Pages

Jumat, 14 Agustus 2015

[Resensi: Telaga Rindu - Netty Virgiantini] Kerinduan yang Mebuncah di Telaga Sarangan


Judul Buku : Telaga Rindu
Penulis : Netty Virgiantini
Desainer : Sapta P Soemowidjoko & Lisa Fajar Riana
Penata isi : Yusuf Pramono
Penerbit : Grasindo
Tahun terbit : April 2014
Tebal buku : 161 halaman
ISBN : 978-602-251-488-6




BLURB

Setelah tiga bulan lamanya pergi tanpa kabar dan alasan yang jelas, Dipa tiba-tiba menghubungi Nala. Ia berjanji untuk datang menemui Nala di suatu tempat yang telah mengukir kenangan indah mereka berdua ketika menautkan hati.
Dalam suasana syahdu Telaga Sarangan, sepanjang hari Nala terbelenggu rasa resah dan gelisah. Menanti-nantikan saat ia dapat melihat kembali sosok yang selalu membayangi hari-harinya, dalam belitan rasa rindu yang selama ini coba diredamnya dalam diam.
Entah mengapa, tiba-tiba ada ragu yang terasa mengganggu. Menyelinap begitu saja bercampur keresahan dan kegundahan. Dalam luapan rasa suka yang sempat mencerahkan hati Nala, ada satu pertanyaan serupa firasat yang mengusik batinnya, sampai waktu menjelang tengah malam tiba.
Apakah Dipa akan menepati janjinya…?


RESENSI

Nala merasa ragu bercampur kesal saat ibu melarangnya memakai sweter warna hijau untuk dipakai saat outbound ke Telaga Sarangan. Betapa tidak, sweter hijau itu pemberian dari Dipa, kekasih hatinya, saat ulang tahunnya yang ketujuh belas. Tapi ibu dengan tegas melarang Nala memakainya dengan alasan tak jelas.
Padahal itu pemberian yang terakhir dari Dipa sebelum Dipa menghilang dari hidup Nala. Karena kasus korupsi yang menjerat bapaknya, Dipa merasa malu dan hijrah meninggalkan Magetan ke Surabaya. Meninggalkan Nala tanpa penjelasan apa-apa.
Pagi harinya saat Nala dan teman-temannya siap berangkat outbound, Imron, sahabat dekat Dipa, memberitahu Nala bahwa Dipa akan menyusul Nala ke Telaga Sarangan. Dipa diperkirakan akan sampai saat tengah malam selepas acara api unggun. Maka dimulailah kegalauan dan kegundahan Nala sepanjang hari itu. Rasa rindu setelah tiga bulan tak bertemu bercampur firasat yang mengganggu.
Akankah mereka bertemu? Apakah Nala tetap akan nekat memakai sweter hijaunya ke Telaga Sarangan?

----

Sungguh seru mengikuti kegalauan Nala selama sehari dalam novel ini. Plotnya rapi dan padat, jadi meski cerita berlangsung kurang lebih hanya dalam 24 jam rasanya sama sekali nggak membosankan. Justru beberapa kali saya senyum-senyum dan bahkan ngakak sendiri. XD
Dengan diksi yang memesona, saya terbawa arus dalam konflik batin Nala.

Suka banget dengan settingnya. Saya sendiri belum pernah ke Telaga Sarangan, tapi seperti sudah membentuk lokasinya di kepala berkat deskripsi dari penulis yang mendetail dan lengkap banget, sampai ke kelokan-kelokannya pun rasanya pernah saya lewati. Untuk deskripsi, saya benar-benar mengacungi jempol karena detailnya begitu jelas, terpampang nyata kalau kata Syahrini. XD
Dan Netty Virgiantini dengan cerdas menyelipkan beberapa mitos, legenda dan kearifan lokal dalam novel ini.

Telaga Rindu merupakan novel dengan banyak tokoh. Ada Bestari, Palupi dan Kinanti, sahabat-sahabat Nala yang hebohnya minta ampun. Ada pula Imron dan Charles, pujaan hati sahabat-sahabat Nala yang konyol. Belum lagi keluarga Nala dan keluarga Bestari yang ikut muncul. Jadi meriah banget suasananya.
Untuk karakter bapaknya Nala, entah kenapa kok yang terbayang adalah bapaknya Dudung di film kartun Si Dudung ya? Haha...
Mungkin karena medoknya dan lagaknya yang suka merayu ^^
Saya suka karakter Dipa yang tenang dan pendiam. Berasa cukup wise sebagai remaja belasan tahun. Lalu jadi geregetan karena pergi begitu saja tanpa memberi penjelasan apa-apa pada Nala. Ketidaksempurnaan Dipa itulah yang membuat novel ini membumi.

Desain sampulnya simpel tapi makna yang dikadungnya dalam banget. Setelah selesai membaca saya benar-benar bisa memahami gambar di sampul novel ini.

Saya tertawa dan terharu bersama novel ini. Sebagai perempuan yang pernah remaja saya bisa memahami kerisauan Nala dan keinginan kuat untuk tak mempercayai takhayul. Dan sebagai ibu, saya bisa memahami rasa protektif orangtua Nala, bahwa kadang firasat adalah alarm yang memang harus diwaspadai. Inilah yang saya dapatkan dalam novel Telaga Rindu.
Yang sedikit membuat saya mengerenyit hanyalah saat Nala berjalan sendirian menyusuri jalan gelap di tengah malam untuk mencapai tempat janjiannya dengan Dipa yang cukup jauh dari penginapan. Well, untungnya itu Nala, kalau saya jelas saya nggak akan mau. Bahaya kan gadis remaja jalan sendirian, malam-malam? Hehe…

Novel ini juga mulus karena minim typo, hanya ada dua kesalahan ketik yang saya temukan. Makanya membaca novel ini lancar jaya selancar jalan tol :))
Saya beri 4 bintang untuk Telaga Rindu, novel memikat yang telah mengaduk-aduk perasaan saya.


TEBAR-TEBAR QUOTE

Setiap orangtua punya cara mendidik dan aturan masing-masing dalam keluarga, tidak bisa diperbandingkan satu dan lainnya. (hal. 36)

"Mungkin itu yang namanya 'cinta itu buta', La! Sebuah perasaan yang kadang-kadang tak peduli apa pun selain ingin memiliki seseorang yang menggetarkan hatinya. Tak peduli untuk itu ia harus melewati tebing curam penuh onak dan duri yang membahayakan jiwanya." (hal. 80)

Ketika dua hati telah merasakan hal yang sama, memang tak perlu lagi dibutuhkan deretan kata-kata. Juga tak peduli lagi berapa banyak pulsa terbuang untuk sebuah komunikasi tanpa suara. (hal. 83)


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar