Senin, 17 April 2017

Giveaway BBI HUT 6

Akhirnya tiba juga di puncak acara #BBIHUT6 dan saya pun menyusul teman-teman member BBI yang lain membuat Giveaway Hop. 



Maafkan saya yang baru posting sekarang karena bingung ngubek-ngubek timbunan kolpri yang masih ada. Maklum beberapa sudah saya taruh di kafe buku dan saya hibahkan ke perpus lokal, karena rumah saya yang hanya seukuran kamar kos ini sudah nggak sanggup menampung banyak buku. Wkwkwkwk~~

Jadi ini dia persembahan dari saya untuk Giveaway Hop kali ini. Satu paket buku kolpri yang terdiri atas:

• (Never) Looking Back - Elvira Natali
• A Cup of Tea Menggapai Mimpi - Herlina P. Dewi, dkk



Nah caranya gampang saja kok:

1. Peserta berdomisili di Indonesia.

2. Follow twitter saya @KendengPanali atau instagram saya @kendengpanali follow juga twitter @BBI_2011 & @EventBBI

3. Follow blog ini melalui GFC atau email.

4. Share info giveaway ini dengan hashtag #BBIHUT6 dan jangan lupa untuk mention akun saya.

5. Sila share review buku saya yang kalian suka ke medsos kamu. (Yaa bantu promo dikit gakpapa ya *dikeplak*) Buku yang telah saya review bisa dilihat di index review

6. Tulis nama, alamat email, akun twitter, link share review dan alasanmu kenapa menyukai review buku tersebut di kolom komentar postingan ini.

7. Giveaway akan berlangsung selama satu pekan dan akan saya tutup pada 23 April 2017 pukul 23.59 WIB.

8. Jangan segan sapa & colek saya di twitter jika ada pertanyaan atau cuma sekedar ngobrol. Hahaha...

9. Yang terakhir good luck yaa 😘

Sabtu, 15 April 2017

Tips Unyu || Ketika Penghasilan Tak Sebanding Lurus dengan Semangat Baca


Nggak bisa dipungkiri, menjalani hobi kadang bisa bikin bokek. Termasuk membaca buku yang harga bukunya sekarang naik gila-gilaan tanpa peduli keadaan kita, seolah kita-kita ini anak raja minyak yang tidurnya di atas tumpukan uang.
Bayangkan saja satu buku dengan tebal standart 300 - 400 halaman saja harganya sudah berkisar di 70 - 90 ribu rupiah. Nyesek nggak sih ketika kita hanya membutuhkan 2 - 5 hari untuk menuntaskan satu buku bacaan? Malah kadang ketika buku tersebut sebegitu menariknya satu hari saja sudah cukup untuk menyelesaikan bacaan kita.

Tapi apakah hal tersebut menyurutkan semangat kita? Seharusnya sih enggak. Percayalah, akan selalu ada jalan bagi orang-orang yang berusaha. #tsaaah *udah cocok jadi motivator belum?* :P

Sekedar cerita sedikit, saya sendiri bukanlah keluarga berduit. Gaji suami hanya cukup untuk biaya makan dan hidup pas-pasan. Honor ngajar privat saya masih digunakan untuk menambal lubang-lubang pengeluaran. Apalagi saya menerima bayaran ala kadarnya karena saya hanya menerima murid dari keluarga menengah ke bawah. Jadi modal saya untuk menyenangkan diri sendiri dari menyisihkan sisa uang belanja dan pendapatan hanya sebesar 50 ribu rupiah per bulan. Cukup? Saya sih jelas cukuplah. Mau tahu gimana caranya? Bagi yang demen ngubek-ngubek blog ini pasti sudah mengenal sedikit tips saya karena pernah saya sampaikan di artikel yang saya ikutkan untuk lomba Reading is Sexy yang diadakan sebuah penerbit. Tapi, kali ini saya mau ngasih versi komplit buka-bukaan rahasia saya. Jadi sini deh deketan, saya jitak... eh saya kasih tahu :))


1. Sidak ke toko buku bekas

Beruntung bagi saya karena tinggal di pusat peradaban perbukuan. Warga Jogja mana yang nggak kenal Shooping Centre, pusatnya penjualan buku-buku bekas maupun buku-buku terbitan lama yang telah disortir dan tersingkir dari toko buku besar. Jadi ke sinilah saya membawa uang kuota saya untuk beli buku.
Tapi...tapi...bukunya bukan buku up to date dong?
Yaa... saya sih yang penting tetap bisa membaca dibanding ngikutin tren buku apa yang lagi hits. Memang terkadang jadi telat ya, tapi percayalah, buku yang bagus akan selalu dibicarakan sepanjang masa. Jadi nggak masalah kita telat baca 2 sampai 10 tahun karena buku nggak akan basi.
Oh iya, jika di kota kalian ada toko buku bekas semacam di kota saya, cobalah mengakrabkan diri denga pemilik kiosnya. Memang perlu proses, kadang ada pemilik kios yang baru akrab setelah saya datang 3 kali, bahkan setelah 10 kali, tapi hasilnya kadang dengan uang 50 ribu saya bisa bawa pulang 5 buku. Hahaha..
Tapi hati-hati ya, cek juga keaslian bukunya. Jangan sampai beli yang bajakan. 😉


2. Berburu diskonan

Selalu buka mata dan buka telinga untuk obralan buku, jangan cuma buka hati aja buat gebetan. Sekarang bukan hanya toko buku besar semacam Gramedia saja yang sering menggelar gebyar diskon gila-gilaan, beberapa toko buku lain pun juga kerap menjaring pembeli dengan promo diskon dan obralan. Bahkan lapak-lapak buku online dan buku indie juga sering menawarkan diskon yang lumayan besar. Tapi jangan sampai kalap juga, utamakan skala prioritas. Gunakan insting, buku yang kemungkinan besar masih akan tetap muncul di diskonan berikutnya, lebih baik dipending dulu. Berat? Iya. Tapi kira harus kuat :')


3. Perluas pertemanan

Sahabat adalah penyelamat dan teman adalah uluran tangan. Memiliki teman yang sehobi itu banyak manfaatnya. Kalian bisa saling pinjam buku, tukar buku atau mungkin ngasih info-info penting seputar perbukuan. Apalagi jika kamu tinggal di kota terpencil kamu bisa minta bantuan titip buku diskon atau obralan yang sedang berlangsung di kota sang teman.
Tapi ingat untuk mengembalikan buku yang kita pinjam dan menjaganya seperti induk beruang menjaga anak macan. #eh Karena kadang pencinta buku bisa sangat posesif dengan buku mereka seperti mamak kangguru.
Untunglah saya punya teman-teman anggota BBI yang baik-baik, yang mau minjemin buku, yang mau dititipin buku, mau tuker-tukeran buku bahkan menghadiahi saya buku *nangis terharu*


4. Menulislah

Mulailah menulis review buku yang sudah kamu baca di media blog. Ada penerbit yang sering mengadakan lomba review dengan reward yang menarik, entah buku entah voucher belanja buku. Bahkan jika tulisanmu layak dimuat di surat kabar, kamu bisa mengirimkannya dan jika dimuat tentunya kamu akan mendapat imbalan yang sepadan.
Saya sendiri belum pernah mencoba mengirim ke koran karena review saya seringnya review suka-suka, review sesuai suasana dan kata hati.
Review adalah bentuk apresiasi kita terhadap sebuah buku, menuliskannya sama mengasyikkannya seperti membaca. Dulu saya melakukannya sebagai terapi karena tekanan yang pernah saya alami, itu sebabnya saya nggak membatasi diri dalam mengekspresikan kesan saya. Saya nggak mau dikungkung dan ingin menulis dengan gaya saya sendiri. Jadi saya cukup berbahagia kala sekali-sekali bisa menang lomba review.
Jangan ragu untuk memulai, bahkan dalam keterbatasan. Saya sendiri ngeblog hanya bermodal smartphone, tapi selama kita punya semangat, nggak ada yang nggak mungkin di dunia ini, kan?


5. Kunjungi perpustakaan

Bagi saya, kota yang indah nggak akan sempurna tanpa berdirinya sebuah perpustakaan. Saya sering iri jika teman-teman saya yang ada di luar negeri mengirimkan foto mereka atau anak mereka di dalam perpustakaan kota. Bahkan di sebuah desa pun perpustakaannya cantik, terang dan lengkap.
Perpustakaan di Indonesia entah kenapa selalu dilabeli kuno, suram dan membosankan. Tapi tenang saja, jika di kotamu perpustakaannya sama sekali nggak menarik dan nggak lengkap, saat ini ada perpustakaan digital semacam ijakarta, ipusnas, ijogja, ipekanbaru, dan i lainnya yang bisa diunduh di ponsel pintar kamu.
Atau mungkin di kotamu ada kedai buku atau pustaka keliling? Nah manfaatkanlah sebaik-baiknya akses tersebut.


6. Setor sampah ke bank sampah

Bank sampah ini penyelamat saya. Sampah rumah tangga bisa dipilah antara sampah plastik, sampah kertas dan sampah logam. Kalau sudah terkumpul, bisa disetor ke bank sampah dan rekening kita terisi saldo hasil penjualan sampah-sampah tersebut. Hasilnya lumayan bisa untuk tambah-tambah modal beli buku, daripada cuma dibuang dan menjadi gunungan di TPA. Malah terkadang saat jalan-jalan pagi,  dan menemukan sampah di jalan, saya spontan memungutnya. Ya kayak pemulung gitu. Hahaha...
Di bank sampah ini nggak jarang saya menemukan buku dan majalah bekas yang dijual oleh pemiliknya, padahal kondisinya masih bagus-bagus. Hiks. Itu sebabnya saya wanti-wanti ke petugasnya kalau ada buku bekas yang disetor ke bank sampah, tolong ditahan dulu, siapa tahu saya mau. Bahkan kemarin saya mendapat satu kardus buku Pearl S. Buck di sana! Waw banget, kan.


Hmm... berhubung ini adalah artikel dalam rangka Marathon post BBIHUT6 jadi saya kasih 6 tips ini dulu, ya. Nggak usah banyak-banyak nanti mblenger bacanya. Hihihi...
Yang pasti jangan sedih jangan berkecil hati dengan harga buku yang membumbung, hobi ada bukan untuk mencekikmu, tapi untuk membuatmu santai dan lebih bahagia. Jadi... maukah kamu membaca dan menulis bersama saya? ;)

Kamis, 13 April 2017

Panjang Umur Serta Mulia, BBI

Happy Birthday, BBI! Mumumuuu....
Sudah 6 tahun aja usia komunitas unyu kesayangan saya ini. :')



Saya terdaftar sebagai anggota Blogger Buku Indonesia ketika Bebi tersayang ini berusia 4 tahun. Yaap, lamaran saya diterima dan saya sah jadi istri anggota Bebi di akhir tahun 2015. Sebelumnya bagi saya BBI itu impian, komunitas yang ingin saya dekati tapi saya belum kuasa memisah isi blog saya yang campur aduk. Memisah blog artinya akan ada blog yang terbengkalai, karena yah... saya nggak semultitasking dan sekonsisten itu. :')

Tapi toh akhirnya saya memantapkan diri juga "melamar" Bebi. Alasannya saya ingin bisa satu wadah dengan orang-orang yang sehobi dengan saya: membaca dan menulis. Saya orangnya nggak suka sendirian. Biar bisa banyak temen nggosipnya gitu *plak* :p
Dulu awalnya sih saya masih malu-malu, begitu diterima juga belum berani colek-colek member lain. Jiper iya, rasa segan juga ada. Siapalah saya dibanding mereka. Sampai Vina ngajakin saya masuk ke grup WA BBI Joglosemar, grupnya member BBI wilayah Jogja, Solo, Semarang dan sekitarnya. Rasanya seperti benar-benar diajak masuk rumah setelah sebelumnya baru duduk-duduk di teras. Mereka bener-bener keluarga yang angeeeet dan ramah betul. Obrolannya seru, gayeng dan gokil, malah grup ini termasuk grup top five yang chatnya bisa mencapai ratusan hanya dalam sehari saja. 😂😂 Dulu saya malu-malu sekarang mungkin saya yang paling malu-maluin di sana >.<

Jadi karena BBI lah saya mendapatkan sebuah keluarga baru. Saya yang tadinya ngeblog dan nulis review demi terapi mental saya, karena saya jadi puas bisa mengeluarkan opini dan membagi pemikiran saya, entah dibaca orang atau enggak *kok melas ya XD*, sekarang dengan menjadi bagian BBI saya punya teman-teman yang bisa saling menyemangati, saling tukar pikiran, saling tukar info buku, pinjem-pinjeman buku atau malah sekadar ngumpul bareng berburu diskonan buku. Hihihi...

Usia kebersamaan saya dengan BBI mungkin memang baru seumur jagung. Saya bukan saksi yang melihatnya lahir dan berusaha berdiri atau merangkak. Kesertaan saya pun belum maksimal dalam mengiringi langkah BBI tumbuh dewasa. Tapi doa saya selalu untukmu bebikuuuh... Selamat ulang tahun yang ke-6 BBI. Semoga BBI makin solid dan bersinar (emang bintang), mari kita menua bersama-sama sambil menyebarkan semangat membaca, ya Beb :*
Cheers.

Rabu, 12 April 2017

Ngobrol Unyu Bareng Blogger Buku Baru dari Aceh

Yuhuuu jumpa lagi di #BBIHUT6 Marathon Post...umm.. setelah kemarin bolong nggak bikin postingan. Biasa lah emak-emak kader kalau awal bulan suka ribet dengan urusan kampung. Kampung asli yaa bukan kampung Maifam di Telegram. Wkwkwk~~



Well, di hari ini saya bakal mengambil tema berkenalan dengan member BBI angkatan 16-17. Saya yang kudet karena jarang muncul di medsos ini sepertinya memang harus menjelajah twitter dan facebook demi menemukan member baru. Ada sih beberapa member baru yang sudah saya kenal dan pernah kerja sama jadi bloghost bareng. Ada juga yang saya kenal karena main game werewolf bareng di Telegram. Namun saya mencari seseorang yang sama sekali belum saya kenal biar bisa nambah temen juga. *karena nggak mungkin kan saya nyari gebetan* XP

Akhirnya saya berhasil juga melobi seorang gadis manis asal Aceh untuk saya seret dan sidang ke blog saya. Hahaha... Sebenarnya namanya nggak asing bagi saya karena gadis ini cukup rajin juga ikut giveaway blogtour di blog saya sepanjang tahun kemarin. Tapi akhirnya kami bisa ngobrol akrab setelah saya kepoin. Hahaha...

Jadi tanpa panjang lebar yuk simak obrolan saya dengan Pida Alandrian pemilik blog buku collection-of-book.blogspot.co.id berikut ini ;)



Hai, Pida, silakan perkenalkan diri kamu lebih dulu (seperti nama, asal, domisili, status kamu) ke pembaca Nurina Mengeja Kata dong 😉

Hai juga Kak Ina... Terima kasih lohh sebelumnya, karena sudah berkenan mengajak aku untuk kencan di Nurina Mengeja Kata.
Perkenalkan original namaku adalah Shafrida (harap dimaklumi dari mana asal muasal nama email aku berasal *info nggak penting). Kalau di dunia sosmed sih aku lebih dikenal dengan nama Pida Alandrian (udah pada kenal kan yaa, yang belum kenal yukk kita kenalan).

Aku kebetulan lahir dan besar di Aceh, hingga sekarang belum pernah keluar sangkar masih di Aceh aja dari dulu, tepatnya di Aceh Timur. *ih lha kok sama si empunya blog ini juga 32 tahun ngendon di Jogja terus 😂*
Sekarang ini selain 'sok sibuk' dan menyibukkan diri di dunia blogger, aku juga  seorang dosen di salah satu Akedemi swasta di Aceh Timur.

Oiyaa, ini status yg dimaksud status apa ya kak? 
Kalau status hubungan -> masih single *eheeemm* (dalam arti masih melakukan pencarian pasangan hidup semati sampai sekarang *karena belum ketemu) 😂
*tadinya mau tanya kriteria cowok idaman Pida seperti apa tapi takutnya melenceng dari tema. Jadi lain kali saja saya tanyakan. Atau kamu mau tanya sendiri sekalian pedekate? Silakan saja :) *


Bisa ceritain nggak gimana sih awalnya sampai kamu bisa kecemplung di komunitas BBI?

hmmm, awalnya yaa. Berawal dari tahun 2016 di bulan Februari kalau nggak salah aku. Nah wktu itu aku lag aktif-aktifnya ngikutin GA berhadiah buku di blog-blog, di sosmed juga, pokoknya yang ngadain GA buku lah. Dari pas ngikutin GA itu, aku kan liat-liat tuh suasana blognya, ada yang rame ada yang sepi (sepi di sini maksudnya, nggak banyak banner/logo yang dipasang di blognya). Pas ngeliat logo BBI (ntah di blognya siapa aku lupa) ada yg menarik aja gitu. Penasaran aku cek deh satu-satu blogger yang ngadain GA yang ternyata sama-sama punya logo BBI ini rata-rata. Aku searching juga di paman google ini BBI siapa sih? Kok bisa seheboh ini sihh orang-orangnya. Aku heran juga awalnya, pas aku tau apa itu BBI, ada rasa kagum yang luar biasa. Ternyata di kota besar ada yang hobi baca buku dan punya komunitasnya, beda banget sama di daerah aku 😂 yang sepi nggak ada komunitas apa-apa. Dan ini bagi  aku yang pada awalnya masih awam banget jadi tertarik dan pengin gabung. Keren aja gitu bisa masuk komunitas ini dan ada rasa bangga tersendiri pasti. Pas lagi dibuka pendaftaran di tahun 2016, aku ikut daftar dan ternyata nggak lewat seleksi, heheh. Udah nyadar nggak lewat sih, karena umur blog aku waktu itu masih sebutir nasi bangett. 
Dari situ aku mulai aktif review-review buku di blog, dan Alhamdulillah pas di buka pendaftaran lg di 2017 aku lolos seleksi (yeyyyy,,, hati aku berdebar2, rasanya seperti sedang nembak cowok langsung di terima, heheh) *sama saya dulu juga merasa gitu. Love you BBI 😘*
Dari situlah awal mula aku bisa berkecimpung di BBI. Jadi curhat panjang gini yaa 😂😂😂

Header blog buku Pida... Cakepnyaaaa


Di Aceh sendiri geliat literasi di sana seperti apa sih? Ada toko buku atau perpustakaan yang bisa dijangkau para pencinta buku nggak?

Kalau aku bilang nggak ada (takutnya ntar ada di suatu daerah yang ternyata akunya aja yg nggak tau apa-apa).
Sewaktu aku masih tinggal di Banda Aceh dulu, kegiatan untuk khusus literasinya aku nggak tau. Karna zaman-zaman kuliah aku dulu sesama teman kampus yg aku kenal; yg penting ada hobi baca, suka baca novel, ada buku yg disuka yaa beli di tobuk. Udah gitu-gitu aja. saling pinjam-meminjam aja. Yang hobi banget baca pun cuma aku sama temen aku berdua. 
Dulu punya hobi baca yaa sekadar itu aja. Ada paman google pun cuma dimanfaatin untuk cari info seputaran oppa-oppa cantik (maklum korban dari efek baperan korea).

 Makanya pas tau ada BBI (stlah aku selesai kuliah) aku takjub bangett sampe ada perkumpulan-perkumpulan gitu.  Pas di tahun 2016 baru deh fokus dan cari-cari tahu lagi tentang komunitas-komunitas buku.

Kalau di daerah aku tepatnya di Aceh Timur, Toko bukunya nihil 😭😭😭 (ini aku harus sedih atau merana karena nasib tinggal jauh dari tobuk?)
Kalau lagi berkunjung ke Banda Aceh aku palingan cuma sekadar cuci mata aja di tobuknya, krn di Banda Aceh buku-buku terbaru nggak selalu terupdate tepat waktu. Lambat banget.
Jadi jangan heran, sekali aku berkunjug ke Medan, aku sering kalap belanjanya, nggak heran orang rumah ikutan meledak juga. heheheh..
Untuk perpus aku lebih menikmati perpus yg ada di BandaAceh. Di kampung aku; Aceh Timur nggak ada juga.. hehehe
Makanya sampai sekarang aku lebih suka suasana tempat aku tinggal kuliah dulu, di Banda Aceh. (Nggak bermaksud untuk menjelek-jelekkan tempat tinggal aku yang sekarang loh yaa, tapi memang seperti itu adanya). *hiiiks saya jadi sediiiih*

Makanya kak, resiko punya hobi baca dan tinggal di daerah barat Sumatra.. Tapi akunya happy-happy aja kok, jangan ikutan sedih gitu dong kak, heheheh (aku jadi ngerasa bersalah nihh ceritanya).
Solusi kami di sini yaa, harus beli buku di tobuk online, dgn resiko ongkirnya yg udah setengah dari harga buku. *ini juga makin sedih bacanya, saya jadi keinget yang pernah diomongin Mbak W tentang bagaimana dia dan para traveler lain membantu mendistribusikan buku ke pelosok-pelosok. Karena nggak mungkin juga nunggu tindakan pemerintah. Oke ini mulai ngelantur. Back to topic*


Kalau soal buku nih, genre apa yang jadi favoritmu & kenapa? ^^

Ini jawaban yang nggak perlu bikin aku harus putar ulang memori. hehehe. Genre fav aku ROMANCE. *wahah tooosss*
Tapi Romance-nya jangan yang alay-alay juga aku jadi bosan bacanya. Aku suka romance yang marriage life. Suka aja dengan kisah-kisah manis dan pahit ala pernikahan. Mungkin karena efek aku belum nikah juga, jadi sering ikutan baper dengan kisah-kisah romance-marriage life ini. Dan bisa jadi pembelajaran untuk aku pribadi juga sih. Mana tau kisah romance yg pernah aku baca, bisa aku terapkan di kehidupan nyata aku, heheheh (korban pembaca novel yg gampang banget kena baperr). *tapi...tapi... kehidupan rumah tangga nggak sedrama kisah novel, kok. Lebig drama kalau ngurus anak, malah 😢*


Kalau selain romance, genre apa yg masih nyaman kamu baca? Dan ada anti genre tertentu nggak?

Selain Romance (udah fix paling suka). Aku sebenarnya penikmat semua genre sih, tapi balik lagi ke isi dan alur ceritanya yg seperti apa. Terkadang kan genre yang kita sukai ada yg nggak sesuai dengan apa yg selalu diharapkan pembaca. Pernah aku baca romance, tapi ceritanya sangat mengecewakan. walaupun mengecewakan tetap saja romance kesukaanku 😊
dan sampai sekarang belum ada deh yang membuat aku anti sama genre tertentu.


Nah soal romance... penulis favoritnya siapa nih?

Ada beberapa sih, tapi yang paling aku suka romancenya  punya Kak Indah Hanaco, heheh... *aih samaan lagi. Penulis yang ini emang kesayangan banget 😄*
Aku juga suka Andrea Hinata dan J.K Rowling. Untuk yg lainnya, aku lebih ke novelnya dulu seperti apa. Kalau novelnya aku suka yaa, berarti penulisnya aku suka juga 😄 


Bisa dong kasih rekomendasi untuk saya dan teman-teman lain, tiga buku romance favorit kamu 😉

Dessert - Elsa Puspita
Insya Allah, Sah! - Achi TM
Life - Raatomo
*wah iya, Dessert ini bagus, saya juga suka banget.*


Nah lalu setelah jadi bagian dari blogger buku Indonesia, apa sih keuntungan yg sudah kamu rasakan? Seperti apa suka dukanya?

Keuntungannya, banyak kenalan baru dari luar Aceh yg tentunya punya hobi yang sama, bisa saling share tentang buku-buku yang WAJIB dibaca, bisa tanya-tanya seputar membuat review yang bagus, bisa kenalan sama penulisnya langsung, dan yang terakhir bisa bergabung dengan salah satu komunitas buku BBI .. oiya, yg paling penting bisa kenalan juga sama Kak Ina, kalau nggak kenal nggak mungkin juga kak Ina kepoin aku 😊😊
*wahahaha tanpa BBI dan event ini, mungkin kita hanya dua orang yang saling memfollow di medsos tanpa bersinggungan dan mengobrol yak? Hihihi*

Untuk sukanya sama aja sih dengan keuntungan selama aku jadi Blogger Buku. sedangkan utk dukanya, di awal-awal jadi blogger buku, mungkin keterbatasan dan sulitnya punya dan membeli buku2 baru utk dibaca dan direview. *semogaaa buku-buku semakin mudah diakses seluruh penjuru Nusantara, ya. Sedih kalau dengar ada teman yang terkendala mengakses buku fisik :(*

Intinya sih, jadi bagian Blogger Buku Indonesia itu senang. Doa kami selalu untukmu Bebikuuuhh 😘😘 Dan terima kasih Pida sudah berkenan diseret dan dikepoin di blog Nurina Mengeja Kata. Jangan kapok yaaa~~

***********

Begitulah wawancara saya dengan Pida sang member baru BBI di antara kesibukan kami berdua. Terima kasih BBI, terima kasih divisi event... bisa bikin saya yang kurang gaul ini berkenalan dan ngobrol seru dengan teman sesama member BBI.
Bagi kalian yang ingin berkenalan lebih lanjut dengan Pida Alandrian, kalian bisa follow dan sapa dia di:

Twitter : @PidaAlandrian92
Facebook : PidaAlandrian
Instagram : @pidaalandrian dan @pida_alandrian
Goodreads : Pida Alandrian

Senin, 10 April 2017

6 Pengalaman Pertama Mencecap Buku Mereka

Holaaa... bertemu lagi dengan saya yang mulai malas ngisi blog ini. *sembunyi di balik taplak meja* Saat ini saya terpaksa nongol demi ikut seru-seruan mengisi acara yang digagas divisi event BBI. Biar kelihatan rajin gitu. Wkwkwk~

Setahun ini (April 2016 - Maret 2017) beberapa kali saya membaca buku karya penulis yang baru bagi saya. Baru dalam artian sebelumnya saya belum pernah membaca karyanya. Jadi semacam pengalaman icip-icip pertama. Ada yang berkesan dan bikin saya langsung suka, ada juga yang bikin saya mengerenyit dan merasa hilang selera.
Saya memang nggak keberatan bereksperimen mencicip karya penulis baru, apalagi jika penulis atau karyanya berseliweran di obrolan-obrolan sesama pencinta buku ataupun jelas-jelas bukunya direkomendasikan seorang teman.

Berkaitan dengan perayaan ulang tahun Blogger Buku Indonesia yang ke-6, maka saya ingin menuliskan tentang pengalaman pertama saya mencicipi karya 6 orang penulis yang saya anggap berkesan bagi saya. Pilih angka enam karena ini kan ultah ke-6, biar matching lah. ^^
Nah siapa saja mereka dan buku yang mana yang jadi pengalaman pertama saya? Inilah mereka:



1. Penelope Ward & Vi Keeland

Saya mencicip hasil duet kedua penulis ini pertama kali melalui novel mereka, Cocky Bastard. Ini pengalaman pertama saya yang langsung bikin saya readgasm saking nikmatnya membaca tiap halamannya. Saya pernah mengulas Cocky Bastard di sini.
Reaksi saya seusai membaca karya mereka adalah... menimbun. Hahahaha... Ternyata walau saya kesengsem berat dengan gaya bercerita mereka, saya masih belum bisa move on dari Chance si mulut kurang ajar.
Saya memang mendapat kesan pertama yang luar biasa terhadap karya Penelope Ward & Vi Keeland, sayangnya ini juga merupakan satu-satunya karya mereka yang saya baca setahun ini. Semoga saya punya timing yang pas untuk membaca karya mereka lagi. Soon. :)


2. Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

Di Tanah Lada merupakan perkenalan pertama saya dengan karya penulis luar biasa ini. Saya langsung dibuat tercengang dan penasaran dengan karya-karyanya yang lain. Petualangan saya menelusuri karya Ziggy berlanjut ke San Francisco dan Seaside. Ketiga buku tersebut pernah saya ulas di sini.
Tiga kali membaca karya penulis ini, tiga kali pula saya mendapati feel yang berbeda-beda. Yang paling bikin saya merinding tentunya saat membaca Seaside. Ini yang membuat saya mengagumi Ziggy dan menjadikannya penulis yang karyanya selalu ingin saya baca.
Oh ya saya saat ini masih berusaha menyelesaikan membaca Semua Ikan di Langit yang... eung... membuat saya syok bahkan sejak lembar pertama. XD


3. Annisa Ihsani

Jujur saya baru berkenalan dengan karya Annisa Ihsani di tahun ini melalui Teka Teki Terakhir. Saya sudah jarang melirik teenlit lagi, apalagi penulis baru. Seringnya saya hanya membaca lini atau genre ini jika penulisnya sudah saya suka gaya bertuturnya. Tapi mencoba membaca karya Annisa Ihsani yang satu ini ternyata nggak bikin nyesel. Seru, asyik dan nggak melulu tentang cinta-cintaan. Gaya bertuturnya yang enak langsung bikin saya betah, kesederhanaan tokohnya bikin saya nyambung. Itu sebabnya saya masih ngidam buku Annisa Ihsani yang lain yang belum juga bisa saya temukan. Semoga kami bisa segera berjodoh. Review Teka Teki Terakhir pernah saya tulis di sini.


4. Skye Warren

Penulis erotica romance yang satu ini baru saya cicipi akhir tahun lalu. Pertemuan saya dengan karyanya karena penulis ini menulis retelling dongeng Beauty and The Beast versi erotica-nya. Saya yang penyuka kisah klasik gadis cerdas cantik bertemu pria buruk rupa & galak tentunya menyambar kesempatan ini. Nggak disangka saya suka dengan gaya bercerita Skye Warren dan menikmati membaca keseluruhan seri Beauty yang saya ulas di sini.
Sayangnya ketika saya mencoba membaca buku lain karya Skye Warren yang bergere dark romance, saya nggak sanggup. Hahaha.


5. Yusi Avianto Pareanom

Meledaknya kepopuleran Raden Mandasia membuat saya jadi tertarik juga untuk membaca kisah yang diganjar Khusala Sastra Khatulistiwa 2016 ini dan menuliskan reviewnya di sini. Saya bersama beberapa teman pun janjian untuk baca bareng buku yang lumayan tebal ini. Seru tentu saja. Dan saya sayang sekali untuk menamatkannya. Bukan karena kisahnya yang kaya akan dongeng dan legenda, tapi juga betapa piawainya Yusi Pareanom membawa saya terdampar dari satu peristiwa ke peristiwa yang dialami Sungu Lembu. Anjing benar.
Tentunya pengalaman ini membuat saya jadi penasaran terhadap penulis satu ini dan memburu karya-karya lainnya yang juga diterbitkan secara indie, sehingga harus ekstra keras mencarinya.


6. Brahmanto Anindito

Saya menyukai sejarah, terutama sejarah Indonesia. Peristiwa-peristiwa yang pernah bergejolak di negeri ini selalu menarik rasa ingin tahu saya. Maka ketika Brahmanto Anindito melahirkan sebuah novel thriller militer yang berlatarkan situasi pemberontakan di Papua, saya jelas tertarik. Membaca Tiga Sandera Terakhir—yang pernah saya ulas di sini—sungguh menjadi pengalaman pertama saya mencicipi karya Brahmanto Anindito yang mengasyikkan. Saya menikmati cara berceritanya dan bagaimana ia membuat saya berdebar di tiap adegannya. Rasanya sayang sekali harus cepat-cepat mengakhiri novel ini. Yang jelas saya ingin membaca karya-karyanya lagi.


Demikianlah enam penulis yang membuat pengalaman pertama saat berkenalan dengan karya mereka terasa berkesan bagi saya. Ibaratnya mereka membuat saya jatuh cinta di pertemuan pertama. #eaaaaakk
Nah, bagaimana dengan kamu? Siapa penulis yang bikin kamu jatuh cinta di pengalaman pertama? :))


Sabtu, 08 April 2017

[Resensi] Three Women Looking For Love - Netty Virgiantini

Judul buku: Three Women Looking For Love
Penulis: Netty Virgiantini
Desain sampul: Innerchild Studio
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Oktober 2012
Tebal buku: 272 halaman
ISBN: 978-979-22-8913-8



BLURB

Kami bertiga dipersatukan takdir sebagai lajang terakhir di angkatan SMA. Berusia kepala tiga, kami senasib sepenanggungan. Kami saling berbagi, saling menguatkan, juga saling bersaing diam-diam.
Hanya karena "status" hidup kami jadi sorotan banyak orang, kami dipandang sebelah mata. Tapi bagi kami itu biasa. Digunjingkan, itu tak terlalu memusingkan. Masih juga ditambah harus melakukan banyak ritual yang tak masuk akal. Mulai dari mencuri kembang melati di keris pengantin pria sampai mandi kembang tengah malam. Kami rela melakukan apa saja, asal tidak harus makan beling seperti kuda lumping!

Jodoh itu punya waktu dan caranya sendiri ketika menghampiri. So, don't worry be happy! Huhuuy!
(Jani, Rena, Mona)


RESENSI

Lajang terakhir. Betapa berat status tersebut bila disandang seorang wanita. Sebahagia apa pun sang wanita dengan hidupnya, selalu ada orang-orang yang akan riwil tentang status lajangnya dan memberi tekanan sosial.  Itulah yang dihadapi oleh ketiga tokoh wanita dalam novel Three Women Looking For Love ini. Situasi yang sebenarnya sudah akrab banget dengan kita karena sering kita jumpai entah di media sosial atau di lingkungan terdekat kita.

Netty Virgiantini mengungkapkan kegelisahan ketiga the last lajangers ini dengan gaya bertuturnya yang khas. Selengekan dan kocak. Para cewek-cewek di novel ini merupakan cewek-cewek kuat dan mandiri, yang cuek di luar tapi juga ketar-ketir di dalam. Bukannya mereka menutup mata dan hati dari cowok yang mendekat—ini terlihat dari jungkir-koprol-jempaliknya usaha mereka—tapi bukankah memilih calon pendamping juga nggak bisa asal comot hanya demi membungkam omongan orang? Saya suka bagaimana mereka dibuat galau, sempat terombang-ambing di antara prinsip dan tuntutan lingkungan. Banyak cobaan yang mereka hadapi, seperti... kenapa ketika sedang menginginkan jodoh, yang menghampiri kok ya yang aneh-aneh. Seperti itulah kurang lebihnya. :)))

Diceritakan melalui sudut pandang orang pertama yaitu sudut pandang Jani, novel ini tetap bisa memotret keresahan ketiga wanita yang bersahabat dekat ini dengan lengkap. Chemistry yang akrab dan dialog yang ger-geran membuat kisahnya enak dibaca. Alur cerita dalam novel ini memang cenderung melompat. Seperti ketika Jani ada di resepsi pernikahan sementara sosok Irawan masih terselubung misteri. Irawan sempat ingin mengungkapkan identitasnya tapi selalu saja ada gangguan (dalam hal tarik ulur informasi ini, Netty Virgiantini memang paling jago bikin geregetan), tapi adegan hanya terputus sampai di kegagalan Irawan saja, tanpa ada kelanjutan lagi bagaimana situasi mereka kemudian hingga resepsi berakhir.
Tapi toh memang seperti yang saya bilang sebelumnya geregetan penasarannya bisa sampai di ubun-ubun karena Irawan ini misterius banget. Lagi-lagi sih, tipe karakter hero yang khas seperti novel-novel Netty Virgiantini yang lain: kalem, sederhana tapi membius. Jyaahhh XD

Sebenarnya walau sama-sama berstatus lajang, situasi Jani, Rena dan Mona lumayan berbeda. Selain karakter, latar keluarga mereka pun berlainan, ini yang menyebabkan perbedaan tekanan tentang jodoh yang mereka rasakan berbeda-beda levelnya. Jani memang lebih santai karena posisinya sebagai anak bungsu dan kakak-kakaknya telah menikah, berbeda dengan Rena yang anak tunggal dan Mona yang merupakan anak pertama dan telah dilangkahi adiknya dalam hal menikah. Hal inilah yang kemudian menimbulkan mereka diam-diam bersaing sengit, tapi dibungkus dengan kepolosan dan kekocakan.
Hal yang akrab bagi saya adalah budaya mencuri bunga melati di keris pengantin pria. Aduh, ini saya pernah lakukan. Hahaha. Saya paham betapa gusarnya Jani harus mencuri bunga dari keris yang terselip di punggung pengantin pria hanya agar ketularan dapat jodoh. Ada juga adegan ge-er ge-er salting kala tukang video acara pernikahan malah terus-terusan mengambil gambar Jani. Ini juga bikin saya bernostalgia jadinya. XD

Penokohannya terasa kuat dan konsisten. Jani, Rena dan Mona punya sifat, gaya dan pemikiran yang berbeda. Mereka tampil dengan karakter masing-masing dengan sama menonjolnya. Tapi tetap saja Jani yang paling nggemesin.

Saya selalu suka kejutan manis yang disiapkan Netty Virgiantini di bagian ending ceritanya. Selama membaca karya-karyanya, saya selalu mak nyes dan klepek-klepek di lembar-lembar terakhir. Meski saya juga sempat merasa takut akan ending tak terduga seperti yang pernah terjadi di novel Telaga Rindu. Namun yang pasti, sedih atau bahagia, selalu ada sentuhan manis yang membuat saya merasa jatuh cinta setiap selesai membaca. Saya memang lebih menyukai kisah yang manis dan sederhana, tanpa menonjolkan kemewahan, tanpa penampilan yang rupawan bak dewa, tanpa keromantisan berlebihan. Itu sebabnya saya selalu klik dengan novel Netty Virgiantini dan merasa puas usai membaca novel Three Women Looking For Love ini. Nyes banget rasanya :)

Kamis, 16 Maret 2017

[Resensi] Lelaki dalam Ingatan - Penny Jordan

Judul: Lelaki dalam Ingatan
Judul asli: Un Unforgettable Man
Penulis: Penny Jordan
Alih bahasa: Rina Buntaran
Sampul dikerjakan oleh: Marcel A. W
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Juni 2012 (cetakan keempat)
Tebal buku: 184 halaman
ISBN: 978-979-22-8519-2



BLURB

Bagaimana cara lelaki itu menuntut balas?

Pada usia enam belas tahun, Courage Bingham yang lugu dan tak berpengalaman merasakan sensasi menghanyutkan bersama seorang pemuda di rumah musim panas keluarganya. Namun sejak itu perasaan malu dan bersalah menyiksanya, bercampur kerinduan yang sama besarnya kepada orang asing yang tak dikenal dan tak dilihatnya itu.

Kini, Courage cemas indranya mempermainkannya. Gideon Reynolds, bos barunya yang tak kenal ampun dan beroman keras, dapat membangkitkan sesuatu dalam diri Courage seperti seseorang dalam ingatannya. Mungkinkah mereka orang yang sama? Dan, jika benar begitu, bagaimana cara Gideon menuntut balas atas “penipuan” Courage pada masa lalu?

RESENSI

Courage Bingham harus meninggalkan pekerjaannya yang menjanjikan demi menemani neneknya yang sakit. Hanya neneknyalah satu-satunya keluarga yang Courage miliki, karena ia tak mau lagi tinggal bersama ayah tiri dan saudari tirinya yang culas. Kini, Courage harus menemukan pekerjaan baru di kota kecil Dorset untuk membiayai operasi neneknya.
Siapa sangka pekerjaan yang didapatnya berkaitan dengan Gideon Reynolds, seorang chairman dan pemegang saham terbesar sebuah jaringan perusahaan berlaba tinggi. Pria yang keras, dingin dan tak kenal ampun. Pria yang membuat Courage teringat akan kenangan pada sebuah malam ketika ia masih belia dan naif.
Apakah Gideon adalah orang yang sama dengan lelaki yang ada dalam ingatan Courage? Apakah Gideon mengingat Courage? Dan apakah kenangan itu akan berakhir manis atau justru kembali menjadi mimpi buruk bagi Courage?

-------------------------

Seingat saya, saya pertama kali membaca Lelaki dalam Ingatan karya Penny Jordan ini ketika masih SMA. Well, jangan buru-buru menuding saya saat itu belum cukup umur untuk membaca novel dewasa. Bagi saya dewasa nggak harus berjalan lurus dengan bertambahnya umur. Toh, novel dewasa bukanlah buku atau video porno. Novel dewasa bukan hanya membeberkan cerita romance "kipas-kipas" semata, tapi justru mengajarkan kita akan akibat dan tanggung jawab atas perbuatan yang dilakukan tokohnya. Aahh... saya kok mulai melantur.

Pembaca setia review saya pasti tahu kalau saya adalah penggemar karya-karya Penny Jordan. Meski beberapa karyanya ada juga yang kurang sreg di hati saya dan saya rating di bawah tiga bintang. Namun untuk novel yang satu ini, saya dulu memberinya lima bintang. Maka tentu saja saat novel Lelaki dalam Ingatan ini dicetak ulang oleh Gramedia Pustaka Utama, saya pun ingin bernostalgia dengan novel yang saya nobatkan sebagai salah satu novel Penny Jordan terbaik versi saya.

Membaca lagi kisah ini dengan sudut pandang saya yang semakin matang dari belasan tahun lalu, rasanya saya masih tetap jatuh cinta pada Courage dan Gideon. Yah, bagaimana pun saya tetap penggemar kisah CLBK alias cinta buta yang bertahan bertahun-tahun yang menjadi pondasi novel Lelaki dalam Ingatan ini.
Penny Jordan memang penulis yang memiliki ciri khasnya sendiri. Tokoh heroinenya kebanyakan merupakan wanita tangguh, mandiri (terkadang hanya tinggal memiliki satu anggota keluarga yang mulai menua), kompeten dalam pekerjaannya, tapi lugu. Hingga kemudian tanpa sengaja bertemu dengan hero yang dingin, menjaga jarak dan lumayan jaim. ^^
Seperti itulah Courage dan Gideon.

Sayangnya nggak seperti karya-karya Penny Jordan yang lainnya, Lelaki dalam Ingatan nggak menuliskan seluk perasaan sang tokoh pria. Padahal, yang paling saya suka adalah ketika sudut pandang beralih pada sang hero sehingga saya bisa mengintip rasa frustasinya. Haha... Namun mungkin itulah yang membuat antiklimaks novel ini bikin saya mewek (lagi). Membaca novel kemudian nangis memang sudah biasa bagi saya, tapi membaca ulang dan masih tetap nangis itu luar biasa, kan? Saya cengeng, tapi juga nggak cengeng-cengeng amat kok. :p
Ketika Gideon akhirnya mendapat wangsit alias pencerahan alias fakta tentang masa lalu Corage dan betapa salahnya ia selama ini. Hueee... adegan di mana Gideon akhirnya mengakui semua perasaannya itu memang favorit saya sepanjang masa. Malah sepertinya saya mulai hapal dialognya di luar kepala. Oh.. Oh... :')

Dan seperti belasan tahun lalu saya kembali tenggelam dalam alur kisah hubungan Courage dan Gideon. Hanya saja kali ini saya merasa Courage terlalu baik dan mudah memaafkan. Dulu mungkin saya menganggap apa yang dilakukan Courage adalah cinta sejati, kini saya menganggap itu sebagai kepercayaan buta. Haha... Well, setelah disakiti begitu rupa, saya sih merasa keputusan yang diambil Courage itu terlalu cepat. Gideon juga jadi terlihat lebih egois dan mudah dituruti keinginannya.

Cover lama yang serupa cover aslinya 🙈🙈


Tapi tetap saja saya masih mencintai karya Penny Jordan yang satu ini. Dan omong-omong, covernya lebih cakep yang sekarang. Nggak memalukan kalau dibawa atau dibaca di depan umum, nggak seperti yang sebelumnya yang waktu bawa ke meja kasir saja malunya minta ampun. Hehe...
 

Nurina mengeja kata Published @ 2014 by Ipietoon