Sabtu, 21 Januari 2017

[Resensi] Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi - Yusi Avianto Pareanom

Judul buku: Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi
Penulis: Yusi Avianto Pareanom
Penata artistik dan penyelaras bahasa: Ardi Yunanto
Penata tipografi dan ilustrator ikon: Cecil Mariani
Pelukis sampul: Hartanto 'Kebo' Utomo
Penerbit: Banana
Tahun terbit: Maret 2016
Tebal buku: 450 halaman
ISBN: 978-979-1079-52-5



BLURB

SUNGU LEMBU menjalani hidup membawa dendam. Raden Mandasia menjalani hari-hari memikirkan penyelamatan Kerajaan Gilingwesi. Keduanya bertemu di rumah dadu Nyai Manggis di Kelapa. Sungu Lembu mengerti bahwa Raden Mandasia yang memiliki kegemaran ganjil mencuri daging sapi adalah pembuka jalan bagi rencananya. Maka, ia pun menyanggupi ketika Raden Mandasia mengajaknya menempuh perjalanan menuju Kerajaan Gerbang Agung.

Berdua, mereka tergulung dalam pengalaman-pengalaman mendebarkan: bertarung melawan lanun di lautan, ikut menyelamatkan pembawa wahyu, bertemu dengan juru masak menyebalkan dan hartawan dengan selera makan yang menakjubkan, singgah di desa penghasil kain celup yang melarang penyebutan warna, berlomba melawan maut di gurun, mengenakan kulit sida-sida, mencari cara menjumpai Putri Tabassum Sang Permata Gerbang Agung yang konon tak pernah berkaca—cermin-cermin di istananya bakal langsung pecah berkeping-keping karena tak sanggup menahan kecantikannya, dan akhirnya terlibat dalam perang besar yang menghadirkan hujan mayat belasan ribu dari langit.

Meminjam berbagai khazanah cerita dari masa-masa yang berlainan, Yusi Avianto Pareanom menyuguhkan dongeng kontemporer yang memantik tawa, tangis, dan maki makian Anda dalam waktu berdekatan—mungkin bersamaan.


RESENSI

Tak ada senjata yang lebih tajam ketimbang akal, tak ada perisai lebih ampuh ketimbang nyali, dan tak ada siasat yang lebih unggul ketimbang hati. (hlm. 84)

Saya menghabiskan waktu dua minggu untuk membaca Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi, bukan karena bukunya membosankan atau berat, tapi karena saya merasa sayang kalau buru-buru menghabiskannya. Sejak awal saya sudah jatuh cinta pada Sungu Lembu, baru tiga halaman pertama saja Sungu Lembu sudah beberapa kali mengumpat "anjing!", belum lagi berbagai sumpah serapah semacam kadal kopet, jangkrik , babi, tapir buntung, dan masih banyak lagi. Meski memang anjinglah yang paling sering disebutkan oleh Sungu Lembu. Aneh tentu saja, kenapa ia tak mengumpat memakai namanya sendiri yang juga mengandung unsur binatang. Lembu!

Saya rindu kisah semacam Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi. Sebagai penikmat cerita kolosal, membaca buku ini bagai menemukan surga, karena Raden Mandasia bukan hanya kisah tentang pertarungan dan dendam saja, tapi merupakan petualangan panjang yang dikemas dengan kekayaan. Kaya akan sumpah serapah, jelas. Kaya akan korban yang bergelimpangan dan berlumur darah, niscaya. Kaya akan kuliner yang bikin perut langsung keroncongan dan liur dleweran, pastinya. Kaya akan dongeng/legenda/kisah dari berbagai negara dan sumber, iyap. Kaya akan bumbu seksual, hei ya iya to ya!* Kaya akan filosofi bila direnungkan dalam-dalam, sudah tentu.

Dan selayaknya cerita kolosal, buku ini menghadirkan puluhan tokoh yang datang dan pergi, ada yang selintas lewat ada yang bertahan dari awal hingga akhir. Namun kepiawaian Yusi Avianto Pareanom dalam bertutur membuat semua tokoh membekas dan mudah diingat. Detail perawakan dan sifat para tokoh dideskripsikan dengan begitu uniknya.
Sebagai orang Jawa saya paham bahwa Mandasia adalah nama salah satu pawukon, tapi saya nggak menyangka kalau keseluruhan pawukon digunakan sebagai nama anggota keluarga Raden Mandasia. Mulai dari Prabu Watugunung, Dewi Sinta dan Dewi Landep, hingga Mandasia bersaudara yang semuanya berjumlah 27 pangeran yang terdiri dari 13 pasang pangeran kembar dan satu pangeran bungsu. Nama-nama pawukon sendiri menurut kisah Jawa lama berasal dari suatu kerajaan yang dipimpin raja Watugunung dan permaisurinya Dewi Sinta beserta 28 putranya.
Cukup terhibur juga karena wuku saya, wuku Kurantil yang diwakili oleh Raden Kurantil, salah satu kembar sulung, punya porsi yang cukup banyak di bab Perang Besar. 😷😷
Namun bukan hanya kisah awal pawukon ini saja yang muncul dalam buku sastra yang menjadi pemenang Khusala Sastra Khatulistiwa 2016 ini, tapi ada juga kisah tentang pembawa wahyu, kakek pembuat boneka kayu, sang koki yang terikat perjanjian dengan majikan, dan tentunya perang yang serupa perang baratayudha, hingga kejutan spesial yang ternyata disiapkan Yusi Avianto Pareanom di penghujung bukunya.

Dikisahkan dari sudut pandang orang pertama, justru Sungu Lembu-lah yang menjadi tokoh sentralnya. Dengan gayanya yang koplak, cerewet, dan sedikit songong, Sungu Lembu membawakan kisah ini dengan jatmika. Gayanya memang nggak seselengekan Wiro dalam Wiro Sableng, nggak juga sehalus Agung Sedayu dalam Api di Bukit Menoreh, nggak seberwibawa Angling Dharma, dan nggak sesakti Arya Kamandanu dalam Tutur Tinular, tapi Sungu Lembu mudah untuk disukai. Tutur katanya yang blak-blakan dan kesialan yang sering ia temui terasa menghibur dan membuat perjalanan ratusan halaman ini begitu renyah.
Buku ini menggunakan alur campuran, kadang maju, kadang mundur, dan terkadang semakin mundur lagi. Namun toh, karena kepiawaian Yusi Avianto Pareanom, alur bukanlah kendala untuk memahami jalan cerita. Bahkan saya dibuat terjebak dan tersesat dalam narasinya yang bergelimang kosakata klasik. Settingnya pun seolah ada dan tiada, saya berusaha menghindari membayangkan Kepulauan Rempah sebagai Nusantara, tapi toh akhirnya gagal. Namun meski demikian, Kerajaan Gilingwesi tetaplah sebuah kerajaan yang di benak saya nggak bisa saya samakan dengan salah satu kerajaan lama di Nusantara. Gilingwesi adalah Gilingwesi.

Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi memang menyajikan cerita dewasa. Bukan sekali dua kali saja Sungu Lembu melakukan hubungan badan dengan beberapa wanita. Dan jangan lupa pesta cerrr-ke-cehhh yang fenomenal yang membuat seorang teman mengumpat menirukan Sungu Lembu, "Jagat dewa batara!" Hahahahanjing...
Kemudian tentu saja kesadisan dan kekejaman dalam pertarungan kecil maupun pertempuran besar yang dilewati Sungu Lembu dan Raden Mandasia mungkin bisa membuat mual. Beberapa memang terasa sadis bagi saya yang hatinya begitu halus dan mudah terenyuh ini. #ngek

Berat rasanya bagi saya mengakhiri membaca Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi ini. Apalagi mendekati penghujung kisah saya merasa masygul saat sebuah rahasia terungkap. Termangu beberapa saat dan mengelus dada, jadi inilah akhir kisah perjalanan Raden Mandasia, Raden Sungu Lembu dan Prabu Watugunung. Kisah perjalanan dua orang melalui aral dan tantangan dengan niat dan tujuan masing-masing. Dalam babak Perang Besar, apa yang pernah diungkapkan paman Banyak Wetan terasa benar adanya.
Hingga tibalah di bagian favorit saya dari sebuah buku, epilog. Dan kejutan yang diberikan penulis kali ini bikin saya senyum-senyum dan merasa bahwa akan selalu ada pelangi bahkan seusai kita menempuh badai... badai puluhan ribu kematian yang darahnya memerahkan Gerbang Agung.
Yang muncul di benak saya kemudian adalah, Raden Mandasia yang konon menggemari daging sapi itu, pada akhirnya berpetualang dan mencuri daging sapi bersama sapi (lembu) pula. Entah hal itu disadari Mandasia dan Sungu Lembu atau tidak.
Yang jelas yang niscaya hanya satu hal... kalian harus baca buku anjing keren ini!


Note:

* logat Banjaran Waru yang digunakan Nyai Manggis untuk meyakinkan Sungu Lembu.

1 komentar:

Ridu mengatakan...

Jadi makin penasaran sama buku ini

Poskan Komentar

 

Nurina mengeja kata Published @ 2014 by Ipietoon