Kamis, 11 Agustus 2016

[Resensi] Di Tanah Lada - Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

Judul buku: Di Tanah Lada
Penulis: Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Editor: Mirna Yulistianti
Ilustrasi sampul dan isi: Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Agustus 2015
Tebal buku: 243 halaman
ISBN: 978-602-03-1896-7




BLURB

Namanya Salva. Panggilannya Ava. Namun papanya memanggil dia Saliva atau ludah karena menganggapnya tidak berguna. Ava sekeluarga pindah ke Rusun Nero setelah Kakek Kia meninggal. Kakek Kia, ayahnya Papa, pernah memberi Ava kamus sebagai hadiah ulang tahun yang ketiga. Sejak itu Ava menjadi anak yang pintar berbahasa Indonesia. Sayangnya, kebanyakan orang dewasa lebih menganggap penting anak yang pintar berbahasa Inggris. Setelah pindah ke Rusun Nero, Ava bertemu dengan anak laki-laki bernama P. Iya, namanya hanya terdiri dari satu huruf P. Dari pertemuan itulah, petualangan Ava dan P bermula hingga sampai pada akhir yang mengejutkan.

Ditulis dengan alur yang penuh kejutan dan gaya bercerita yang unik, sudah selayaknya para juri sayembara memilih novel Di Tanah Lada sebagai salah satu juaranya.

RESENSI

Ketika Kakek Kia meninggal, dan mewariskan banyak uang kepada Papa, kehidupan Ava, si gadis cilik berusia enam tahun, mulai bergerak menuju perubahan. Bukan perubahan yang baik, sayangnya. Papa justru malah memaksa Mama dan Ava pindah ke rumah susun yang kotor, kumuh dan bau. Papa juga berniat menjual rumah mereka. Hanya agar Papa bisa berjudi di rumah judi yang terletak di dekat rumah susun tersebut.
Di rumah susun itulah, Ava kemudian bertemu dengan seorang anak lelaki berusia sepuluh tahun yang selalu membawa gitar kecil. Mereka langsung akrab, walau P, nama anak lelaki itu, menganggap Ava anak yang aneh karena selalu bicara dengan bahasa yang baik dan benar. Merasa senasib karena memiliki Papa yang jahat dan suka membentak serta memukul, mereka menjadi sering bertemu.
Puncaknya ketika Papa Ava melakukan kekerasan, Mama pun pergi meninggalkan Papa bersama Ava. Mama berniat membawa Ava ke rumah adiknya dan bercerai. Tapi, Ava justru tidak mau. Pergi berarti meninggalkan rumah susun, padahal di rumah susun itu ada P. Siapa yang akan menemani P, jika Ava pergi? Maka Ava pun kembali ke rumah susun, dan merencanakan pergi berdua dengan P. Pergi ke rumah nenek yang tenang. Pergi ke tanah lada.

------------

Akhirnya terjawab sudah rasa penasaran saya terhadap novel yang menjadi salah satu pemenang sayembara novel yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta tahun 2014 ini. Sejak nama Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie yang unik mulai bersliweran di temlen goodreads, saya sudah bertekad untuk membaca novel ini.

Di Tanah Lada merupakan kisah tentang seorang anak perempuan berusia enam tahun yang kehidupannya cukup kelam. Papanya kejam dan jahat, sementara mamanya nggak terlalu berani melawan. Pertemuannya dengan P, seorang anak lelaki di sebuah rumah susun merubah arah hidupnya.

Novel ini cukup unik karena diceritakan dengan POV orang pertama, yaitu sudut pandang Ava. Gaya bertuturnya dibuat khas gaya bertutur anak-anak, yang kadang nggak runut dan hampir seperti meracau. Tapi bukan berarti mbleber kemana-mana, karena Ziggy selalu punya rem yang timingnya pas untuk memberhentikan ceracauan Ava. Kesan lugu kanak-kanak Ava tampak natural meski saya dibuat heran juga dengan jalan pikiran Ava.
Saat membaca novel ini saya sampai mengamati polah tingkah dan cara bercerita anak sulung saya. Yap, beberapa pembaca blog saya pasti tahu kalau putra sulung saya pun berusia enam tahun, sama seperti Ava. Dan ini yang membuat saya merasa betapa malang nasib Ava. Sebagai anak gadis yang pintar dalam hal bicara dan mengoleksi kata yang rumit, kemandirian Ava justru nol. Ava belum bisa makan ayam sendiri, belum bisa memisahkan tulang ikan sendiri, juga masih kesulitan mandi sendiri. Hmm...
Tapi saya akui kalau Ava memang sangat cerdas. Bayangkan seusia itu sudah membaca novel Agatha Christie dan ke mana-mana bawa kamus Bahasa Indonesia. Jika saya bandingkan dengan putra saya, yang terbilang kemampuan membacanya sudah di atas rata-rata dibanding teman sekelasnya, putra saya ini masih cukup kesulitan membaca kalimat panjang, tapi si Ava nggak ada hambatan sama sekali membaca kata-kata yang panjang dan sulit. Wow. (Gyaah malah ngebanding-bandingin anak, bisa digetok KPAI nih.. :p)
Saya merasa takjub juga terhadap mama Ava jadinya. Anak seusia itu lho, dijejeli novel Agatha Christie. Gyaaah... Berat sekali hidupmu, nak.

Sementara P tadinya saya anggap cukup dewasa karena jalan hidupnya pun tak kalah mengenaskan. Tapi rupanya usia sepuluh tahun tetaplah usia kanak-kanak yang polos dan penuh ketidakmengertian akan hal rumit. 

Di tengah membaca novel ini, seorang teman memperingatkan saya tentang ending novel ini. Cukup sederhana sih peringatannya: beware. Duh. Saya sudah sempat menangkap sinyal-sinyal atau tanda-tandanya sih sejak konsep tentang reinkarnasi mengemuka. Tapi... Itu tetap nggak mencegah saya untuk syok dengan endingnya. Astaga. Ngetwist banget. Tapi twist yang bikin saya speachless. Dan pengin teriak juga dalam waktu bersamaan. Hahahaha...
Entah saya mau mencak-mencak atau menerima keputusan yang diambil sang penulis, yang jelas saya terpana dan cuma bisa bengong.

Novel ini memotret bagaimana kanak-kanak mudah menggeneralisir suatu kejadian. Papa Ava jahat, papa P jahat, maka semua papa di dunia ini juga jahat. Duh, saya jadi pengin banyak ngobrol dengan putra saya. Sungguh, novel ini membuat saya benar-benar ingin menyelami jalan pikiran anak-anak saya.

Overall, saya suka gaya bercerita Ziggy dan merekomendasikan Di Tanah Lada. Kisah yang sungguh menakjubkan dan menguras emosi. Cukup membuat saya memandangi kedua putra saya lamat-lamat dan menebak, sebenarnya bagaimana cara mereka memandang dunia dari sisi perspektif mereka.

4 komentar:

dion_yulianto@blogspot.com mengatakan...

Wah mbak Ina sudah baca. Saya sudah beli lama tapi mau baca rada malas karena udah dibocorin endingnya sama sebuah ulasan di Goodreads hiks. Tapi, buku bagus tetap harus dibaca bukan begitu? Baiklah. Nice review, mbak.

nurina widiani mengatakan...

Aahhh mas juragan timbunan belum baca ternyata. Wkwkwk~ untung aku belum ngecek review goodreads. Cuma lihat rating aja :))))
Baca deh masdi, bagus kok.

PUTRI SIPAYUNG mengatakan...

duhh jd pengen baca bukunyaaa. tapi kalau toko buku di kotaku kurang lengkap kak. bisa rekomendasi beli buku via online? Trims :)

nurina widiani mengatakan...

Kalo beli buku online bisa di bukabuku atau bukukita. Atau kalo beli ebook coba di scoop. Selamat berburu buku yaa :)

Posting Komentar

 

Nurina mengeja kata Published @ 2014 by Ipietoon