Sabtu, 14 Januari 2017

[Wrap Up] Read and Keep Challenge 2016

Tahun 2016 lalu saya mengikuti reading challenge yang diadakan oleh Alvina pemilik blog Mari Ngomongin Buku yaitu Read and Keep Challenge. Saya diharuskan menyisihkan beberapa rupiah untuk setiap buku yang saya baca. Sejatinya saya ingin menyisihkan sekeping emas atau sebongkah berlian tapi apalah daya saya hanya mampu berkomitmen menyisihkan tiga ribu rupiah untuk buku cetak dan ebook yang saya baca, serta dua ribu rupiah untuk komik dan cergam.



Jadi mari mulai menghitung...

Saya membaca 275 buku selama setahun kemarin. Dari 275 buku tersebut 201 di antaranya adalah buku cetak dan ebook. Sementara 74 sisanya adalah komik dan cergam. Maka jika dihitung berdasarkan komitmen saya:

201 x 3000 = Rp 603.000, -
74 x 2000 = Rp 148.000, -

Jadi secara keseluruhan tabungan yang berhasil saya kumpulkan adalah Rp 751.000,-
Yeaaayyy...

Wait..
Ada yang salah.
Kemana uang sebanyak itu bersembunyi???? 😱😱😱

Gyahahaha berhubung di tengah tahun saya harus melepas handphone lenovo saya karena dia ingin berpisah dengan saya, maka dengan senang hati saya membobol tabungan read and keep saya untuk nomboki handphone baru...
Dan sisanya di akhir Desember kemarin saya pakai buat sangu piknik bersama keluarga. Dan ludes sodara sodara. Yeaaayy.... *nangis gak jadi bisa beli buku*

Yaaah yang pasti setahun kemarin saya sudah seru-seruan mengumpulkan kepingan ribuan setelah membaca. Ternyata asyik dan seru juga. Mungkin say akan ikut lagi tahun ini. Mungkin. Semoga. Amin.

Minggu, 08 Januari 2017

[Resensi: Yes, I Do But Not With You - Shandy Tan] Balas Dendam Sang Mantan Kekasih

Judul buku: Yes, I Do But Not With You
Penulis: Shandy Tan
Ilustrator cover: Yulianto Qin
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Januari 2017
Tebal buku: 224 halaman
ISBN: 978-602-03-3711-1



BLURB

Amy tak pernah menyangka rencana masa depannya hancur berkeping-keping dalam sekejap. Pernikahan yang hanya tinggal sejengkal, tiba-tiba sirna. Joshua, sang calon suami sekaligus tujuan hidupnya, menghamili perempuan lain. Amy kehilangan kekasih, pekerjaan yang sangat ia suka, dan kepercayaannya terhadap laki-laki.

Tetapi, kemudian Semesta mempertemukan Amy dengan Gabriel yang melezatkan hari-hari Amy dengan pastry buatannya. Meski begitu, Joshua tak kunjung menyerah merebut Amy kembali, dan dia selalu tahu bagaimana meluluhkan pertahanan Amy. Akankah Amy menerima Joshua kembali? Ataukah ia akan melepaskannya, dan mendengarkan Semesta yang mencoba menghiburnya dengan kehadiran Gabriel? 


RESENSI

Semesta kadang-kadang bisa sangat kejam, mengabulkan keinginan seseorang dengan menghancurkan kebahagiaan orang lain. (hlm. 152-153)

Saat mengetahui bahwa Joshua berselingkuh, Amy murka. Bagaimana tidak, ia dan Joshua akan melangkah ke pelaminan setahun lagi, tapi tiba-tiba saja muncul wanita yang mengaku hamil karena Josh. Tanpa bisa dicegah, Amy menghajar 'Pamela Anderson', mengambil kartu ATM yang berisi rekening bersama mereka, menyita laptop dan semua benda penting yang bisa membuat Josh kelimpungan. Amy tak rela, pengabdiannya sebagai sekretaris dan babu Josh secara gratis dibalas dengan perbuatan hina Josh.
Merasa hancur, Amy menerima saran sahabatnya Lucia untuk menemukan kehidupan baru sambil menghindari Josh. Dan Amy pun bertemu Gabriel. Pria yang menjadi tetangga barunya sekaligus chef baru di Pondok Sarapan milik Cia dan Paris.
Kedekatan mereka membuat Amy merasa hidup lagi, terutama karena pastry buatan Gabriel yang lezat. Namun Josh pria yang gigih dan bertekad berjuang habis-habisan untuk mendapatkan hati Amy kembali.
Akankah Amy memaafkan Josh? Atau ia memilih melupakan mantan kekasih brengseknya dan memilih Gabriel? Dan apa yang akan dilakukan Josh untuk kembali ke sisi Amy?

----------------------

"Aku percaya kadang-kadang karma butuh bantuan supaya pekerjaannya lebih mudah dan lebih cepat selesai. Kita hanya menyusun skenario." (hlm. 115)

Pengkhianatan memang menyakitkan, terutama jika terjadi di detik-detik saat kita merasa ada di puncak harapan. Maka terkadang bagi beberapa orang, untuk melepaskan rasa sakit yang menyesakkan itu, diperlukan tindakan ekstrem seperti... balas dendam misalnya. Karena kita butuh momentum untuk, bukan hanya move on, tapi juga move up.
Inilah ide cerita yang diolah oleh Shandy Tan dengan lincah dan cukup kocak. Beberapa bagian begitu menghibur dan bikin saya senyum-senyum geli. Bukan hanya dalam adegannya saja, tapi juga diksi dan penempatan dialognya yang terasa cerdas.

Ini memang pengalaman pertama saya membaca karya Shandy Tan. Pengalaman yang sangat berkesan karena sebenarnya saya nggak terlalu suka dengan genre metropop. Tapi Shandy Tan berhasil membawa saya ke dunia yang seru dan menyenangkan tentang kehidupan cinta Amy dan kehidupan urbannya. Saya suka dengan pikiran-pikiran Amy yang sedikit nakal juga dengan hubungan antar karakternya.

Yes, I Do But Not With You diceritakan dari sudut pandang orang ketiga, tapi lebih terfokus pada Amy. Apa yang Amy rasakan dan pikiran-pikirannya lebih banyak mendominasi dalam novel ini. Ada secuil sudut pandang Gabriel dan Paris yang muncul dan membuat saya girang karena memang layak ditunggu. Bagi saya sebagai pembaca yang lebih suka mengetahui perasaan dan pikiran sang hero, ini tentunya menjadi kepuasan tersendiri.
Setting Medan di novel ini nampak pada logat bahasa yang diucapkan oleh segelintir orang. Sementara para tokoh utama tetap menggunakan bahasa yang universal dan nggak terlihat dialeknya. Demikian juga dengan lokasi yang terasa kurang Medan bagi saya. Namun untuk lingkup setting ruang yang lebih sempit, deskripsinya mendetail dan mudah dibayangkan.

Karakter dalam novel ini begitu mudah menancap di benak. Terutama Josh yang diceritakan berprofesi sebagai pembica seminar semacam motivator yang bernama lengkap... Joshua Teguh. Ngg.... seriously? Kkk~ yaa saya kan langsung kepikiran sama seseorang yang sering muncul di televisi 😷😷 Karakter Josh cukup konsisten nyebelinnya. Baik dari apa yang digambarkan oleh Amy maupun dari tindak-tanduknya.
Amy selayaknya karakter heroine dalam metropop yang mandiri, cerdas tapi dibutakan cinta. Persahabatannya dengan Cia mencuri perhatian saya. Hubungan mereka seru dan asyik, terasa cair dan klop banget sebagai partner in crime. Chemistry mereka juara banget lah. Saya suka gaya Cia saat menasehati Amy, kelihatan banget keunikan sifatnya. Hmm... saya jadi penasaran Cia dan Paris ini ada bukunya sendiri nggak sih?
Sementara Gabriel cukup oke. Well, sebenarnya saya suka karena dia jago masak dan tampak penuh perhatian serta cool banget. Gayanya, cara ngomongnya, saat masak, asyik banget. Sayang, twistnya bikin saya berubah pandangan tentang dia. Gabriel masih oke, masih punya pesona dengan kesabaran dan gentle tapi yaaa... setelah tahu apa yang dia lakukan saya jadi merasa beda. Hahaha... sory, Gabe.

Konfliknya dibangun dengan baik. Meski saya sempat merasa penganiayaan terhadap 'Pamela Anderson' terlalu sering disebut, padahal tanpa sering disebut pun adegan itu tetap berbekas dalam di benak saya. Ada beberapa hal yang mudah terbaca, namun ada juga yang menjadi kejutan dalam novel ini. Penyelesaiannya pun saya anggap pas. Nggak muluk-muluk amat dan nggak nanggung. Saya justru bakal merasa sebal seandainya novel ini dipaksa ke ending bahagia selama-lamanya. Kebahagiaan yang didapat Amy adalah puncak kepuasannya, dan itu yang terpenting.

Secara keseluruhan, Yes, I Do But Not With You merupakan novel yang ringan, menghibur dan enak dibaca. Buat kamu pencinta novel metropop saya rekomendasikan novel unyu nan kocak ini.

Sabtu, 07 Januari 2017

December 2016 Book Haul

Selama ini sejak awal membuat blog, saya belum pernah membuat postingan book haul. Namun kali ini untuk pertama kalinya, saya ingin menulis December Book Haul karena saya merasa sangaaat bahagia menerima curahan cinta dari orang-orang terdekat saya.
Memang Desember menjadi bulan istimewa bagi saya. Tentu saja karena si empunya blog Nurina Mengeja Kata ini dilahirkan di bulan Desember yang ceria. Bohong banget lah kalau Desember itu kelabu, karena itu sih judul lagu doang 😂😂

Tanpa perlu panjang kali lebar sama dengan luas persegi panjang, inilah dia buku-buku yang diterbangkan dengan penuh cinta ke pangkuan saya....

1. 

Kado Joglosemar yang telat sehari ini adalah kebahagiaan awal saya. Bagaimana tidak, semua wishlist saya terkabul! Huaa saya sih jelas terharu dan pengen peluk Wardah sang petugas kado yang sepertinya harus merambah beberapa toko buku demi mengumpulkan buku-buku ini:

• Anak Ini Ingin Mengencingi Jakarta? - Cerpen Pilihan Kompas 2015
• Selamat Menunaikan Ibadah Puisi - Joko Pinurbo
• Kupu-Kupu Bersayap Gelap - Puthut EA
• Genduk - Sundari Mardjuki
• Rumah Kertas - Carlos Maria Dominguez
• The Governess Affair - Courtney Milan


2. 


Buku yang satu ini tiba beberapa hari sesudahnya. Raden Mandasia tadinya adalah hasil kemenangan battle saya dengan Ridyananda, namun karena dikirim di bulan yang spesial akhirnya pun menjadi kado yang cantik. Senang banget karena Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi karya Yusi Avianto Pareanom ini juga merupakan wishlist yang akhirnya terpenuhi.


3. 


Saya mendapat kiriman Orang-Orang Bloomington karya Budi Darma ini dari Eka, salah satu member BBI kesayangan. Buku ini tiba bersamaan dengan Raden Mandasia dan menjadi kejutan yang sangat menyenangkan. Tentu saja karena Orang-Orang Bloomington tadinya cukup lama ada dalam wishlist saya.


4. 


Paket buku Big Little Lies karya Liane Moriarty yang tiba kemudian merupakan paket super kejutan. Bagaimana tidak, saya sama sekali nggak tahu siapa yang sudah mengirim kado buku kece ini. Sempat menduga paket ini adalah pesanan buku orang lain yang meminjam alamat saya. Hingga pesan dari Mbak Mute tiba kemudian menanyakan kedatangan paket darinya. Ahahaha saya memang nggak berbakat menebak paket misterius.


5. 


Dua novel ini saya beli di obralan Gramedia Sudirman. Yah anggap saja sebagai hadiah bagi diri sendiri. Dua penulis favorit saya ditebus dengan harga murah. Aih bahagia kan ya. Apalagi saya meluncur ke Gramedia Sudirman setelah pertemuan di sore hari yang menyenangkan bersama teman-teman anggota grup ww 😷 Dua buku tersebut adalah:
• Moonlight Road - Robyn Carr
• Fools Rush In - Kristan Higgins


6. 



Yes, I Do But Not With You karya Shandy Tan yang dikirim oleh Gramedia Pustaka Utama ini juga tiba di bulan Desember. Wuaaah senangnya karena sudah cukup lama saya nggak membaca Metropop. Paket unyu yang saya anggap sebagai kado spesial ini masih dalam proses dibaca kala saya membuat postingan ini. Semoga saja reviewnya bisa segera tayang.


7. 


Paket ini tiba tepat di penghujung Desember dan mejadi penutup yang manis. Paket hadiah tahap dua dari ombojo alias suami tercinta. Tentu saja karena permintaan saya untuk dolan ke Petungkriyono ditolak 😭 Tapi kesedihan itu terbayar oleh tiga buku unyu ini:
• Kekasih Sang Duke - Penny Jordan
• Temperatures Rising - Sandra Brown
• Only A Duke Will Do - Sabrina Jeffries

Demikianlah kronologi bagaimana timbunan saya akhirnya bertambah. Jadi... mari babat semua buku tersebut di tahun 2017. Semoga janji ini bisa ditepati... gyahahaha..
Setelah membaca, saya akan update reviewnya juga di postingan ini.

Selasa, 03 Januari 2017

[Posbar] 5 Buku Terbaik yang Saya Baca di 2016 dan Harapan 2017

Tahun 2016 cukup luar biasa bagi saya. Saya menghabiskan membaca 275 buku dalam setahun ini. Lumayan meleset jauh dari target awal yang saya pasang sejumlah 366 buku. Yaah saya akui target itu memang muluk banget. Mungkin saya sedang kerasukan saat memasang target sebanyak itu, atau mungkin karena saya terlalu bahagia bisa membaca seperti orang gila di bulan-bulan awal tahun 2016.
Bisa dibilang saya rajin banget mendekati pertengahan tahun, hingga negara api menyerang. Oh bukan. Bukan negara api. Tapi dunia per-werewolf-an di telegram. Hahaha... saya pernah mencoba log out dan left group tapi hidup saya jadi hampa, jadi akhirnya saya nikmati saja.
Tapi membaca 275 buku dalam setahun benar-benar hal luar biasa bagi saya. Pencapaian tersebut bisa dilihat dari potongan gambar yang saya ambil dari goodreads saya berikut ini:




Nah... dari 275 buku tersebut saya ingin memilih 5 buku terbaik yang telah saya baca di 2016 versi saya.

1. Unveiled - Courtney Milan

Awalnya, Mbak Desty lah yang merekomendasikan buku ini lewat Ijak. Saya yang memang penyuka genre historical romance jelas nggak menolak dan mencoba membaca novel ini. Dan ternyata saya langsung suka. Banget! Saya langsung menobatkan Courtney Milan sebagai penulis favorit setelah membaca novel ini. Ulasan saya bisa dibaca di sini.

2. Cocky Bastard - Penelope Ward

Novel ini gokil parah. Saat membaca novel, saya paling suka dengan dialog yang lentur, luwes dan cerdas, seperti dalam Cocky Bastard ini. Ditulis dengan dua sudut pandang bikin novel ini dalem banget. Ulasan saya bisa dibaca di sini.

3. Devil May Cry - Sherrilyn Kenyon

Ini salah satu favorit saya dari seri Dark Hunter. Sin dan Katra langsung mencuri rasa sayang saya. Bagi saya mereka adalah best couple di antara pasangan-pasangan Dark-Hunter dan Were-Hunter lainnya. Saya mengulas novel ini di sini.

4. Deessert - Elsa Puspita

Seri yummylit ini luar biasa bikin baper bagi saya. Kisah cinta lama yang belum tuntas dipadu dengan cowok yang berprofesi sebagai cheff. Aih saya pokoknya suka banget sama cerita ini. Coba tengok ulasan saya di sini.

5. Scarlet - Marissa Meyer

Novel fantasi yang merupakan retelling dari dongeng Si Kerudung Merah ini langsung memikat hati saya. Terutama heronya yang favorit saya banget. Bahkan saya lebih menyukai Scarlet daripada buku pertamanya, Cinder. Ulasan saya tentang Scarlet bisa dibaca di sini.


Itulah kelima buku terbaik yang telah saya baca di tahun 2016. Kebetulan yang dibaca memang kebanyakan novel romance, jadi buku terbaik versi saya di tahun ini ya jelas romance. Wkwkwkk...

Nah setelah menutup tahun 2016 dengan sedikit kepuasan sekarang saya ingin mengungkapkan wishlist saya untuk tahun 2017. Harapan-harapan yang berkaitan dengan dunia perbukuan dan peresensian #halah

Dan daftar wishlist saya adalah:

1. Membaca 300 buku sepanjang tahun 2017. Okelah tahun kemarin saya gagal menyentuh angka 300, maka untuk tahun ini saya masih tetap berambisi untuk mencapainya. Semoga saja mood saya tetap bagus sepanjang tahun 2017 nanti.

2. Membaca timbunan. Tahun 2016 saya lumayan bisa mengurangi timbunan hingga hanya tersisa belasan buku yang belum saya baca. Tapi kok ya mulai masuk bulan Oktober saya mulai kalap gara-gara banjir diskon dan obralan di mana-mana. Ditambah lagi buku hadiah selama bulan Desember dari teman-teman Joglosemar dan BBI lainnya yang membuat saya terharu. Timbunan nambah!!!! 😱😱 Jadi harapan saya adalah membabat habis timbunan tersebut.

3. Membaca novel dengan setting New Orleans dan St Petersburg. Dua kota ini adalah kota favorit saya. Maka di tahun 2017 ini saya berniat mencari dan membaca buku-buku yang berkaitan dengan kedua kota ini.

4. Read and review. Tahun kemarin saya lumayan nggak tertib dalam mereview buku, untuk tahun ini sih pengennya selesai baca harus dibuat reviewnya.

Huee... cukup segitu saja deh. Saya nggak mau berharap banyak-banyak juga, takut malah nggak tercapai nanti. Gyahahaha...
Sebagai penutup saya ingin menuliskan harapan saya untuk perliterasian Indonesia: 

Semoga saja perbukuan di Indonesia makin baik, menghasilkan karya-karya yang bagus dan semogaaaaaa minat baca masyarakat juga makin meningkat. Keep reading ya, teman-teman :))))


Senin, 02 Januari 2017

[Resensi] When I See Your Smile - Netty Virgiantini

Judul buku: When I See Your Smile
Penulis: Netty Virgiantini
Desain sampul: Orkha Creative
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: November 2016
Tebal buku: 216 halaman
ISBN: 978-602-03-3543-8



BLURB

Hidup Seruni rasanya berubah 180 derajat setelah pernikahan ibunya dengan Mas Bim, pelatihnya di klub bulu tangkis Semangat Baru. Kedekatannya dengan Arya dan Arga––kakak satu bapak lain ibu––juga menimbulkan gosip tidak sedap di SMA Satria tentang Seruni yang punya pacar dua sekaligus. Tapi ia tidak peduli. 

Karena, diam-diam Seruni waswas pada laki-laki misterius dengan senyum familier dalam mobil hitam yang terus mengikutinya. Ia tidak berani menceritakan masalah itu pada orang-orang terdekatnya. Hingga suatu sore, Seruni diculik dan disekap oleh pria itu. 

Siapa yang akan menyelamatkan Seruni? Benarkah rasa sayang Arya dan Arga lebih dari sekadar saudara tiri? Lalu, siapa laki-laki misterius dengan senyum familier itu?" 

RESENSI

Sejak membaca When I Look Into Your Eyes, saya masih terbawa penasaran akan kelanjutan kisah Seruni. Ke manakah hati Seruni si tukang telat itu akan berlabuh. Hingga kemudian muncullah When I See Your Smile yang menjadi jawab atas rasa penasaran saya. Penasaran dengan kelanjutan perasaan Arya dan Arga, penasaran dengan kehidupan baru Seruni dan bagaimana dia beradaptasi dengan status baru orang-orang di sekitarnya. Sekuel dari When I Look into Your Eyes ini semakin seru dengan konflik yang baru.

When I See Your Smile menggunakan sudut pandang orang ketiga dan masih di setting yang sama dengan novel sebelumnya. Arya, Seruni dan Arga masih bersekolah di tempat yang sama di Magetan dan kurun waktunya gak terlalu jauh dari novel pertama. Dengan gaya bertutur Netty Virgiantini yang segar dan sederhana, saya dibawa terhanyut dalam konflik batin Seruni. Diksinya yang kadang lugas dan kadang puitis memberi warna tersendiri dalam novel ini. Hal yang saya sukai disamping dialog ceplas-ceplos khas Jawa yang rasanya dekat banget dengan keseharian saya.

Dalam novel ini, Seruni bukan lagi si tukang telat. Dia telah menjelma menjadi tuan puteri yang dimanja orang-orang di sekitarnya; Mas Bim, Arya dan Arga. Walau begitu ada kekosongan dan kehampaan yang ia rasakan, terutama ketika ia kehilangan perhatian dari Mas Bim. Sayang Seruni di sini lumayan menyebalkan, sedikit egois terutama terhadap Joko. Terhadap Arya dan Arga, Seruni bisa bersikap manis, tapi terhadap Joko dia malah seenaknya sendiri. Paling jengkel waktu Joko harus berurusan dengan polisi gara-gara Seruni, duh Seruni keterlaluan deh, kasihan Joko.
Saya juga gemas dengan Seruni karena lebih memilih diam saat merasa ada yang memata-matainya. Ini sebenarnya pelajaran dasar sih, terutama bagi remaja cewek, di jaman edan seperti sekarang. Jangan diam saja kalau memang merasa dikuntit, paling nggak catat nomor polisi kendaraannya, dan cerita pada orang yang benar-benar dipercaya. Memang masalahnya Seruni dia merasa kesulitan menemukan orang yang kira-kira bisa curhati, tapi mestinya nggak perlu sungkan. Jadi pelajaran juga bagi orang dewasa seperti saya, yang harus lebih perhatian pada remaja dan menunjukkan pada mereka bahwa kita bisa dan siap kapan pun mendengarkan mereka.
Sementara untuk kakak beradik Arya dan Arga, juga sedikit berbeda. Arya masih seperti sebelumnya, perhatian dan sayang terhadap Seruni. Tapi kebandelan Arga sudah berkurang di novel ini. Keras kepalanya masih, tapi kelakuannya sudah jauh lebih manis. Justru Joko yang mencuri perhatian saya, meski sering mengajak Seruni berantem, tapi Joko terhitung sabar dengan segala polah Seruni yang cukup sadis terhadapnya. Wkwkwk...

Konflik dalam novel ini lumayan beragam. Masih ada sisa-sisa konflik novel sebelumnya yang akhirnya dituntaskan, dan ada konflik baru yang berkaitan dengan rahasia masa lalu yang terungkap dan status baru Seruni. Untuk konflik perasaan antara Arya, Arga, Seruni dan Joko porsinya pas dan menjadi bumbu yang membuat cerita makin seru. Sementara konflik sang pengintai cukup membuat penasaran dan bikin bertanya-tanya. Drama penculikannya yang pasti menegangkan dan nggak bisa berhenti baca sampai akhir.

Overall, saya cukup puas membaca novel When I See Your Smile ini. Membuat saya lega akan akhir kisah Seruni yang saya anggap nanggung di When I Look into Your Eyes. Ada kehangatan kisah kekeluargaan dan persaudaraan yang manis dalam novel ini. Juga ada kisah cinta yang menurut saya gokil karena saking slengekannya Seruni. Lucu, menghibur dan yang pasti maniiiisss. Buat kamu penyuka teenlit yang lugas dan menghibur boleh banget lho baca dua novel ini.

Kamis, 29 Desember 2016

[Resensi] Love in City of Angels - Irene Dyah

Judul buku: Love in City of Angels
Penulis: Irene Dyah
Editor: Donna Widjajanto
Desain sampul: Orkha Creative
Foto isi: Budi Nur Mukmin
Desain isi: Nur Wulan
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: November 2016
Tebal buku: 216 halaman
ISBN: 978-602-03-3491-2



BLURB

Ajeng
Gadis kota besar yang bisa sangat bitchy dalam banyak hal, terutama pernikahan. Baginya, cinta cuma mitos.

Yazan Khan
Malaikat, Master Yoda, si Poker Face. Ketenangannya menemani Ajeng membeli test pack, setenang saat ia menyelipkan bunga di tangan gadis itu. Pendek kata, mengerikan.

Earth
Pria yang berisiko membuatmu lupa segala, termasuk namamu sendiri.

Cheetah
Mamalia yang sebaiknya tidak disebut-sebut di depan Ajeng.

Ibu
Dicurigai sudah kehilangan akal sehatnya karena mau menerima kembali pecundang itu.

Masjid Jawa di Bangkok
Tempat kisah-kisah bermula

Krung Thep alias City of Angels alias Bangkok
Di kota ini, terlalu tipis batas antara iman dan godaan. Ajeng lebih suka menyebutnya The Sin City.


RESENSI

Ajeng merasa resah saat tamu bulanannya belum juga datang, sepertinya ia perlu test pack. Dan semua gara-gara satu malam setelah Ajeng mendapat kabar dari Ibu bahwa Ibu ingin rujuk dengan pria pecundang itu. Malam itu Ajeng mengguyur hal yang menyedihkan dengan tawa, alkohol dan pria-pria tampan. Hingga ia jatuh ke pelukan Earth. Siapa sangka sekarang Earth justru menjadi ancaman bagi Ajeng?
Saat sedang kesal dan berusaha kabur dari Earth, Ajeng bertemu dengan Yazan, pria India rekan sekantor Ajeng. Pria yang dijuluki Master Yoda saking mengerikannya. Yazan yang cool itu bahkan tetap berwajah datar saat menemani Ajeng membeli test pack.
Yang tak diketahui Ajeng, rupanya Yazan telah lama memperhatikannya, dan kali ini tak ingin membiarkan Ajeng lepas sebelum benar-benar berjuang. Sedikit-demi sedikit, kehadiran dan perhatian Yazan mengikis rasa sinis Ajeng.
Namun Ajeng sadar, dirinya telah bergelimang dosa dan begitu berbeda dengan Yazan yang lurus. Akankah Yazan berhasil meluluhkan Ajeng? Lalu bagaimana hubungan Ajeng dengan pria yang seharusnya ia panggil Ayah? Dan bagaimana dengan Earth? Sanggupkah mereka memaafkan masa lalu?

---------------------------------

Love in City of Angels bisa dibilang merupakan buku yang saya nanti-nantikan, karena saya sudah jatuh cinta pada Ajeng sejak membaca Dua Cinta Negeri Sakura. Yaaap.. Saya memang membaca kisah Miyu lebih dulu dibanding buku pendahulunya, Tiga Cara Mecinta yang berkisah tentang Aliyah. Namun memang dari kedua buku itulah rasa penasaran saya pada Ajeng terbit hingga akhirnya tertuntaskan di salah satu seri Around The World With Love batch tiga ini.
Bagi kalian yang belum membaca Tiga Cara Mencinta dan Dua Cinta Negeri Sakura.... segeralah baca! Wkwkwkwk...
Meski sebenarnya tanpa membaca kedua buku itu pun, kisah Ajeng dalam Love in City of Angels bisa dimengerti sepenuhnya kok, cuma sayang saja, karena Ajeng benar-benar gokil parah di kedua buku sebelumnya, beda dengan di novel ini yang separuhnya mulai jinak 😅

Novel ini bertutur menggunakan sudut pandang orang pertama, yaitu sudut pandang Ajeng, sehingga saya dibawa merasakan kegelisahan dan rasa frustasi Ajeng. Tapi jangan khawatir, walau menggunakan POV dari sisi Ajeng, apa yang dirasakan oleh Yazan dan tokoh lainnya bisa tertangkap dengan mudah kok. Dari gestur, gerak-gerik serta pilihan kata dalam dialognya, terlihat jelas kok perasaan tokoh lainnya.
Setting Bangkoknya benar-benar luar biasa detail. Bukan hanya deskripsi tempat-tempat yang unik dan berbeda, tapi juga suasana dan budayanya dituturkan dengan apik. Saya paling suka dengan penggambaran festival Songkran yang dituliskan melalui pengalaman Ajeng dan Yazan dalam novel ini. Seru banget. Selain itu terselip juga trivia-trivia menarik tentang tempat-tempat unik di Bangkok. Semuanya dikemas dengan apik dan menarik.

Ajeng masih menjadi karakter yang asyik seperti di dua buku pendahulunya, walau nggak seceplas-ceplos Abby sang heroine dalam Wheels and Heels. Saya menikmati bagaimana Ajeng sering dibuat mati kutu oleh Yazan. Bagaimana gadis yang memandang sinis pada cinta sedikit demi sedikit menjadi terbuka juga.
Yazan sendiri karakter yang luar biasa aneh. Hahaha... di masa ini lho, dia tetap jadi gentleman dan legowo. Saat tiba di adegan Yazan membawakan tas Ajeng, saya jadi teringat satu bahasan di grup telegram nan rusuh, tentang seorang pria yang membawakan tas pasangannya padahal sang pasangan nggak sedang kerepotan. Saya ingat banyak yang menolak ide itu (termasuk saya), manja banget kan ya cewek nggak bawa apa-apa kok tasnya dibawain si cowok. Namun di tengah keriuhan diskusi, salah satu teman dengan kalem bilang kalau dia sering bawain tas istrinya walau istrinya nggak bawa beban apapun, alasannya.... dia terlalu sayang sama sang istri dan biar istrinya nggak kerepotan. Jadi, kalau saja nggak ada diskusi itu mungkin saya sudah menganggap Yazan manusia aneh.. Wkwkwkk...
Yah yang pasti Yazan adalah makhluk paling luar biasa sabar. Memang julukan Master Yoda cocok banget buat dia. Dan yang jelas memang Ajeng cocok dengan pria seperti Yazan. Dan omong-omong... Yazan ini romantis bangeeeet. Saya suka adegan ketika dia menjatuhkan kuntum-kuntum bunga di telapak tangan Ajeng.
Hubungan Ajeng dan Yuzu bukanlah satu-satunya yang menarik diikuti dalam novel ini, tapi juga hubungan antara Ajeng, Ibu dan Ayah. Konflik sampingan yang menyita perasaan Ajeng. Belum lagi kehadiran Earth yang membuat Ajeng kalang kabut takut hamil.
Semua bermuara pada satu hal, bisakah kita memaafkan kesalahan dan dosa masa lalu? Dan yang lebih menyakitkan, bisakah kita memaafkan diri sendiri sebelum memohon ampun pada Sang Kuasa?

Pada akhirnya, Love in City of Angel bukan saja menghadirkan kisah cinta yang penuh kesabaran dan ketabahan, tapi juga tentang pengampunan. Tentang mengambil sebuah pilihan, seperti halnya kita bisa memilih menyebut Bangkok sebagai Sin City ataukah City of Angels. So nice story... love it!!

Rabu, 28 Desember 2016

[Resensi] Love in Kyoto - Silvarani

Judul buku: Love in Kyoto
Penulis: Silvarani
Editor: Donna Widjajanto
Desain sampul: Orkha Creative
Desain isi: Nur Wulan
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: November 2016
Tebal buku: 240 halaman
ISBN: 978-602-03-3630-5




BLURB

“Adinda Melati, Satoe hari nanti, berkoendjoenglah ke Kjoto dengan kimono jang kaoe djahit dari kain sakoera ini. Akoe menoenggoemoe.” —Hidejoshi Sanada (13/11/45)

Veli, gadis yatim-piatu yang sejak kecil diasuh kakek-neneknya, adalah perancang busana yang tengah naik daun. Sepulang dari Jakarta Fashion Week, dia menemukan tumpukan surat lusuh di sela-sela koleksi kain nusantara almarhumah neneknya, Nenek Melati. Nama pengirim surat berbau Jepang itu mengusik rasa ingin tahunya, apalagi ada kaligrafi potongan ayat Al-Qur’an di dalamnya.

Bukan kebetulan, prestasi Veli sebagai desainer diganjar kesempatan tinggal beberapa bulan di Kyoto untuk mengikuti program industri budaya. Veli merasa, ini jalan untuk menambah ilmu sekaligus mencari tahu tentang Hideyoshi Sanada.

Dengan bantuan Mario, teman spesial yang sedang bertugas di Osaka, dan Rebi, kawan SMA yang sudah empat tahun menetap di Jepang, jalinan rahasia antara Hideyoshi dan Nenek pun satu per satu mulai terungkap. Penemuan ini juga membawa Veli dan Mario bertemu sosok dingin bernama Ryuhei Uehara, musisi muda shamisen, dan Futaba Akiyama, gadis pemalu penjaga kedai udon di tengah kota Kyoto. Ternyata, hubungan empat insan ini melahirkan kisah yang jauh lebih rumit dibanding cerita Hideyoshi dan Nenek Melati puluhan tahun silam....


RESENSI


Love in Kyoto merupakan novel perkenalan saya dengan karya Silvarani, karena baru kali inilah saya membaca salah satu karyanya. Memalukan ya? Padahal sudah banyak banget novel-novelnya bermunculan dan mejeng di rak-rak toko buku. But well, namanya jodoh gak lari kemana, kan? Toh akhirnya saya pegang juga salah satu karyanya dan membacanya hingga tamat.
Sebagai salah satu bagian dari seri Around The Worl With Love batch 3, Love In Kyoto memberi pesona tersendiri dibanding seri yang lain. Bukan hanya keindahan Kyoto saja yang menonjol di dalamnya, tapi juga sejarah dan budaya yang erat antara Indonesia dan Jepang. Ada secuil romantisme yang dihadirkan Silvarani di tengah kengerian dan kekejaman masa pendudukan Jepang di kala itu. Romantisme yang pada akhirnya bukan saja melibatkan Nenek Melati dan Hideyoshi Sanada saja, tapi juga orang-orang di sekitarnya, beberapa generasi kemudian.

Love in Kyoto berkisah menggunakan sudut pandang orang ketiga serba tahu. Saya dibawa menyelami, bukan saja perasaan Veli tapi juga Mario, Uehara dan Futaba. Empat orang yang terlibat dalam rasa dan tersesat karenanya. Ceritanya mengalir maju dengan beberapa kali flashback, tapi alurnya tetap terjaga. Silvarani cukup luwes dalam menuliskan narasi, meski saya kadang merasa ada beberapa adegan yang sebenarnya nggak terlalu penting, yang seandainya dihilangkan pun nggak akan mempengaruhi cerita keseluruhan. Namun toh dialognya ditulis dengan begitu cair dan hidup, sehingga saya sangat menikmati persahabatan Mario-Rebi-Veli yang hangat dan gokil. Beberapa kalimat yang quotable pun diselipkan dengan rapi tanpa kesan sok bijak.

Mengenai tokohnya, saya sangat suka dengan Veli. Gadis yang mandiri, pekerja keras dan nggak banyak tuntutan. Saya suka hubungannnya dengan Mario yang adem, sejuk gimanaaa gitu. Saya suka bagaimana Veli menerima dengan kepala dingin saat rahasia-rahasia masa lalu neneknya terungkap. Veli lebih memilih menggali dan meresapi, bukan mengkronfontasi atau menuduh.
Mario sendiri, duh... bromance-nya dengan Rebi itu yang paling bikin saya meleleh. Wkwkwkk... Sungguh, saya menikmati memperhatikan Mario saat dia bersama Rebi. Bagi saya sih cowok terlihat menarik dari kualitas hubungannya dengan sahabat cowoknya. Jadi karena mereka kelihatan asyik banget, saya jadi suka dengan Mario. Lagipula, Mario ini baik, ramah dan santun. Idaman banget kan.
Yang lumayan menyebalkan bagi saya di sini sebenarnya adalah Futaba. Terlihat lemah di hadapan cowok yang disuka, tapi giliran bertemu cewek yang jadi saingan cintanya, langsung bilang kalau jatuh cinta pada sang cowok dan bikin si cewek jadi serba salah. Ini tipe cewek yang minta dibejek. Hahaha... 
Sementara Uehara terasa jadi tokoh penyeimbang dengan auranya yang tenang. Dingin, sedikit angkuh, tapi diam-diam memperhatikan. Aiiihh....

Setting novel ini hampir seluruhnya ada di Kyoto. Saya diajak berkeliling, menikmati satu tempat indah ke tempat indah lainnya di siang dan malam hari. Selain itu, ada banyak budaya Jepang yang muncul di novel ini, terutama alat musik. Semakin seru rasanya membaca novel ini karena trivia-trivia yang disajikan.
Konfliknya cukup beragam, bukan hanya berasal dari rahasia masa lalu nenek Melati, tapi juga dari orangtua Mario yang menentang hubungan Mario dan Veli serta hadirnya orang ketiga di sisi Mario dan sisi Veli. Menarik, seru dan bikin penasaran bagaimana semua akan berakhir.

Overall, ini adalah perkenalan saya yang menyenangkan dengan karya Silvarani. Love in Kyoto membuat saya memahami tentang cinta yang bertahan tanpa harus memiliki, juga tentang menghargai sebuah proses yang telah kita lakukan untuk mencapai tujuan.

Tonton juga book trailer seri Around The World With Love Batch 3 berikut ya..


 

Nurina mengeja kata Published @ 2014 by Ipietoon