulis bersama saya? ;)
 

Nurina mengeja kata Published @ 2014 by Ipietoon